
*
*
Nira mengerutkan bibirnya, terdiam di pojok ruangan, seolah tersisihkan, tapi nyatanya dirinyalah yang memisahkan diri. Ia sudah melawan egonya, tapi ia merasa sangat bersalah ketika berhadapan dengan Asta.
Ia tidak nyaman, merasa tidak enak karena mementingkan egonya selama satu Minggu ini. Meskipun selama satu Minggu ia tidak pernah absen melihat Asta dari kejauhan, tapi tetap saja ia merasa dirinya keterlaluan.
Lagipula, dirinya dulu diselamatkan olehnya. Jadi, meski ia enggan mengakui di permukaan, ia tetap mengakui di hatinya jika selama ini kasih sayang Asta melebihi kasih sayang kakak sepupunya yang dulu.
Tapi perasaan ditipu ini, sangat nyata. Dan perasaan tersebutlah yang menghalanginya melakukan hal-hal terkait Asta sekarang.
Asta sendiri belum sadar akan kehadiran Nira, karena sedari awal ia hanya fokus pada Xabiru. Kakek Xabiru dan Hana juga tidak sadar jika kini Nira menyisihkan dirinya sendiri di pojok ruangan.
Tapi Xabiru berbeda, ia sadar akan kehadirannya sejak awal. Ia juga memastikan keadaannya dari waktu ke waktu sejak ia bangun. Kemudian setelah Asta kembali ke tempat tidur, barulah Xabiru memanggilnya.
"Kemarilah." Ucap Xabiru, menatap Nira yang kebetulan sedang menatapnya. Xabiru juga menunjukkan senyum kecil padanya, yang jarang sekali ia tunjukkan pada Nira.
Biasanya, Xabiru selalu berwajah datar dan dingin. Tapi meski begitu perhatiannya tetap ada. Ia hanya berwajah hangat dan memasang tatapan lembut pada Asta, dan hal ini juga sangat di dukung Nira.
Lalu kini, tiba-tiba Nira melihat senyum kecil di wajah Xabiru, mau tak mau, perasaan Nara tersentuh, air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. Tapi yang tidak Nira lebih sangkakan adalah kedatangan Asta ke area pojok di mana Nira terdiam.
Sebelum Asta benar-benar naik, ia akhirnya sadar jika Nira ada di sana. Dan ketika Xabiru berucap, Asta sendiri sudah memperhatikan Nira. Alhasil, disinilah ia sekarang. Asta memeluk Nira, dan Nira yang sedang menahan tangis, kini langsung pecah di pelukan Asta.
Gantian, bukan Asta yang menangis, tapi Nira. Terisak kerasa seraya meminta maaf karena sudah tidak tahu diri. Meminta maaf karena sudah tidak memedulikan Asta, dan meminta maaf karena sudah egois, padahal dari awal yang menyambutnya memang Asta.
__ADS_1
Dokter dan Suster yang baru saja masuk tertegun menatap Asta dan Nira di pojok ruangan. Bahkan Dokter menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tapi kakek Xabiru dan Hana dengan cepat mengarahkan dokter agar memeriksa keadaan Xabiru lebih dulu, baru Asta setelahnya.
Tentu setelah masalah antara Asta dan Nira selesai. Akan ada cukup waktu sampai keduanya merasa tenang dan berbaikan. Apalagi Xabiru memang banyak pemeriksaan setelah operasinya.
*
3 hari berlalu, situasi dan keadaan berangsur-angsur menjadi lebih baik. Perkembangan hubungan antara Xabiru, Asta, dan Nira juga sudah kembali hangat seperti sedia kala.
Bahkan Asta, sudah sepenuhnya sehat, dan kini sedang berbaring di samping Xabiru. Tidak ada adegan memeluk, karena Asta takut memengaruhi luka-lukanya. Meski ia sudah memberi air ajaib selama tiga hari ini, tapi Asta tetap berhati-hati menjaga Xabiru tetap aman.
Dengan dua tempat tidur rumah sakit yang disatukan, Asta berbaring menyamping, menatap wajah terlelap Xabiru. Xabiru dalam keadaan telentang karena luka-lukanya.
Sungguh sebuah anugerah, Asta bisa berada di posisi sekarang. Teramat bersyukur, meski dulu ia sangat kesakitan. Xabiru ada, bahkan keluarga lainnya. Ia bahagia, dan ia sangat berterimakasih pada Tuhan yang sudah memberinya kesempatan besar.
"Terimakasih." Bisik Asta seraya tersenyum tulus.
Bukan hanya goresan dan sobekan, tapi juga ada 3 bagian yang tertembak. Dan operasi kemarin dilakukan karena peluru masih bersarang di tubuhnya. Operasi dilakukan untuk mengambil peluru yang bersarang di daerah paha, bahu, dan dada.
Yang paling serius ada di dada, tempat paling beresiko karena dekat dengan organ vital. Tapi untungnya, tidak benar-benar mengenai orang vitalnya, jadi Xabiru masih dalam tahap aman meski penyembuhannya akan lebih lama meski diiringi air ajaib yang setiap hari diminumkan. Meringis, Asta tidak rela melihat luka-luka tersebut.
Luka didapatkan ketika Xabiru sedang memburu keluarga paman pertamanya. Setelah dua hari Xabiru menenangkan diri, Clode dan K1 mengabari Xabiru perihal penemuan tempat dimana keluarga paman pertamanya ada.
Yang tidak disangka, paman pertamanya malah berada di kabupaten dan bukan luar negara. Sungguh mengejutkan.
Xabiru juga tidak menunda waktu kala itu, dan langsung pergi mengintai paman pertamanya. Setelah mengintai selama 4 hari lamanya, di hari ke lima, Xabiru akhirnya turun tangan dengan Clode dan K1.
__ADS_1
Tapi tidak disangka, semuanya ketahuan, paman pertama meninggal, tetapi anaknyalah yang 3 tahun lebih tua dari Xabiru yang berhasil melukai Xabiru dengan parah. Xabiru juga sedang tidak fokus ketika ia tertembak tepat di paha, bahu dan Dadanya.
Tidak fokus karena sebelum dirinya ditembak, semua orang yang ikut menyergap sudah berjatuhan dan terluka. Fokusnya terpecah, Clode, K1, bahkan K2, dan K3, semuanya tumbang.
Dan anak dari paman pertamanya, yang Xabiru kira sudah tidak bernyawa, ternyata hanya sekedar pingsan. Akhirnya, terjadilah. Xabiru lengah, dan dimanfaatkan kesempatan tersebut oleh anak paman pertamanya.
Lalu bala bantuan datang, yakni Dean yang sebetulnya memantau, tapi sempat tersendat dan terhalang oleh banyak hal sebelum akhirnya menemukan keadaan gawat tersebut.
Begitulah, setidaknya itu yang di dengar Asta dari Xabiru dan Dean. Jadi, selain Xabiru yang terluka parah, ada Clode yang juga tertembak di daerah perut. K1 tertembak di daerah yang sama dengan kaki Xabiru, yakni paha. Sisanya adalah luka goresan dan pukulan yang membuat wajah berdarah, bahkan muntah darah.
Hanya Clode satu-satunya yang belum sadar sampai sekarang. Karena selain di perut, ia mendapat tusukan pisau di punggung. Kehilangan terlalu banyak darah. Sedangkan yang lain, sudah berangsur membaik dan bahkan beberapa sudah pulang, kembali ke markas.
Sisa dari keluarga paman pertama juga langsung di tangani oleh pimpinan polisi yang waktu itu dihubungi Xabiru di ibukota. Meski paman pertamanya tidak bernyawa, tapi anggota yang lain ternyata juga ikut andil dalam hal-hal buruk yang terjadi di keluarga Alexander. Alhasil semuanya ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Ada hukuman seumur hidup, dan paling sedikit adalah hukuman 1 tahun penjara. Hukuman 1 tahun jatuh pada para pembantu kediman pamannya karena menutupi segala kejahatan besar keluarga pamannya.
Juga, ada satu orang yang tidak terdampak hukuman. Adalah keponakan sepupu Xabiru. Anak dari anak paman pertamanya yang berusia 3 tahun lebih tua darinya. Ia juga masih berumur 7 tahun dan tidak tahu apa-apa tentang kejatahan yang dilakukan keluarganya.
Anak pertama paman pertama adalah orang yang sama yang mengirim orang ke kampung, dimana Xabiru tinggal tempo hari. Ia sudah bergerak sejak itu, dan tidak pernah meninggalkan Xabiru sendirian. Jadi ketika akhirnya keluarga Alexander hancur, mereka sudah melarikan diri karena ia tahu informasi lebih awal ketika memata-matai Ayah Xabiru.
Selain tidak meninggalkan Xabiru sendirian, anak paman pertama juga tidak melepaskan Ayah Xabiru. Alhasil terjadilah kejadian penuh darah tersebut.
"Kau bangun?" Tanya Asta seraya tersenyum lembut.
"Hmm." Balas Xabiru tak kalah lembutnya, dengan raut hangat khas bangun tidur.
"Tunggu lima menit, setelah itu kita makan, lalu minum obat." Ucap Asta seraya mengusap kepala Xabiru.
__ADS_1
*
*