Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Masih Belum Terlambat


__ADS_3

*


*


Begitu membuka mata, Asta merasakan pusing hebat, menahan dan menguatkan diri, sampai akhirnya ia bisa menanggung rasa sakit tersebut dan matanya terbuka sepenuhnya.


Xabiru tertidur di samping dalam keadaan duduk. Kepalanya berada di atas tempat tidur, dan kedua tangannya menggenggam tangan Asta, tepat berada di hidung Xabiru. Asta sendiri bisa merasakan hembusan nafas teraturnya.


Asta tersenyum kecil, meski matanya menyipit karena menahan rasa sakit, tapi begitu melihat Xabiru, perasaan bahagia membuncah begitu saja.


Ia rindu Xabiru.


Dua Minggu terasa seperti dua tahun bagi Asta. Meski ketika bersama Xabiru Asta selalu memarahi dan mengomelinya, tapi ketika jauh, ia tidak bohong bahwa dirinya memang kesepian tanpa adanya Xabiru.


Asta menggerakkan jari tangan yang ada di genggaman Xabiru, berniat membangunkannya. Xabiru mungkin sudah lama tertidur dalam posisi seperti itu. Asta sendiri pernah merasakannya, dan posisi tersebut sangat tidak baik. Ketika bangun, bukan hanya lehernya yang sakit, tapi pinggang dan punggungnya juga.


Jadi, Asta enggan membuat Xabiru merasakan apa yang dirasakannya beberapa waktu lalu ketika dirinya menunggui Xabiru di rumah sakit.


Merasakan pergerakan, Xabiru akhirnya bangun dengan gugup dan panik. Jelas ia masih belum mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, tapi ia langsung menatap Asta yang kini memberikan tampilan senyum lembut padanya.


"Sayang?" Gumam Xabiru dengan suara serak tertahan. Selain terlihat gugup, dan panik, Xabiru juga terlihat menahan tangis, keduanya matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku disini." Balas Asta dengan suara pelan. Pelan sekali, tetapi karena ruangannya sunyi, Xabiru dengan jelas mendengarnya.


"Kau benar-benar? Aku, a-aku merindukanmu..."Lirih Xabiru langsung menciumi tangan yang masih berada di genggaman kedua tangannya. Air mata yang sejak awal ditahan juga sudah menetes, bahagia karena akhirnya Asta bangun.


"Jangan menangis, aku baik-baik saja." Ucap Asta seraya tersenyum lembut. "Maaf membuatmu khawatir." Lanjutnya.


Xabiru menggelengkan kepalanya, melarang Asta meminta maaf. Karena disini, justru dirinyalah yang harus disalahkan, ia seharusnya tidak menyuruh Asta menyamar ke keluarga Baskoro. "Aku yang minta maaf, aku salah, sayang... Aku salah telah mengirimmu ke sana." Ucap Xabiru.

__ADS_1


"Aku yang meminta, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ugh!" Ucap Asta yang langsung memejamkan mata, ketika kepalanya merasakan perasaan bagai ditusuk ribuan jarum.


"Sakit? Kau baik-baik saja? Aku lupa memanggil dokter. Maaf, tunggu sebentar oke." Ucap Xabiru yang langsung berdiri, ia menekan tombol merah di samping tempat tidur Asta dengan cepat.


Setelahnya, tangannya dengan lembut dan hati-hati mengusap air mata yang menetes dari mata Asta. Asta menahan rasa sakit, jadi ia menangis. Xabiru sendiri hanya bisa bertanya dengan khawatir selagi menunggu dokter datang.


"Aku baik-baik saja." Lirih Asta dengan senyum lembut.


Xabiru makin panik, matanya ikut berkaca-kaca melihat kondisi Asta. Asta bilang tidak apa-apa, tapi nyatanya ia tersenyum dengan air mata yang tidak berhenti menetes.


"Menangis saja, oke? Jangan tersenyum, aku tahu kau kesakitan." Ucap Xabiru tidak berdaya, menatap wajah pucat istrinya yang masih saja sok kuat di hadapannya.


Menatap wajah tidak berdaya Xabiru, Asta akhirnya memejamkan mata dan menangis sungguhan, tidak lagi menahan tangisnya sampai beberapa air mata lolos.


"Sakit sekali, sayang... sakit." Desis Asta, kedua tangannya mencengkeram lengan Xabiru, membuat Xabiru menahan nafas.


Ia tidak bisa tenang, tapi ia tidak berani bergerak karena Asta mencengkeramnya dengan kuat. Membiarkan Asta melampiaskan rasa sakitnya, tanpa peduli jika lengannya sendiri kesakitan.


Setelah beberapa saat, Dokter hanya bisa menyuntikkan obat penenang dan obat penghilang rasa sakit atas persetujuan Xabiru.


"Bagaimana?" Tanya Xabiru cemas.


"Tidak apa-apa, wajar karena sebelumnya benturannya cukup keras, ditambah rasa sakit bekas jahitan. Beruntung Nona Asta tidak menunjukkan gejala kehilangan ingatan." Jelas Dokter seraya mengangguk. "Tunggu nona Asta sadar, semuanya akan lebih baik. Rasa sakit tadi juga akan banyak berkurang." Lanjutnya.


Kemudian pergi meninggalkan Xabiru yang menghembuskan sedikit nafasnya. Merasa lega karena Asta akan baik-baik saja ketika ia bangun lagi nanti. Juga lega, karena benturan kepala sebelumnya di desa, tidak memengaruhi benturan kali ini.


Air yang dipakai untuk menyembuhkan dulu sangat bagus. Tidak ada gejala sisa yang bisa saja membuat Asta lebih kritis dari sekarang. Sepenuhnya sembuh, dan Xabiru sangat lega.


"Ugh, aku bahkan lupa jika kami punya air yang bisa menyembuhkan." Keluh Xabiru, menyalahkan dirinya sendiri yang bisa-bisanya lupa saking khawatirnya dengan Asta yang kesakitan barusan.

__ADS_1


Xabiru mengangkat tangannya, dan mengusap pipi Asta lembut. "Cepat sehat, sayang. Aku masih belum memberitahumu tentang bayi kita." Ucapnya pelan, dengan sedikit senyum tersungging. Kemudian mengecup dahi Asta penuh sayang.


Tok! Tok!


"Tuan muda?" Panggil Clode, yang langsung melongokkan kepalanya begitu selesai mengetuk pintu.


Xabiru menegakkan tubuhnya, kemudian berjalan menghampiri Clode yang berdiri di depan pintu masuk, tidak berniat masuk lebih jauh.


"Ada apa?" Tanya Xabiru.


"K1 berhasil menghasut para pemegang saham. Juga, saham perusahaan Unind yang dijual secara umum telah berhasil dibeli. Saat ini, Tuan muda telah menjadi pemegang saham nomor 2 di perusahaan Unind." Jelas Clode seraya menyerahkan dokumen pada Xabiru.


K1 menggantikan Xabiru segera setelah dirinya menunggui Asta di rumah sakit sejak kemarin. Dan K1 langsung melanjutkan tugas tersisa yang sedang Xabiru jalani, yakni menggaet para pemegang saham lainnya.


Clode sendiri ditugaskan mencari tahu pemilik saham lain yang dijual secara umum, dan ialah yang bertugas membeli saham-saham tersebut. Sangat mudah, karena kemarin Xabiru langsung memerintahkan K2 meluncurkan berita perselingkuhan Mertua dan Menantu. Selain itu, pertengkaran yang berdarah juga tidak ketinggalan Xabiru luncurkan beritanya.


Harga saham anjlok, jadi Clode tidak perlu susah payah membujuk orang yang memegang saham di luar. Karena mereka sendiri bahkan dengan sukarela menjualnya padanya.


"Bagus, bagaimana tanggapan Eddin dan asistennya?" Tanya Xabiru.


"Mereka berdua masih mengusahakan kepemilikan atas perusahaan. Tapi karena dirinya kini menjadi pemegang saham no 3, ia hanya bisa menunggu Sintia sadar dan membuat Sintia berada di pihaknya. Karena Sintia masih tetap menjadi pemegang saham utama." Jelas Clode.


"Awasi pergerakan mereka. Terutama Eddin. Jaga Sintia dan bayinya yang berada dalam perawatan intensif tetap aman, karna aku yakin, untuk merebut saham, Eddin bisa saja nekat dan menghalalkan segala cara. Misal dengan membunuh Sintia atau bayinya yang masih terbaring di rumah sakit." Ucap Xabiru setelah menganggukkan kepala, memahami situasi dari Clode.


"Baik Tuan muda. Apa yang harus dilakukan selanjutnya?" Tanya Clode.


"Ajukan rapat! Rapat umum pemegang saham, dan pemecatan Eddin dari perusahaan. Tanpa Sintia, kita bisa memenangkan perusahaan. Lalu urusan Sintia, tunggu dia sadar, masih belum terlambat untuk berurusan dengannya." Ucap Xabiru dengan tatapan dingin.


*

__ADS_1


*


__ADS_2