Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Mengobrol sebagai Ayah dan Anak


__ADS_3

*


*


"Tidak, aku setuju tentang pembuatan tempat kremasi disini agar tidak ada orang yang mencurigai kita nantinya, karena sangat beresiko meng kremasi di tempat umum. Lalu, masalah ditaburkan di tempat tinggal, aku rasa kita hanya harus membangun makam saja. Kuburkan semua abu di tempat pemakaman. Dirikan papan batu nisan yang telah ditulisi nama semua orang. Mirip dengan pemakaman orang banyak, yang disatukan." Jelas Asta, menjawab ucapan Xabiru. Dan menambahkan idenya.


"Ah, baiklah. Karena mungkin ada beberapa orang yang tidak ada identitasnya kan? Baiklah begitu saja. Lalu setelah dibuat makam, mari kirim surat pada orang-orang yang menjadi keluarganya. Jadi mereka bisa datang saja ke sana, bagaimana?" Tanya Xabiru.


"Setuju! Tapi, bisakah mereka tidak memprotes apa yang terjadi pada keluarganya?" Tanya Asta dengan raut ragu.


"Tidak akan ada yang berani. Karena orang yang bekerja dengan Alexander sudah menandatangani kontrak perjanjian. Yang termasuk di dalamnya adalah nyawa orang yang bekerja milik Alexander. Bayarannya juga bukan main besar, jadi jika mereka tahu perihal kontrak, mereka tidak akan melakukan hal bodoh. Justru mereka akan berterimakasih karena dibangunkan makam. Sebelumnya tidak ada hal seperti ini, orang-orang yang mati, hilang saja tanpa ada kabar apapun." Jelas Xabiru lagi.


Asta menepukkan kedua tangannya sekali, kemudian mengangguk kepala. "Kalau begitu, mari lakukan seperti yang kau bilang saja." Ucapnya setuju.


Meski dalam hati, merasa tidak nyaman karena keluarga besar ini ternyata begitu kejam. Bahkan nyawa orang pun diinginkan. Yah, meski orang-orang ini datang dengan sukarela, Asta pikir bukan tidak mungkin banyak yang dipaksa juga.


Hanya saja, tidak sangka keluarga besar Alexander sampai sebegininya pada orang di bawah. Benar-benar memperlakukan orang di bawahnya dengan sangat buruk dan semena-mena.


Asta menghela nafas berat, "Ayo keluar dulu. Pungut mayat lainnya dan selesaikan masalah yang tersisa di kediaman besar keluarga Alexander. Ah! Aku bahkan melupakan Clode! Astaga, sayang, aku ternyata baru ingat, kita menghilang di depan Clode!" Pekik Asta panik. Ia menatap Xabiru dengan tatapan bertanya, bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut pada Clode nantinya.


"Biar aku yang urus, tidak apa-apa. Tenang saja. Clode tidak akan berani mempertanyakan, meski penasaran ia akan menyimpannya sendiri." Ucap Xabiru seraya tersenyum. "Ayo keluar dulu, meski sudah beberapa jam disini, di luar mungkin hanya 1 sampai 3 menit saja. Waktu disini lebih cepat." Ucap Xabiru.


Kemudian keduanya dengan cepat mengganti baju, saling berpegangan tangan dan keluar bersamaan. Tepat di belakang Clode yang sedang berteriak, memanggil keduanya dengan panik.

__ADS_1


"Clode, kami disini!" Ucap Xabiru setelah berdehem singkat.


"Tuan muda, kau akhirnya kembali!" Ucap Clode merasa lega karena kembali melihat Xabiru dan Asta. Apalagi tampilan Xabiru terlihat bugar dan bersih.


Clode merasa sangat aneh. Penasaran dan ingin bertanya banyak hal. Tapi ia sadar posisi, bukan hak nya menanyakan banyak hal pada majikan. Meski ia sudah bersama sejak Xabiru kecil, tapi ia tetap hanya seorang bawahan.


Terlebih, melihat Xabiru sehat, sudah lebih dari cukup untuk Clode. Itu artinya, penyelamatan juga berhasil bukan? Ya, begitu saja.


"Bagaimana situasinya?" Tanya Xabiru.


"Semuanya dalam kendali kita. Para penjaga yang melawan berangsur kalah, aku rasa mungkin tinggal orang-orang di atasnya yang masih harus kita urus." Ucap Clode serius.


Asta melambaikan tangannya, membuat perhatian kedua orang di depannya teralih. "Tidak perlu, aku sudah membereskannya. Ayo perintahkan yang lain untuk membersihkan tempat ini saja." Ucap Asta.


"Ya, sebelum aku datang menyelamatkanmu, aku sudah lebih dulu ke atas membuat yang tua-tua kalah. Ada yang mati ada yang dibuat pingsan." Ucap Asta. Lalu ia mendekatkan bibirnya pada telinga Xabiru, membuatnya berjinjit. "Kau juga lihat ada beberapa Mayat di dalam ruang, tidakkah kau lihat ada Mayat dari penatua keluargamu juga?" Tanyanya lagi, berbisik.


"Ugh, aku tidak terlalu memperhatikan. Lagipula, mereka ditumpuk jadi satu, siapa yang akan tahu ada orang penting di sana, kepala orang-orang ini juga tidak kelihatan karena tertindih satu sama lain." Balas Xabiru berbisik.


Clode berdehem singkat. Menginterupsi keduanya agar dengan cepat memberi perintah. Ia juga tidak berani lagi meragukan Asta setelah dirinya menghilang dan muncul lagi dalam sekejap di depan matanya.


Keduanya terinterupsi, kemudian menatap Clode dengan canggung. "Baiklah, sesuai yang dikatakan Asta. Bersihkan tempat." Titah Xabiru, yang langsung membuat Asta menimpali. "Kumpulkan mayatnya dalam satu ruangan." Ucapnya.


Setelah paham menerima perintah, Clode kemudian pergi meninggalkan Asta dan Xabiru berdua di lorong. Asta melihat mayat pimpinan penjaga di sampingnya, ia kemudian mengambilnya masuk ke dalam ruang.

__ADS_1


"Ada hal yang harus aku tunjukkan padaku, ayo ikut aku ke atas." Ucap Asta menatap Xabiru, yang terlihat kebingungan. "Ikuti aku dulu saja. Selain hal penting, ada orang yang ingin bertemu denganmu juga." Lanjut Asta seraya tersenyum.


Kemudian Xabiru mengangguk dan keduanya berjalan beriringan ke atas. Lebih tepatnya mengikuti Asta yang menarik tangannya lembut agar mengikutinya.


Sampai akhirnya keduanya sampai di depan salah satu pintu ruangan yang terlihat sangat familiar di mata Xabiru. Xabiru menarik tangan Asta pelan, membuat Asta menghentikan tangannya yang hendak memutar knop pintu. Berbalik dan menatap Xabiru dengan tanya.


"Kenapa kau membawaku kemari? Dia masih ada di dalam?" Tanya Xabiru, terdengar nada benci di dalamnya, tapi tidak ditunjukkan dengan jelas sebab Asta yang ada di depannya.


"Kau sudah tahu siapa yang orang yang ada di dalam?" Tanya Asta.


"Tentu, ini ruang utama kepala keluarga. Siapa yang akan menampatinya jika bukan dia? Lalu, aku juga masuk ke dalam sini sebelumnya. Sampai akhirnya di kepung di aula." Ucap Xabiru menjelaskan tanya dari Asta.


"Kalau begitu, ayo masuk lebih dulu. Aku sudah mengikatnya, ia tidak akan macam-macam pada kita." Bujuk Asta seraya tersenyum, tangannya menggenggam tangan Xabiru dengan lembut, membuat Xabiru melunak.


Keduanya kemudian masuk.


Menatap lelaki paruh baya yang duduk dengan santai di kursi. Xabiru menatap Asta meminta penjelasan karena nyatanya laki-laki yang dibencinya sama sekali tidak diikat seperti yang Asta katakan sebelumnya. Tapi Asta malah tersenyum bersalah, dan tidak ada tindak lanjut.


Jadi Xabiru diam, tidak mau menatap lelaki yang ada didepannya. Hendak pergi pun nyatanya sulit, karena Asta menggenggam tangannya agar dirinya tidak pergi dan tidak melakukan apa-apa pada orang di depannya.


"Kali ini, kita mengobrol sebagai ayah dan anak." Ucap lelaki di depan keduanya yakni ayah Xabiru, membuat Xabiru akhirnya mengangkat pandangannya, dan menatap benci pada ayahnya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2