
Banyak yang mengira kalau cinta tak akan tumbuh di dalam sebuah hubungan yang berlandaskan kontrak dan perjanjian. Namun nyatanya bukti konkrit bertebaran dilapangan. Banyak kok pasangan yang bahagia dengan pernikahan yang berawalkan perjanjian atau mungkin perjodohan.
Malahan hubungan yang tak diawali cinta sebelum pernikahan bisa lebih berhasil jika akan tumbuh tanpa disengaja, tak akan ada kata bosan ataupun jenuh dalam menjalin hubungan semacam itu.
Kalau sudah begitu, diusap setan pun tak akan ada efek dan penyesalan-nya. Toh mereka saling mencintai dan sudah punya ikatan. Apa salahnya?.
Namun semuanya kembali pada diri kita sendiri, bisakah kita menerima kehadiran seseorang dan bagaimana cara kita menanggapinya.
***
Beberapa waktu terakhir ini, entah mengapa hati Aletaa terasa berbunga-bunga. Rasanya seperti jatuh cinta lagi setelah reinkarnasi yang keberapa kalinya.
Hidupnya kini penuh dengan warna-warna indah, syair-syair merdu serta untaikan kata yang mampu membuatnya melayang terbang sampai mencapai puncak nirwana. Gadis itu sangat senang karna pada akhirnya ia bisa merasakan lagi yang namanya cinta setelah trauma dengan cinta sebelumnya.
Kini nampak Aletaa tengah duduk diatas sebuah kursi besi yang berada tepat dihalaman rumah sakit. Senyuman indah nya tak pernah pudar dari bibir manis gadis itu.
__ADS_1
Kali ini kebahagiaan-nya berlipat ganda, sekarang Monica dinyatakan pulih dan sudah diperbolehkan untuk pulang walaupun harus terus dalam pengawasan pisikiater ahli. Ditambah ibu dan ayah Eric yang kabarnya sudah dalam penerbangan menuju kota itu, membuat Aletaa sangat senang, keluarganya akan kembali berkumpul.
"Semuanya sudah selesai." tiba-tiba suara Eric terdengar dari arah belakang, Aletaa seketika menoleh menatap sang suami yang nampak terus mendekat kearahnya.
"Syukurlah, mbak Monikanya sekarang dimana?." tanya gadis itu saat tak mendapati Monica di dekat suaminya.
"Monica sudah kusuruh pulang duluan dengan David." sahut Eric singkat.
"Lalu tunggu apa lagi?, ayo kita pulang menyusul mbak Monica." seru Aletaa semangat, akhirnya setelah sekian lama menanti kesembuhan Monica, wanita itu akhirnya kembali pulang kerumah.
Mendengar itu kening Aletaa seketika berkerut. "Maksudnya?." tanya gadis itu bingung.
Eric menghela nafas panjang. "Kita ****** ibu dan ayah dulu di bandara." sahut Eric.
Aletaa hanya mengangguk untuk menyahuti ucapan sang suami.
__ADS_1
***
Kurang lebih satu jam kemudian, kini Eric dan Aletaa sudah sampai dipelataran bandara. Nampak kedua orang itu masih duduk didalam mobil.
"Kapan ayah dan ibu sampai?." tanya Aletaa lesu, gadis itu sudah mulai lelah, punggungnya terasa pegal karna terlalu lama duduk.
"Entah, tapi katanya mereka akan sampai sebentar lagi, kalau kau bosan, jalan-jalan sebentar mungkin tak apa-apa." sahut Eric.
Aletaa hanya mengangguk kemudian keluar dari dalam mobil. Ericpun nampak ikut keluar. "Mau kemana?." tanya Eric sesaat setelah keduanya berada diluar mobil.
Aletaa nampak mengedarkan pandangan-nya kesekitaran. Tempat yang dulu sempat mengisi hari-harinya kini nampak berbeda dengan wajah barunya.
Halaman bandara terasa jauh lebih luas dari pada sebelumnya. Seingatnya saat Aletaa masih bekerja disana dulu, halaman diisi dengan tumbuhan dan aneka macam bunga. Namun sekarang hanya menyisakan tanah lapang yang kosong.
"Mungkin kita bisa tunggu di caffe yang ada disebrang sana." ucap Aletaa samiul menunjuk caffe yang berada tepat disebrang jalan.
__ADS_1
Eric hanya mengangguk menyetujui ucapan Aletaa.