Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
kamar nomor 123


__ADS_3

Masih bertempat dihotel V, acara jamuan sore itu baru saja berakhir. Beberapa tamu sudah kembali ke kamar tempat mereka menginap, ada juga yang masih duduk-duduk santai di bar hotel sambil bercengkrama ria satu sama lain.


Nampak Monica berjalan melewati lorong-lorong kamar yang sepi, wanita itu tersenyum bahagia sambil tangan-nya mendorong sebuah troli berisi ember es batu dan beberapa botol wine dingin. Wanita itu terus berjalan kearah unit terakhir, lebih tepatnya kamar nomor 123 yang berada tepat dilantai 5 hotel.


Tak lama berjalan. Monica terhenti dikamar yang ia tuju. Gadis itu mengetuk-ngetuk pintu kamar hingga sahuta seorang pria terdengar dari arah ruangan.


Kurang dari 5 menit Monica menunggu, pintu kamar itu akhirnya dibuka, menampilkan sosok pria tampan yang sudah tak asing lagi baginya. "Aku punya kabar baik!." seru wanita itu senang.


"Kalau begitu masuklah." sahut pria yang tak lain dan tak bukan adalah Alex.


Setelah pintu kamar dibuka lebih lebar, Monica akhirnya bisa masuk kedalam kamar sambil membawa troli yang ia bawa.


Alex nampak sedang memakai jubah mandinya, tadinya tubuh pria itu hanya tertutup sehelai handuk yang melingkar dipinggangnya. "Berita apa yang menurutmu itu sangat bagus?." tanya pria itu sambil mendekat kearah Monica yang tengah duduk diujung ranjang.


"Tadi aku tak sengaja mendengar percakapan antara David dan Eric disambungan telpon. aku sempat mendengar bahwa Aletaa dilarikan kerumah sakit dan wajah David seketika memucat setelah memutus panggilan telpon itu. Aku punya pirasat kalau keadaan Aletaa memburuk sekarang." jelas Monica sambit tersenyum bahagia.


Persekongkolan antara musuh masa lalu Aletaa dan musuh masa kini gadis itu berbuah manis.

__ADS_1


"Benarkah?, aku senang mendengar itu."


"Ya, kalau Aletaa sampai dilarikan kerumah sakit seperti itu, artinya keadaan Aletaa memburuk dan racun yang kau berikan epektif untuk menyingkirkan-nya." sahut Monica.


"Tentu saja, konon racun itu pernah digunakan seorang ratu untuk membunuh selirnya. Walaupun kemungkinan mengakibatkan kematian itu kecil hanya sekitar 20%, tapi efeknya sangat dahsyat, bisa menyebabkan lumpuh permanen atau kebutaan. Dan yang paling parah bisa mengakibatkan kemandul." tutur Eric.


Monica yang mendengar itu brigidik, sekuat itukah setetes racun yang Alex berikan?. "Apapun efek yang diakibatkan racun itu, yang penting sekarang dendamu telah terbalaskan dan kebencianku pada gadis itu juga sedikit berkurang." sanggah Monica.


Wanita itu beralih memegang botol wine yang sudah ia buka terlebih dahulu. Lalu menuangkan cairan yang ada didalam botol kedalam dua gelas yang sudah ia siapkan.


"Tentu." sahut Alex sambil menerima gelas berisi wine itu.


Keduanya mengangkat gelas tinggi-tinggi lalu mendekatkan-nya satu sama lain membuat suara dentingan yang berarti aba-aba dimulainya pesta.


Satu jam kemudian, Monica nampak sudah membaringkan tubuhnya diatas ranjang, kepalanya terasa sangat berat dan pusing karna terlalu banyak meminum alkohol.


"Kau payah, baru minum satu botol saja sudah tepar." ejek Alex yang juga telah kehilangan akal sehatnya.

__ADS_1


Monica tak menjawab, wanita itu hanya berguling-guling karna gaun yang ia kenakan terasa kurang nyaman.


Alex yang melihat itu segera mendekat kearah Monica. "Sini biar kubantu." racaunya sambil membuka ret sleting gaun merah marun yang Monica kenakan. Monica hanya terdiam pasrah saat tangan Alex perlahan menurunkan ret sletingnya.


Tak terduga, Alex tiba-tiba mengecup tengkuk Monica. Merasakan hal itu, tentu monica segera menepis wajah pria yang berada kurang dari 2 senti dengan tubuhnya.


"Jangan macam-macam, kita baru saling mengenal tadi pagi." racau wanita itu.


"Tapi aku benar-benar menyukaimu, mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama. Jadi biarkan aku menyentuhmu." sahut Alex.


Monica tak bergeming, dirinya sudah benar-benar mabuk dan kehilangan kesadaran-nya. Monica hanya terdiam saat Alex mulai melucuti helaian-helaian kain yang menutupi tubuhnya.


Hingga tanpa sadar, keduanya sama-sama tergulung birahi yang menggebu-gebu. Monica hanya bisa menikmati saat sentuhan-sentuhan erotis dari Alex menggerayangi seluruh tubuhnya.


Malam yang dingin itu menjadi sebuah saksi dimana dua insan saling berbagi kehangatan. Orang yang tak saling kenal berbagi cinta walau tak saling mencintai.


Kamar nomor 123 menjadi TKP dimana keperawanan seorang Monica direnggut.

__ADS_1


__ADS_2