
Masuk ke inti acara, semua orang dipersilahkan duduk dikursi yang telah disediakan. Setiap meja terdapat sekitar 4 sampai 5 kursi.
Aletaa kini duduk bersama Eric, David dan Monica dalam satu meja yang sama. Mata semua tamu tertuju pada MC yang sedang membacakan beberapa rangkaian acara.
Sebagai pembukaan, Eric diminta naik keatas panggung untuk memberikan sambutan-nya. Setelah Eric selesai, sambutan-sambutan lain juga ikut memeriahkan acara.
MC kembali membacakan mata acara yang akan berjalan itu. "Sebelumnya saya sebagai pembawa acara mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada tuan Eric yang telah mengundang kita ke acara semegah ini." tutur MC itu.
"Tapi saya mendapat berita kalau ada salah satu teman kita yang masih menunggu diluar, dia terlambat karna ada sebuah urusan yang tak bisa diwakilkan. Jadi bolehkan orang itu dipersilahkan masuk dan ikut bergabung?." lanjutnya.
Para tamu hadirin hanya terdiam, terlambat bukan gaya dan kebiasaan mereka. Semestinya seorang pembisnis harus bisa menepati jadwal. Bahkan bukan hanya pembisnis saja yang harus bisa menepati waktu, mau diri sendiri atau pelaku usaha lain juga haruslah menerapkan kedisiplinan agar kinerja mereka semakin baik.
"Persilahkan saja dia masuk." tutur David setelah membicarakan-nya sebentar dengan Eric.
"Ok baiklah, terima kasih kepada tuan David yang sudah memperbolehkan teman kita ini untuk bergabung. Sekarang mari kita sambut pak Alexander, pengusaha muda dan sukses yang mungkin belum banyak tuan dan nyonya ketahui."
Mendengar nama itu Aletaa terbelalak, jantungnya berdegup sangat kencang. "Alex?" gumamnya saat melihat seseorang yang tidak ia harapkan hadir diacara itu.
Aletaa segera memegang erat jemari Eric, bukan rasa takut yang ia rasakan, hanya saja Aletaa sangat terkejut dengan hal itu.
Eric yang merasakan tangan Aletaa semakin mendingin paham dengan perasaan dan perubahan gadis itu.
__ADS_1
"Vid kenapa kau undang orang itu juga?." Eric berbisik pada David. David yang tak berdaya dalam hal ini hanya bisa menghembuskan nafas berat. "Dia diundang oleh kakek, kakek kan tak tahu kalau orang itu pernah menghancurkan hati cucuk kesayangan-nya. Kakek hanya tahu siapa pun klien perusahaan harus hadir diacara ini." jelas David sejelas-jelasnya.
Eric mengangguk-anggukan kepalanya paham, lebih baik kakek tak tahu tentang masa lalu kelam Aletaa, dari pada nantinya akan terjadi pertumpahan darah.
Alex nampak berdiri kebingungan menatap meja-meja yang sudah terisi penuh semua. "Pak Alexander, mari bergabung!." seru Monica memanggil Alex untuk duduk bergabung dalam meja itu.
Eric mendelik kesal. Pria itu segera mempererat pegangan-nya pada Aletaa. "Ya ampun Monica ini bodoh atau bagaimana, sudah tahu kita ini adalah pemilik acara, kenapa juga harus mengundang orang asing untuk duduk bersama." batin-nya sebal.
Alex segera melangkah kearah meja itu. Monica bergeser ke kursi yang ada disebelahnya, menyisakan ruang antara dirinya dan Aletaa.
"Mohon maaf saya terlambat." ucap Alex basa basi.
Pria itupun duduk tepat diantara Monica dan Aletaa. Aletaa segera memalingkan wajahnya kearah lain, tak mau sedikitpun melihat wajah orang yang telah menghianatinya dulu.
Kali ini David yang naik sebagai pembawa acara. "Kali ini kami persembahkan sebuah persembahan yang berbeda dari tahun-tahun biasanya. Mungkin ini kurang cocok dengan acara sore ini. Jadi kami mohon maaf jika ada yang kurang berkenan."
"Kita tampilkan biduan dan biduanita dangdut yang penomenal, selamat menikmati hidangan yang ada diatas meja dan selamat mendengarkan." tutur David lalu turun dari atas panggung, digantikan orkes dangdut sebagai hiburan acara sore itu.
Ditengah suasana riuh akibat musik yang menggema diseluruh ruangan. Alex nampaknya masih sama bejatnya seperti dulu. Pria itu perlahan meletakan telapak tangan-nya tepat dipaha Aletaa.
Aletaa yang merasakan hal itu segera menepis tangan kotor pria bejat yang tak pantas disebut manusia itu. "Tuan, aku ingin bertukar tempat." bisik gadis kecil itu pada Eric.
__ADS_1
Eric yang mendengar itu segera mengiakan-nya lalu bertukar tempat dengan Aletaa. Gadis itu akhirnya bisa bernafas lega, jauh dari Alex membuatnya bahagia.
Monica yang melihat itu tersenyum menyeringai. Entah apa yang ada dalam pikiran-nya, namun nampaknya wanita itu merencanakan sesuatu yang buruk diotak kotornya.
Aletaa mulai menyantap hidangan dari daging yang ada didepan-nya. Satu dua suap masih terlihat aman-aman saja. Namun setelah hampir setengah bagian daging Aletaa santap, perutnya serasa dikocok kuat, rasanya mual padahal daging itu tak berbau amis sama sekali.
Aletaa segera bangkit dari kursi lalu berlari tanpa berkata apa-apa. Eric yang melihat keanehan dari gadis itu dengan sigap mengejar Aletaa.
Monica yang melihat Aletaa pergi tersenyum senang dalam hatinya. "Obatnya bereaksi." gumam wanita licik itu.
***
Yang kesiangan kok sampe dipanggil MC?.
Pasti ada yang nanya soal itu. Kan gak lazim kalo ada orang yang telat dateng terus dipanggil langsung sama MC.
Author bikin alur seperti itu agar kedatangan Alex kaya dramatis gitu, walaupun sebenernya enggak😅.
Maafkan authormu ini, dunia novelkan tipu-tipu, jadi hal biasa kalo ada sesuatu yang tak bisa terjadi didunia nyata tapi bisa terjadi didunia novel.
Satu lagi, author sempet baca komentar, kok Aletaa disebut gadis kecil?.
__ADS_1
Nih author jawab, usia Aletaa memang udah hampir 25 tahun, alasan author sebut Aletaa si gadis kecil itu karna tingkahnya kaya anak-anak jika udah bersama sama kakek.
Karna itulah author sebut Aletaa si gadis kecil biar ada manja-manjanya.