
Masih disuasana yang sama, hanya saja tempatnya berbeda. Aletaa dan yang lain-nya kini sedang berada didekat meja makan. Makan cemilan sambil main kartu sudah jadi menu wajib saat pekerjaan rumah telah selesai.
"Aku emang gak mahir main kartu kaya gini." Protes Aletaa yang sudah ke berapa kalinya mengalami kekalahan.
Ini adalah kali pertamanya memegang dan memainkan kartu. Tahu cara main-nya juga tidak, dari dulu Aletaa terlalu sibuk mencari uang dan mengejar cita-cita sampai tak tahu caranya menikmati hidup.
"Belajar lah dari setiap kekalahan, lama kelamaan nona pasti bisa." Sahut seorang pelayan menyemangati, lebih berkesan seperti mengejek.
Saat sedang asik-asiknya bermain, suara bel pintu membuat suasana kacau. Permainan seketik terhentikan. Melihat wajah kecewa para asisten rumah tangganya, Aletaa akhirnya bertindak. "Eh tunggu, kalian lanjut saja, biar aku yang buka pintunya." Cegah Aletaa saat seorang pelayan berdiri untuk membuka pintu.
Gadis itu berdiri lalu berjalan kearah pintu, mata Aletaa mengintip melihat siapa yang ada diluar sana. Nampak seorang gadis cantik berdiri sambil memegangi sebuah koper besar, memakai kaca mata hitam dan topi khas pantai. Melihat dari penampilan-nya Aletaa yakin wanita itu adalah pelayan baru.
Tapi Aletaa tak pernah berburuk sangka, gadis itu membuka pintu lebar-lebar. "Cari siapa?," Tanya Aletaa.
Wanita itu tak menjawab, dengan angkuhnya dia berjalan masuk melewati Aletaa yang masih berdiri didekat pintu. "ambilkan koperku." Titah wanita itu lalu pergi.
Aletaa menatap sekeliling dengan perasaan kaget sekaligus heran, "Ups, apa aku salah bicara?," umpatnya dalam hati.
__ADS_1
Tak ingin berlarut dalam kebingungan, Aletaa segera menggusur masuk koper besar itu, "Nona biar saya saja yang membawanya." Tawar seorang pelayan yang baru saja datang.
"Tak usah, biar aku saja, tapi siapa wanita itu?, rasanya aku baru pertama kali melihat dedemit model gitu." Sahut Aletaa sambil menatap wanita yang sedang duduk santai diatas sofa itu dengan tatapan sinis.
"Saya kurang tahu nona."
Aletaa mengangguk-angguk paham lalu berjalan kembali kearah meja makan, meninggalkan koper besar itu didekat pemiliknya.
"Gak punya akhlak dan aturan, gak ada permisinya langsung masuk aja kerumah orang. Dasar gak punya etika." Dumel Aletaa dalam hati.
Aletaa sedikit jengkel melihat perlakuan wanita itu.
David yang baru saja datang nampak sock berat melihat penampakan wanita yang sedang duduk itu. "Kak Monica?," Sapa David.
Wanita itu mendongakan kepalanya menatap David, "Hey, David apa kabar?, Eric mana?." Wanita pemilik nama Monica itu segera berdiri memeluk David yang masih kaget.
"Kenapa kakak ada disini?" Tanya David.
__ADS_1
"Kejutan!!!, Eric pasti kaget kalo aku tiba-tiba ada disini."
"Hmm iya, gak cuman kak Eric yang kaget, aku juga kaget." Sahut David sambil tertawa tak jelas.
"Eric ada dikamarnya kan?, aku cek kesana ya."
Monica berlalu dengan senyuman yang berseri-seri, sedangkan David nampak melemas mengetahui kalau wanita yang paling kakaknya hindari ada dirumah itu.
"Vid, cewek tadi siapa?." Tanya Aletaa dari kejauhan.
David segera mendekat kearah Aletaa, "Tolong jagain kak Eric, aku harus pergi sekarang." Tutur David seperti orang gila.
"Kamu ini kenapa sih ditanya apa jawabnya apa." Sahut Aletaa.
"Pokonya jagain kak Eric, aku gak bisa jelasin sekarang." Ujar David lalu pergi.
"Vid kamu belum jawab, siapa cewek tadi."
__ADS_1
Terlambat, pria itu terlanjur pergi.