
Setelah bapak pemilik warung itu pergi, Eric dan Aletaa segera mendekat kearah rumah bercat biru yang tadi ditunjukan bapak pemilik warung.
Aletaa memberanikan diri untuk mengetuk pintunya. "Permisi, apa orang dirumah?." tutur Aletaa sambil kembali mengetuk pintu rumah itu cukup kencang.
"Ya tunggu sebentar." suara seorang wanita menyahut dari dalam rumah. Tak butuh waktu lama pintu rumah itu terbuka, menampilkan seorang wanita muda yang nampaknya tengah mengandung.
Mata wanita itu terbelalak saat melihat wajah tampan Eric berada tepat didepan matanya, Dila nampak mengipas-gipasi wajahnya karna terlalu sock melihat pangeran tanpa kuda yang ia kagumi sejak lama ada didepan-nya.
"Pak Eric?, ini pak Eric kan?." tutur wanita itu antusias. Karna terlalu senang wanita itu hampir saja memeluk Eric yang alergi pada wanita, beruntung Aletaa berada disana dan bisa menghentikan Dila agar tak menyentuh suaminya.
"Maaf saya sudah bertindak lancang." tutur Dila sambil mundur beberapa langkah dari depan Eric. Aletaa dan Eric hanya menyahut dengan senyuman. "Kalau saya boleh tahu, ada keperluan apa sampai anda bisa ada dirumah saya?." tanya Dila penasaran.
Tak mungkinkan kalau orang sekaya Eric bisa datang kerumahnya tanpa ada alasan tertentu.
"Begini, kami datang kesini karna mendengar cerita dari ayah anda," sahut Aletaa.
__ADS_1
"Tunggu maksud anda ayah saya menceritakan ngidam aneh saya pada kalian?." timpal Dila.
Eric dan Aletaa mengangguk pelan, Wajah cantik Dila semakin berseri saat mendengar itu. Sebuah ngidam yang mustahil untuk dilakukan, itu benar-benar bisa ditepati dikehamilan anak pertamanya.
"Kalau begitu silahkan masuk, saya akan menyiapkan beberapa bahan-nya. Kebetulan saya punya pohon mangga yang sedang berbuah, saya suruh suami saya buat ngambil yang masih muda, emmm pasti seger apalagi ditemenin pak Eric." tutur Dila sambil melangkah masuk kedalam rumah.
Eric dan Aletaa hanya tersenyum sambil memutuskan untuk duduk di ubin. "Rumahnya nyaman ya." tutur Aletaa, mata gadis itu menyisir sekitaran, mungkin karna ini adalah wilayah pedesaan, suasananya begitu sejuk dan asri.
Eric hanya tersenyum melihat keantusiasan istrinya.
"Eh ada tamu." tiba-tiba seorang wanita yang mungkin usianya hampir sama dengan kakek keluar dari dalam rumah.
"Eric cucuknya Willy?." tanya nenek.
"Betul, kenapa anda bisa tahu nama kakek saya?, padahal kakek saya sudah lama tak muncul dimedia." tutur Eric heran, setelah Eric diangkat jadi CEO perusahaan, kakeknya tak pernah lagi muncul dimedia sekalipun hanya namanya saja.
__ADS_1
"Ini sudah garisan takdir, kalian datang kemari adalah kehendak tuhan, sebentar lagi kalian akan dikaruniai dua orang putra dan hidup putra kalian akan penuh dengan persaingan, persaingan memperebutkan cinta satu wanita." wanita tua itu nampak menujukan pandangan-nya menatap langit.
"Maksud anda?." tanya Aletaa penasaran, kenapa dia bisa tahu kalau Eric akan segera punya anak walaupun belum tentu anak itu berjenis kelamin laki-laki dan tak mungkin juga bisa jadi kembar.
"Aku bersumpah, keturunan ke tiga Willy akan memperebutkan cinta dari seorang gadis buta. Ini adalah karma yang sudah tertulis atas garis keturunan Willy." tutur wanita tua itu lagi.
Aletaa menggenggam kuat tangan Eric. Gadis itu cemas dan khawatir.
"Nek kenapa bicara seperti itu?, mereka itu tamu, lebih baik nenek istirahat didalam saja ya." tutur Dila sambil memegangi tangan neneknya dan membawanya masuk kedalam rumah.
Selepas nenek dan Dila pergi, Aletaa nampak mencengkram lengan Eric kuat. "Aku takut." tutur gadis itu.
"Tenang saja, lagi pula itu semua tak akan terjadi, kau ingat saat kemarin kita melakukan USG?, bukankan sudah jelas kalau janin-nya hanya ada satu, jadi tenang saja." tutur Eric mencoba menenangkan.
Tak lama Dila keluar dari dalam rumah. "Maafkan nenek saya, dia sudah sedikit pikun, jadi bicaranya sering sekali melantur." tutur Dila, gadis itu terlihat tak enak hati karna neneknya bisa berbicara sebrutal itu pada dua orang terhormat yang ada didepan-nya.
__ADS_1
"Kau dengar kan?, neneknya sudah pikun, jadi jangan terlalu dipikirkan ucapan-nya tadi." tutur Eric mencoba menenangkan Aletaa.
Aletaa akhirnya merasa sedikit lega, tadi dia sangat takut pada kata-kata yang diucapkan nenek tadi.