
Eric akhirnya keluar dari kamar mandi. Dengan langkah lesu dan tertatih-tatih, pria itu mendekat kearah Aletaa yang sedang duduk didepan warung.
Namun sebelum pria itu sampai pada Aletaa, perutnya kembali mulas, membuatnya putar balik dan kembali ke kamar mandi.
Aletaa yang melihat itu seketika panik, sakit suaminya pasti cukup serius. "Pak, Dil, saya pergi temui suami saya dulu ya." tutur Aletaa.
Dua orang itu hanya mengangguk paham. "Semoga pak Eric lekas sembuh." tutur Dila saat Aletaa bangkit dari duduknya.
Selepas kepergian Aletaa, bapak pemilik warung nampak berpikir keras. "Kenapa pak?." tanya Dila pada bapaknya itu.
"Kok heranya, pak Eric kan orang besar, tapi kenapa istrinya sederhana banget, terus soal pernikahan mereka gak pernah ada di berita. Ini tau-tau mau punya anak, heran bapak Dil." tutur bapak Dila.
Dila juga ikut terdiam sambil menatap punggung Aletaa yang nampak semakin menjauh. "iya juga ya pak." sahut Dila setuju. Tapi kedua orang itu tak mau ambil pusing. Mereka hanya berpikiran mungkin alasan kenapa pernikahan Eric dan Aletaa tak digelar secara meriah itu karna istrinya sangat sederhana.
Terlihat dari penampilan Aletaa saat ini, walaupun seorang istri dari sultan, tapi Aletaa tak malu mengenakan daster murah dan sandal jepit.
__ADS_1
Aletaa terus berjalan kearah kamar mandi. Saat sampai didepan pintu, gadis itu mengetuknya beberapa kali. Hingga sebuah sahutan terdengar dari dalam ruangan.
Tak lama Eric keluar dari dalam kamar mandi, wajah pria itu nampak sangat pucat. "Astaga, ini pasti karna tadi makan rujaknya kebanyakan, akukan udah bilang, jangan makan banyak-banyak. Mas kan belum makan nasi dari pagi." omel Aletaa.
Tanpa disadari sebuah kata 'mas' terlontar dari bibir gadis itu. Eric hanya tersenyum malu-malu sambil menatap wajah khawatir sang istri.
Aletaa nampak mengecek suhu badan suaminya, meraba-raba leher pria itu takut terjadi komplikasi yang serius, karna bukan hal yang mustahil jika badan Eric akan ikut demam bahkan sampai muntah-muntah. Tapi syukurlah keadaan Eric masih terbilang normal.
Tatapan gadis itu beralih pada wajah sang suami. "Apa karna sedang diare, saraf otakmu juga ikut terganggu?." tutur Aletaa heran saat melihat senyum menakutkan suaminya.
Nampak semburat merah dikedua pipi Aletaa. Apa maksud Eric tadi?. Jantung gadis itu berdegup tak karuan. Ada rasa senang, ada juga rasa yang aneh saat mendengar penuturan suaminya itu.
Hati Aletaa terasa dihujani banyak kelopak bunga. Mungkinkah ini yang dinamakan cinta sesungguhnya?.
Tak lama gadis itu tersadar dari lamunan halunya. Aletaa mendorong tubuh suaminya agar memberi jarak, gadis itu segera memalingkan wajahnya yang sudah terlanjur merah. "Sudahlah lebih baik kita periksa keadaanmu pada pak mantri." tutur Aletaa sambil menaiki beberapa anak tangga yang ada didekat sana.
__ADS_1
Namun sebelum Aletaa berhasil menjauh dari Eric, tangan kekar Eric terlebih dahulu menarik lengan gadis itu, membuat Aletaa tergelincir dan jatuh tepat didada bidang sang suami.
Mata mereka saling bertemu, hal itu membuat jantung Aletaa memompa begitu kencang. Tak ingin jatuh dalam pesona Eric, Aletaa segera bangun dari posisi romantis itu.
Dengan gelagat aneh Aletaa nampak linglung harus pergi kearah mana.
"Kita pulang saja." ajak Eric mendahului langkah istrinya, pria itu nampak sangat tenang seakan tak terjadi sesuatu pada mereka beberapa detik sebelumnya.
"La lalu mbak Monica bagaimana?." tanya Aletaa bingung, kedatangan mereka kesana untuk mengobati Monica bukan, lalu kenapaEric mengajaknya pergi sebelum Monica siuman dan dinyatakan pulih.
"Biar David yang mengurusnya." sahut Eric sambil pria itu masih terus berjalan kearah mobilnya yang terparkir didepan klinik.
***
maaf otornya telat up, soalnya tadi author abis ada acara.
__ADS_1