Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
dilantai?


__ADS_3

Malam berikutnya


Kini Eric dan Aletaa nampak sudah berbaring diatas ranjang empuk mereka, tepat ditengahnya ada Dion yang sudah tertidur sangat pulas.


"Siapa sebenarnya pengirim misterius itu?." tanya Aletaa yang keberapa kalinya. Setiap ditanyai pertanyaan tentang hal itu Eric tak pernah menjawab, pria itu hanya tersenyum sambil menggumam kecil.


"Nanti juga kau tahu." sahut Eric singkat.


Aletaa nampak mengerucutkan bibirnya kesal, selalu saja begitu, apa pengirim misterius itu adalah orang istimewa hingga Eric berniat untuk menyambunyikan-nya?.


Lama hanya ada keheningan, Aletaa nampak mulai merasa ngantuk, gadis itu sudah beberapa kali menguap dan hampir saja memejamkan kedua matanya.


Tangan-nya terulur untuk menyelimuti bocah kecil yang ada disampingnya. "Matikan lampunya, aku sudah mengantuk." ucap Aletaa sambil memeluk tubuh kecil Dion.


Eric mendelik kesal, "Jangan dulu tidur, aku masih mengantuk." sahut pria itu.


Suasana kamar terasa hening seketika, hanya terdengar dengkuran halus dari Aletaa yang sudah terlelap.


Mendapati hal itu, Eric tak mampu berkutip lagi. Pria itu hanya tersenyum sambil memijat sakelar lampu yang ada tak jauh dari tempatnya berada, menyisakan cahaya redup dari lampu tidur kecil yang disimpan diatas nakas.


Pandangan pria itu beralih pada Dion yang ada disampingnya, malam ini bocah itu rewel hingga tak mau ditinggalkan Aletaa sedetikpun, pada akhirnya mereka terpaksa tidur bertiga.


Aletaa senang karna Dion sangat sayang padanya, hanya saja Eric yang merasa tersiksa, perhatian yang Aletaa berikan pada Dion jelas membuat Eric cemburu. Walaupun Dion masih sangat kecil untuk menjadi bahan cemburu seorang Eric, tetap saja bocah itu adalah pria, Eric tak mau cinta Aletaa dibagi dengan pria lain tak terkecuali dengan Dion.

__ADS_1


"Sudah lebih dari satu minggu, tapi kenapa ayah dan ibumu belum datang juga." gerutu Eric sambil berbisik.


Eric bangkit dari posisi tidurnya, kemudian memangku sang adik dan memindahkan-nya keatas karpet yang digelar didekat ranjangnya.


Dibekali sehelai selimut dan satu buah bantal, Dion terpaksa tidur diatas karpet.


Kakaknya begitu kejam. Setelah melancarkan aksinya, Eric kembali naik keatas ranjang dengan senyum bahagia terlukis dikedua sudut bibirnya. "Tembok penghalang sudah disingkirkan." gumam pria itu dalam hati.


Eric merangkak mendekat kearah sang istri, kemudian menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya dan tubuh Aletaa sampai sebatas leher. Tak lupa dikecupnya dahi Aletaa.


Keduanyapun akhirnya terlelap tanpa ada Dion yang memisahkan.


***


Aletaa nampak mengerjapkan kedua bola matanya saat indranya mendengar suara tangisan Dion yang cukup kencang.


Mata gadis itu menatap sekeliling. "Mana Dion?." gumamnya saat tak mendapati Dion ada disampingnya.


Dengan keadaan linglung, Aletaa bangkit dari posisi tidurnya, kemudian menghempaskan tangan kekar Eric dari atas tubuhnya.


Sambil menguap gadis itu nampak membenarkan ikatan rambutnya yang sudah jatuh.


Pandangan gadis itu kembali berkeliling, mencari keberadaan Dion yang tangisan-nya terus melantun begitu merdu.

__ADS_1


"Astaga Dion?!." pekiknya kaget saat mendapati Dion terduduk diatas lantai sambil mengangis sesegukan.


Aletaa segera mendekat kearah sang adik kemudian menggendongnya. "Kenapa Dion bisa ada disini?." tanya Aletaa sambil mencoba menenangkan sang adik.


Dion hanya menggeleng, jelas dia tak tahu, karna semalam dia tidur. Mana mungkin tahu kenapa ia bisa ada diatas karpet.


Tatapan Aletaa beralih pada sang suami yang nampak masih tertidur pulas diatas ranjang. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah Eric.


Dengan kesal, Aletaa menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya, kemudian mencubit betis Eric cukup keras untuk membangunkan pria itu. "Bangun!." seru Aletaa dengan suara melengking.


Perlahan Eric mulai mengerjapkan kedua matanya, kemudian beralih menatap Aletaa dengan tatapan bingung. "Ada apa?." tanya pria itu dengan suara serak khas bangun tidur.


"Pasti kau kan yang memindahkan Dion ke karpet?, ngaku saja." sungut Aletaa dengan tatapan nanar dan berapi-api.


Eric terdiam sambil senyum-senyum tak jelas. Ini tak sesuai dengan apa yang Eric banyangkan semalam, dia kira Dion akan bangun tanpa menangis seperti hari biasanya.


Aletaa yang mendapati gelagat aneh sang suami seketika mengerucutkan bibirnya, "Nanti malam kau yang harus tidur dilantai, biar tahu rasa." putus gadis itu.


Eric terperanjak tak setuju. "Kenapa begitu?, ini tak adil." sahut Eric.


"Pokoknya aku gak mau tau, tidur dilantai atau mending tidur diluar."


Keputusan Aletaa tak bisa diganggu gugat. Eric hanya bisa pasrah sambil memikirkan cara agar ia tak jadi diberikan hukuman tidur dilantai oleh Aletaa.

__ADS_1


__ADS_2