
Selang beberapa waktu, mobil yang membawa Eric dan Aletaa akhirnya sampai dihalaman rumah besar. Keduanya segera turun dari dalam mobil.
pandangan mereka nampak menyisir sekeliling, dahi Eric berkerut saat netranya mendapati banyak mobil terparkir dihalaman rumah besar.
"Apa didalam sedang ada pesta?." tanya Aletaa yang ikut bingung.
Eric masih mengamati sekitaran. "Tidak, sepertinya akan ada musibah." sahut pria itu saat mendapati sebuah mobil yang tak asing lagi baginya.
"maksudmu?." tanya Aletaa bingung.
Eric tak menjawab, pria itu segera menarik lengan Aletaa, membawanya masuk kedalam rumah. Entah apa kekacawan yang kini sedang terjadi.
Namun nampaknya Eric sangat khawatir dengan hal itu.
Sesampainya didalam rumah, ketakutan Eric benar beralasan. Nampak Monica sedang duduk tepat didepan kakek. Ini sebuah bencana.
Bagaimana jika kakek tahu kalau Monica sedang hamil?. Ini masalah yang sangat serius.
Nampak pula David berdiri tak jauh dari sana. Sebelum kakek menyadari kalau Eric dan Aletaa sudah pulang, Keduanya segera mendekat kearah pria muda itu.
"Vid ada apa?." tanya Eric sambil berbisik-bisik dengan adiknya.
"Ada orang yang memberi tahu kakek tempat kau menyembunyikan kak Monica." sahut David masih dengan bisikan.
__ADS_1
Aletaa yang mendengar pembicaraan kakak dan adik itu terperanjak kaget, Bagaimana bisa?. Ini masalah yang sangat besar. Dia dan Eric belum siap untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada kakek.
"Siapa yang memberitahukan-nya pada kakek?." tanya Eric lagi.
David hanya menggeleng, "Tidak tahu, saat aku sampai disini, Monica sudah ada bersama kakek." sahut pria muda itu.
"Lalu apa Monica mengatakan sesuatu pada kakek?." sela Aletaa, gadis itu juga ikut panik, kesehatan kakek sekarang sedang kurang baik, kalau kakek mengetahui rahasia tentang Monica, bagaimana dengan keadaan kakek nantinya?, pasti sakit kakek akan kambuh dan bisa saja menjadi semakin parah.
"Tidak, sejak tadi dia tak mengatakan apa-apa." sahut David.
Aletaa dan Eric akhirnya bisa bernafas lega, kalau Monica bungkam, setidaknya Mereka bisa mencari waktu yang pas untuk memberi tahu kebenaran-nya pada kakek.
"Kakek!." seru Aletaa meminta perhatian dari pria paruh baya yang sedang menanyai Monica.
"Bagaimana keadaan ayahmu, apa dia baik-baik saja?." tanya kakek lagi.
Aletaa mengangguk cepat, "Ya dia baik-baik saja, kakek juga mendapatkan salam darinya." sahut Aletaa.
Kakek hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Eric, aku punya satu pertanyaan, kenapa kau mengirim Monica ke fila, bukankah dia sudah bilang kalau ingin pulang." tutur kakek, mata pria itu beralih menatap Eric dengan tatapan bingung sekaligus kesal.
Sudah satu bulan lebih ternyata Monica masih ada di kota itu. Pantas saja saat menelpon orang tua Monica yang ada diluar nergri, mereka terus menanyakan kabar Monica.
__ADS_1
Eric menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bagaimana caranya membohongi kakek?.
Aletaa yang melihat situasi itu segera menglus perutnya sambil sesekali berdesis. "Perutku keram, sayang, tolong bantu aku." ucap Aletaa berpura-pura. Gadis itu tahu betul situasi yang kini sedang Eric rasakan.
Eric yang paham maksud Aletaa segera meraih tubuh gadis itu. "Iya, aku akan membantumu." sahutnya.
"Nanti saja menjelaskan semuanya, sekarang aku harus membawa Aletaa ke kamarnya." lanjut pria itu.
"Iya, cepat bawa Aletaa istirahat." sahut kakek agak khawatir.
Dengan begitu Eric bisa mengulur waktu untuk sedikit memikirkan alasan apa yang akan ia buat untuk menutupi kebusukan Monica.
Bukan-nya tak mau membongkar kejahatan Monica, hanya saja Eric perlu mencari waktu yang tepat. Pria itu takut kondisi kakeknya akan memburuk jika mendengar salah satu cucunya melakukan hal-hal kotor.
Eric bukan-nya menghindar dari kenyataan, pria itu hanya mencoba untuk menunda demi kebaikan semua orang.
***
Maaf nih konflik Monica makin bertele-tele, author lagi cari momen yang pas buat bongkar kebusukan Mlnica.
Kalau author bongkar sekarang, bisa-bisa kakek kena serangan jantung.
Bersabar semuanya.
__ADS_1