
Nampak langit mulai menggelap, begitu indah berhiaskan kilatan cahaya mentari terbenam di ufuk barat. Sepoy angin laut dengan lembut menyapa tubuh. Gulungan ombakpun mengalun membasahi sampai batas mata kaki.
Disinilah Aletaa berada, disebuah pantai yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Senyuman indah tak pernah pudar dari bibir gadis itu, suasana pantai yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan tak pernah ia bayangkan akan terjadi dalam hidupan-nya.
"Kau senang?." tanya Eric.
Pria itu nampak tengah memeluk tubuh Aletaa dari belakang, tangan-nya tak henti mengelus lembut sang buah hati yang ada dalam kandungan Aletaa.
Mendapatkan pertanyaan itu, dengan cepat Aletaa mengangguki pertanyaan sang suami. "Ya, aku sangat senang." sahut gadis itu.
Ini kali pertama Aletaa menginjakan kaki di pasir pantai yang halus, sewaktu masih kanak-kanak, pernah sekali Aletaa bermimpi menginjakan kaki diatas putihnya pasir dan lembutnya gulungan ombak, namun sayang, nasibnya dulu begitu buruk, setiap hari Aletaa disaibukan dengan bekerja untuk menghidupi keluarganya, sampai gadis itu lupa bagaimana caranya menikmati hidup.
Setelah menjadi pramugari pun hidup gadis itu tak pernah berubah, walaupun gajih yang ia dapat cukup tinggi, namun kebutuhan-nya lebih tinggi daripada penghasilan yang ia peroleh, apalagi saat itu ayah Aletaa sedang sakit parah, ditambah biaya menghidupi Alex yang dulu tak punya pekerjaan.
Kehidupan Aletaa tak sepenuhnya berubah setelah mendapatkan pekerjaan sebagai pramugari, dan malangnya, selama bertugas gadis itu tak pernah dijadwalkan untuk terbang kewilayah yang punya pantai.
__ADS_1
"Kalau kau suka, kita buat fila disini, kau mau?." tanya Eric lagi.
"Boleh, hanya saja apa tak akan ada tsunami diaini?." canda Aletaa sambil terkikik pelan.
Eric menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Ngomongnya suka ngelantur." ucap pria itu sambil membekam mulut sang istri.
Aletaa hanya tertawa kemudian melepaskan diri dari palukan sang suami. Gadis itu berbalik menatap wajah tampan Eric, kemudian mendekatkan wajahnya kearah wajah pria itu. Eric yang mendapatkan perlakuan manis sang istri segera memejamkan mata, menanti sebuah ciuman dari sang istri.
Aletaa yang melihat reaksi suaminya seketika tertawa kemudian berlari menjauhi sang suami. "Jangan harap!." seru gadis itu sambil tertawa.
Pemandangan indah, dua insan yang sedang dilanda asmara, merlatarkan laut biru dan langit jingga yang indah.
***
Setelah puas main kejar-kejaran, kini Eric dan Aletaa nampak tengah duduk dibibir pantai, beralaskan sandal jepit yang mereka kenakan, kedua insan itu nampak menikmati detik-detik terindah saat mentari terbenam.
__ADS_1
Saat dimana mentari nampak masuk kedalam laut, bergantikan dengan gelapnya malam berhiaskan bintang-bintang.
"Kau bohong lagi." ucap Aletaa membuka pembicaraan.
Eric nampak mengerutkan keningnya. "Bohong kenapa?." tanya ptia itu bingung.
Terdengar helaan nafas berat dari arah Aletaa. "Kau bohong soal Dion yang sakit. Aku nyesel karna terlalu mudah percaya, sekarang kan mbak Monica lagi butuh kita, harusnya kita selalu ada disamping dia, nemenin dia, ngerawat, tapi kamu malah bohong cuman buat jalan-jalan ke pantai." sahut gadis itu.
Eric hanya bisa tersenyum. "Ada yang lebih Monica butuhkan ketimbang kita." ucap Eric, tatapan-nya nampak meremang.
"Maksudnya?." tanya Aletaa tak paham.
Bukankah yang paling seseorang butuhkan saat sedang ada dalam masalah adalah keluarga atau orang terdekatnya?, lalu siapa yang dimaksud Eric orang yang paling dibutuhkan Monica sekarang.
"Nanti juga kau pasti tahu." sahut pria itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Terlalu banyak rahasia indah yang Eric sembunyikan, hari ini belum saatnya Aletaa untuk mengetahui semua rahasia indah itu.