
Satu minggu kemudian.
Hari ini Aletaa dan Eric tengah berada dirumah sakit. Kebetulan hari ini, Aletaa punya jadwal cek kandungan pada dokter langganan-nya.
Setelah pemeriksaan selesai, keduanya beralih ke arah apotik untuk membeli beberapa suplemen dan vitamin yang tadi sempat diresepkan dokter.
"Syukur, bayinya sehat." tutur Aletaa sambil tersenyum senang. Pertumbuhan bayinya begitu baik. Aletaa tadi sempat melakukan USG, namun sayangnya jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungan-nya tak bisa terlihat.
Eric hanya tersenyum.
Tak lama keduanya sampai didepan apotik. Aletaa segera duduk disebuah kursi yang disediakan disana. Sedangkan Eric mulai membeli beberapa obat-obatan yang tadi diresepkan dokter.
Tak butuh waktu lama. Eric menyelesaikan pekerjaan-nya. Pria itu segera mendekat kearah Aletaa. "Yuk kita pulang." ajaknya sambil meraih tangan Aletaa.
Gadis itu meraih uluran tangan Eric untuk bangun dari posisi duduknya.Setelah bangun, dahi Aletaa seketika berkerut saat melihat dua bungkusan obat-obatan.
"Apa sebanyak itu vitamin yang tadi diresepkan dokter?." tanyanya bingung.
Eric nampak melirik dua kantong obat yang ada ditangan-nya. "Tidak, satu kantol lagi punya orang lain." sahut pria itu.
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya Aletaa hanya menganggukan kepala tanpa ingin tahu orang itu siapa. "Yasudah ayo kita segera pulang." tuturnya sambil menarik tangan Eric agar lekas mengikutinya.
Sesampainya dimobil, Aletaa segera membuka bungkusan vitamin-nya. Melihat-lihat beberapa obat-obatan yang ada didalamnya.
"Oh iya, satu bungkus lagi buat siapa?." tanyanya pada Eric, Aletaa baru ingat kenapa Eric membeli vitamin yang sama seperti miliknya.
"Nanti kita antar ke pemiliknya, kau pasti sudah tak asing dengan orang itu." tutur Eric seraya melajukan mobilnya.
Aletaa hanya derdehem lembut sebagai sahutan.
mobil hitam itu mulai melaju dijalanan aspal, setelah lama berjalan, Aletaa nampak terkesiap saat menyadari kalau mereka lewat jalan yang salah.
"Kenapa lewat sini?, bukan-nya rumah harusnya lewat sana?." tanya Aletaa bingung, suaminya punya rencana apa.
Aletaa kembali diam, menambah pertanyaan hanya membuang waktu saja. Apalagi sekarang Aletaa mulai merasakan gejala-gejala ibu hamil. Nafasnya sering terengah kalau terlalu banyak bicara. Padahal kandungan-nya belum membesar, dan ya kalau dilihat sekilas seperti tak akan berdampak buruk pada si ibu.
30 menit berlalu, perjalanan yang begitu melelahkan. Kini suasana menjadi sejuk karna mulai mendaki perbukitan yang rimbun.
Aletaa berjingkrak-jingkrak senang, apa suaminya mau ajak honey moon di fila?. Atau mungkin makan malam romantis didekat kebun teh?. Pokoknya Aletaa sekarang sangat senang. Walaupun semua itu tak terjadi, setidaknya dia bisa cuci mata menikmati pemandangan yang ada disana.
__ADS_1
"Sayang, apa masih jauh?, kakiku sudah kesemutan." tanya gadis itu.
Eric yang mendengarnya seketika terbelalak. Sayang?, apa gadis ini menggodaku?. "Sebentar lagi, tinggal 2 belokan." sahut Eric.
Aletaa hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Menit-menit berlalu, rasanya sudah lebih dari bua belokan yang mereka lalui. "Sayang, katamu tinggal dua belokan, tapi ini sudah lebih." tutur gadis itu.
Eric hanya tersenyum tipis. "Ya memang dua belokan, belok kanan sama brlok kiri, aku tak tahu jumlahnya ada berapa." sahut Eric.
Seketika Aletaa mengerucutkan bibirnya, jadi dari tadi ia hanya menanti belokan yang tak pasti?. Bumil telah dipermainkan. "Tunggu pembalasanku tuan." batin gadis itu kesal.
***
Hallo semua, mampir yuk di novel baru author, judulnya Rembulan.
Langsung tekan profil author biar gak ribet cari jidulnya. Pokonya dicerita author yang satu lagi, gak ada konflik ribet kaya cerita yang ini.
Judul: Rembulan
__ADS_1
Genre: komedi, romantis.
Tokoh: Rembulan (Bulan), sakti, dan pemeran pendukung lain-nya.