Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
ngidam bayi sultan


__ADS_3

Sesampainya dikamar, Aletaa hanya duduk sambil menyender dikepala ranjang. Gadis itu sedikit mengusap perut yang masih terlihat rata itu. Aletaa meremang, kalau bukan karna anaknya, mungkin sekarang Aletaa hanya tinggal nama.


Eric yang baru saja keluar dari kamar mandi nampak terdiam melihat Aletaa yang bertingkah sangat aneh. "Kenapa?, apa kau masih memikirkan masalah racun itu?." tanyanya sambil melangkah kedekat Aletaa.


Aletaa mengangguk-angguk pelan. "Tentu saja, pelakunya belum tertangkap sampai sekarang, bagaimana kalau dia kembali merencanakan sesuatu yang buruk untuk keluarga kecil kita?, aku takut bayiku yang tak berdosa ini menjadi korban-nya." tutur Aletaa. Gadis itu marah, gadis itu murka, namun apalah dayanya saat ini, Aletaa sekarang sedang mengandung anak dari Eric. Jika dibayangkan ratusan orang bahkan ribuan musuh Eric bisa saja menjadi musuhnya. Keselamatan Aletaa dan bayinya benar-benar terancam.


Gadis itu tak kuat jika harus terbelenggu dalam lingkup teror yang bisa mengancam nyawa bayinya.


"Sudahlah jangan terlalu pikirkan masalah itu, kau ingat kata dokter sebelum kita pulang tadi?, keadaanmu sekarang belum setabil, kandungan-nya juga masih lemah. Bagaimana kalau nanti kau yang akan menghabisi bayimu sendiri karna terlalu stres?." sahut Eric.


"Aku juga sudah meminta David mengcopy semua rekaman CCTV kemarin. Mungkin ada satu petunjuk untuk mengungkap kasus ini." lanjutnya.


Eric kemudia duduk disamping Aletaa. Menatap mata indah itu lekat, meyakinkan Aletaa bahwa semua ini akan baik-baik saja.


"Tapi aku tetap merasa khawatir, aku tak bisa tenang kalau bukan aku sendiri yang menyelidikinya."


Mendengar itu, Eric segera menggenggam kedua tangan Aletaa. "Percayalah padaku, bukankah aku dan David bukan orang asing bagimu?. Lagipula aku juga tak akan mungkin membiarkan orang yang hampir membunuh bayiku itu bisa bernafas lega di dunia ini." tutur Eric, pria itu kemudian meletakan kepalanya dipangkuan Aletaa, membuatnya berada begitu dekat dengan sang buah hati.


Tiba-tiba indra pendengaran-nya menangkap sebuah suara. Perut Aletaa bergemuruh, mungkin gadis itu merasa lapar. "Apa kau lapar?, bukankah sebelum kita pulang tadi kau sudah makan?." tanya Eric sambil menahan tawa.


Aletaa menutup wajahnya yang sudah memerah. Seperti biasanya gadis itu akan lapar setiap waktu saat hari mulai siang. "Bukan aku yang lapar, tapi bayinya." elak gadis itu, walaupun dia sedang mengandung dan wajar merasakan hal itu, namun Aletaa tak ingin orang beranggapan kalau dirinya itu orang yang rakus. Aletaa harus tetap menjaga image, maka dari itu dia lebih memilih menjual nama bayinya demi untuk mengurangi rasa lapar.

__ADS_1


Eric hanya tertawa tipis. dia sudah tinggal hampir 4 bulan dengan Aletaa, jadi Eric tahu betul ego gadis itu begitu besar.


"Baiklah, lalu bayinya mau makan apa?, coba tanya padanya." suruh Eric.


Aletaa mendekatkan telinganya kearah pertu, seperti orang yang sedang berdiskusi gadis itu terus membicarakan beberapa menu makanan. Aletaa juga menyematkan acungan jempol disetiap diskusinya. Eric yang melihat itu hanya bisa tertawa, istrinya benar-benar sudah gila.


"Apa diskusinya sudah selesai?." tanya Eric.


"Tentu, tadi dia bilang ingin makanan yang manis dan air dingin yang segar. Dan buah-buahan yang rasanya sedikit asam tapi tetap terasa manis." sahut Aletaa.


"Itu saja?."


Aletaa nampak berpikir sejenak. "Katanya dia juga ingin emas satu kilo." celetuk Aletaa membuat Eric tergelak.


Sungguh ngidam yang sangat gila.


"Eh ralat, tadi bukan bayinya yang mau, tapi ibunya. Tapi ini tetap ngidamnya si bayi kok." sangkal Aletaa. Kalau bayinya yang mau rasanya tak masuk diakal.


"Kenapa bisa kepikiran buat ngidam emas satu kilo?."


"Emmm gak tau lah, yang namanya ngidam itukan kemauan bayinya bukan ibunya aja. Mungkin aja ini itu akibat dari ngidamnya anak sultan, makan-nya pengen yang mahal-mahal." sahut Aletaa tak mau disindir Eric.

__ADS_1


Eric hanya tertawa sekilas.


"Iya percaya, karna ayahnya baik dan kaya, ibunya dibeliin emas satu kilo deh. Biar orang-orang pada iri." tutur Eric sambil mengecup perut Aletaa cukup lama.


Setelah itu Eric segera bangit dari atas ranjang sambil mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas.


Aletaa yang melihat itu mengerutkan dahinya. "Kenapa belum jalan?, malah main hp lagi." tutur Aletaa jeles. Dia sudah terlanjur lapar tapi orang yang akan membelikan-nya makanan belum juga pergi.


"Aku akan hubungi David dulu, biar dia yang pergi untuk membelinya."


Mendengar itu tentu Aletaa marah. "Dek, kalau kau bisa melihat dan mendengar ayahmu, tolong saat besar nanti kau jangan meniru kelakuan-nya ya. Paman David sekarang sedang sibuk, tapi lihatlah ayahmu ini, dia malah menintanya untuk pergi membeli makanan untukmu, padahal sekarang paman David sedang kerepotan itu juga karna ulah ayahmu." sindir Aletaa lembut.


Mendengar itu Eric segera melangkah kearah pintu lalu memegang gagangnya. "Dek jangan dengarkan ocehan ibumu sayang, lihat ayah sekarang akan pergi untuk membelinya." tutur Eric lalu melangkah keluar dari dalam kamar.


Melihat itu Aletaa tertawa puas. Sekarang Eric bukan lagi tuan-nya. Sekarang Aletaa lah adalah nyonya satu-satunya dirumah itu.


Eric nampak terus berjalan kearah luar. Pria itu melangkah mendekat kearah pos satpam yang terpantau sepi. Disana kebetulan ada dua orang satpam dan seorang supir yang sedang duduk-duduk santai sambil main catur.


"Pak bisa tolong pergi belikan makanan untuk bumil kesayangan kalian?, dia ingin makanan yang manis-manis dan juga minuman dingin. dan belikan juga buah-buahan yang sedikit asam." titah pria itu sambil mengasongkan uang pecahan seratur ribuan yang totalnya adalah satu juta.


"Beli yang banyak, terserah mau beli apa yang penting bersih dan terjamin. Sisanya kalian beli saja apa yang kalian mau." lanjut pria itu.

__ADS_1


Supir dan seorang satpam mengangguk lalu pergi sebagai untusan sang tuan untuk membeli makanan si bumil. Sedangkan Eric duduk dan melanjutkan permainan catur itu.


Masalah ngidam si bayi sultan sudah ia tangani. Tak perlu terlalu lama menunggu pesanan satu kilo emas sudah ada di depan mata.


__ADS_2