
Tak terasa usia kandungan Aletaa kini sudah masuk bulan ke-8, Akhir dari sebuah perjalanan berat yang sudah Aletaa dan Eric alami selama ini.
Kini suaminya mencintainya, keluarganya juga lengkap dan bahagia, begitupun dengan kehidupan Monica, beberapa bulan yang lalu, Monica dan Alex pindah ke London untuk mengobati anak yang ada dalam kandungan-nya.
Kemungkinan kecil cacat pada bayi itu bisa di minimalisir jika mendapatkan perawatan intensip dari tangan para ahli, maka dari itu, Alex dan Monica memutuskan untuk membawanya berobat sekaligus mendirikan perusahaan baru di London sana.
Hidup ini memang berat, ada kalanya kita dalam titik terendah dan tak tahu jalan mana yang harus kita pilih. Namun percayalah, semua indah pada waktunya.
***
Siang ini, nampak Aletaa masih bermalas-malasan di atas kasurnya, kandungan yang semakin membesar ditambah badan yang semakin menggumpal seiring bertambahnya bulan kehamilan membuat langkah Aletaa semakin melambat.
Kini gadis cantik yang ramping hanya tinggal kenangan, Aletaa sekarang menjelma menjadi sumo yang selalu kelaparan setiap saat.
"Ayolah, kita jalan-jalan ditaman sebentar saja." Eric masih setia membujuk sang istri, menarik tangan gadis itu agar lekas bangkit dari atas kasur yang sudah tak berbentuk lagi.
__ADS_1
Semenjak ibunya Eric tinggal dirumah besar, Aletaa diperlakukan layaknya seorang ratu, di suapi, di manja, jadi tak heran badan bumil yang satu ini menjadi gempal berotot.
Pola makan yang tidak sehat ditambah Aletaa yang malas berolah raga membuat tubuh gadis itu semakin membesar setiap harinya.
"Gak ah, diluar panas." tolak Aletaa mentah-mentah, entah karna bawaan hamil atau karna Aletaa memang pemalas, namun gadis itu benar-benar tak bergairah sampai-sampai tak mau beranjak dari kasurnya sejengkal saja.
Eric menghembuskan nafas prustasi, siang ini pria itu bolos ngantor hanya untuk mendapatkan penolakan dari sang istri.
"Panasnya sehat loh buat si bayi." bujuk Eric yang ke sekian kalinya.
Aletaa akhirnya menurut, walaupun dengan wajah yang cemberut, namun gadis itu pelan-pelan bangun dari kasurnya. "Yasudah, kalo sudah menyangkut masalah si bayi, aku gak bisa nolak." ucap Aletaa sambil menghela nafas malas.
Setelah bujuk rayu yang tak berkesudahan, akhirnya Aletaa mau diajak keluar dari kamarnya.
"Loh Ric, kok Aletaa dibawa keluar?." tanya ibunya Eric saat mendapati menantunya baru saja keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Melihat sang ibu, gelagat aneh mulai Eric tunjukan. Masalah besar baru saja dimulai. "Ya ampun mah, plis untuk hari ini aja jangan manjain Aletaa." umpat pria itu dalam hati.
"Oh ini mah, Aletaa mau Eric ajak berjemur dihalaman." dengan cepat Eric menyahuti ucapan ibunya.
"Hah berjemur?, jangan bercanda deh, nanti kulit anak mamah yang mulus ini jadi kebakar. Jangan aneh-aneh deh Ric, biarin Aletaa istirahat aja dikamarnya." sungut ibunya Eric. Hal ini terulang lagi, sangat sulit rasanya berdebat dengan wanita yang pernah merasakan beratnya kehamilan.
"Eric gak aneh-aneh mah, inikan Eric lakuin biar Aletaa sama bayinya sehat. Kalau keterusan diem dikamar, nanti Aletaa mabuk kasur gimana mah?."
"Kamunih ada-ada aja, mana ada mabuk kasur, yang ada mamah mabuk liat muka kamu, kenapasih kamu gak pergi ke kantor aja."
"Quality time mah." ucap Eric sambil membawa istrinya menjauh dari nenek sihir cerewet.
"Jangan dibawa keluar Aletaa nya!!!." seru ibunya Eric saat melihat anak dan menantunya sudah sampai diambang pintu.
Namun Eric tak mendengarkan, pria itu masih terus melangkah menuju halaman.
__ADS_1
Aletaa hanya bisa tersenyum melihat betapa mesranya ibu dan anak sambung yang satu ini, mungkin inilah rasanya disayangi oleh banyak orang. Apalagi mendapatkan kasih sayang dari ibunya Eric membuat Aletaa terlena.
Mungkin karna ia tak pernah merasakan cinta dari yang namanya ibu.