
Beberapa hari kemudian.
Siang ini Eric dan Aletaa pamit untuk pulang ke rumah besar, tak lupa mereka menyampaikan undangan dari kakek untuk membawa ayah berkunjung.
"Siang nanti jadwalnya ayah terapi, jadi ayah gak bisa, tapi kalau besok ayah ada waktu, ayah sempetin datang ke rumah nak Eric ya." tutur ayah saat mengantar kepergian Eric dan Aletaa dihalaman rumah.
Eric dan Aletaa mengangguk paham. "Yasudah kami duluan ya ayah." tutur Aletaa sambil menyalami tangan ayahnya. Begitupun dengan Eric, pria itu nampak memeluk sang ayah mertua.
Setelah selesai berpamitan, Eric dan Aletaa segera masuk kedalam mobil. Eric segera melajukan mobil itu menuju pusat kota.
Lama didalam mobil hanya ada keheningan. Aletaa nampak tertidur sangat pulas sedangkan Eric fokus mengemudikan mobilnya.
Awalnya keadaan baik-baik saja, hingga Eric merasakan mobilnya terasa berat. Sedetik kemudian mesin mobil mati. "Kenapa ini?." gumam pria itu panik.
Beberapa kali Eric mencoba menyalakan-nya namun tetap tak bisa. Merasakan sesuatu yang aneh, Aletaa mengerejapkan kelopak matanya.
"Kenapa?." tanya gadis itu sambil menatap kearah suaminya.
"Mesin-nya mati." sahut Eric.
Aletaa seketika membuka kedua bola matanya lebar-lebar. "Hah mogok?." tutur gadis itu ikut panik.
Mendengar ucapan istrinya, Eric seketika menatap wajah Aletaa. "Bukan mogok, tapi mesin-nya mati gak bisa dinyalain lagi." tegas pria itu. Menurutnya mogok itu cuman untuk mobil-mobil murah yang biasa dilelang dipasar. Mana mungkin mobil mewah seperti miliknya mogok.
__ADS_1
Aletaa hanya bisa menggaruk dahinya. Gadis itu tak menyahut, Aletaa tahu betul bagaimana sikap suaminya, Eric itu punya ego yang tinggi, Eric tak akan pernah mendengarkan ucapan orang dari kalangan bawah seperti dirinya.
"Aku akan hubungi David, biar dia yang menjemput kita." tutur Eric.
Aletaa hanya mengguman kecil sebagai sahutan.
Setelah menunggu hampir setengah jam, Aletaa mulai merasa bosan. Gadis itu prustasi karna David tak juga datang. "Aku sangat lapar." tutur gadis itu sambil mengelus perutnya yang sudah keroncongan.
"Sabar, sebentar lagi David pasti datang." tutur Eric, pria itu nampak sedang membaca berita diponsel pintarnya.
Aletaa yang mendengar ucapan suaminya itu segera mengerucutkan bibirnnya. Sudah beberapa kali Eric mengatakan hal yang sama. Jawaban-nya selalu saja sabar. Kalau terus sabar, bisa-bisa dia mati kelaparan.
Gadis itu menatap kearah depan, nampak dari kejauhan berdiri sebuah kedai bakso yang ada tapat dipinggir jalan. Aletaa memutuskan untuk keluar dari dalam mobil, dari pada terus jengkel pada suaminya.
Eric yang melihat istrinya pergi tanpa pamit terkesiap. "Mau kemana?." teriak pria itu masih didalam mobil.
mendengar sahutan istrinya, Eric segera keluar dari dalam mobil lalu mengejar sang istri yang sudah berjalan cukup jauh.
"Sayang jangan menyiksa dirimu sendiri, lebih baik kita tunggu David sebentar lagi saja. Kasihan anak kita sayang, kau harus pikirkan dia juga." tutur Eric sambil memeluk istrinya dari belakang. Tak membiarkan Aletaa berjalan satu langkahpun darinya.
Aletaa segera melepaskan pelukan suaminya. "Aku ini pergi untuk menyelamatkan anak kita." sahut gadis itu sambil melangkah pergi dari suaminya.
Mendengar itu Eric kembali memeluk Aletaa dari belakang. "Sayang ini bukan pilihan yang benar, jarak dari sini ke rumah sangat jauh. Bayi kita tak akan kuat." sahut pria itu.
__ADS_1
"Aku ini lapar, aku mau makan, apa salah kalau aku makan disana." tutur Aletaa jengkel, gadis itu segera menunjuk kearah sebuah kedai bakso yang jaraknya tak jauh dari sana.
Eric akhirnya melepaskan sang istri, pria itu sudah salah paham.
Aletaa menyipitkan matanya lalu segera pergi kearah kedai bakso yang ia tuju. Begitulah Aletaa, kalau sudah lapar, gadis itu seperti seekor singa betina ysng sedang datang bulan.
Eric akhirnya hanya bisa mengikuti langkah sang istri.
Pria itu ikut duduk disamping Aletaa. Eric menatap sekeliling dengan tatapan sedikit jijik, tempat kumuh ini?. "Apa tak ada tempat makan yang lain?." tanya pria itu memastikan.
Baginilah kalau sultan. Padahal warung bakso itu sangat bersih dan rapih, tapi dipandangan Eric, keadaan warung terasa begitu kotor.
"Sudah jangan banyak bicara." sahut gadis itu sambil menyipitkan matanya kearah sang suami.
Melihat itu Eric akhirnya hanya bisa diam.
***
Hallo semua, author mau jelasin sesuatu nih, banyak banget yang komentar kok digantung sih, chapternya kok dikit.
Jadi gini ya, alasan author suka gantung-gantung cerita itu karna usul dari kakak author yang kebetulan suka baca novel.
Dia itu lebih suka novel yang digantung-gantung, menurutnya kalo digantung itu bikin penasaran dan semangat buat lanjut chapter selanjutnya.
__ADS_1
Memang pendapat setiap orang itu beda-beda, tapi bukan cuman kakak author aja yang suka novel digantung, banyak temen author yang suka juga novelnya digantung.
Jadi tolong pahami author semuanya.