
"Lalu siapa wanita itu?." Tanya Aletaa.
Eric nampak menghembuskan nafas berat, entah mengapa pria itu merasa kalau Monica tak begitu penting baginya, jadi tak ada gairah saat akan menceritakan perihal asal usul wanita itu.
Tapi karna sudah membuat kesepakatan dengan Aletaa, mau tidak mau Eric harus menceritakan hal itu walaupun dia benar-benar tak ingin membicarakan-nya.
"Dia sahabat sekaligus saudara tiriku."
Jawaban itu cukup mencengangkan, Aletaa nampak terperangah tak percaya mendengar jawaban dari suaminya. "Maksudnya sahabat sekaligus saudara tiri itu bagaimana?." Batin Aletaa masih menerka-nerka. Sebuah hubungan yang sangat rumit.
"Kalau wanita itu saudara tiri anda, kenapa anda tidak senang dengan kehadiran-nya?." Tanya Aletaa.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, wajah Eric yang tadinya sudah suram berubah menjadi lebih murung. Membahas hal itu rasanya membuat Eric muak.
"Kenapa tuan?." Tanya Aletaa lagi, rasa penasaran gadis itu sangat-sangat tinggi. Meluap-luap dan menggebu
"Ya karna dia sahabatku sejak kecil." Jawab Eric dengan nada sedikit naik.
Teringat saat masa kecilnya dulu, Eric dan Monica seakan jadi satu walaupun tak bisa bersama. Gadis kecil putri mantan pelayan setia keluarga itu selalu menjadi teman sejati bagi Eric walaupun mereka tak bisa saling bersentuhan.
__ADS_1
Sampai sekarangpun Eric dan Monica seakan tak bisa dilepaskan. Mereka seakan sudah menjadi belahan jiwa yang tak bisa berpisah. Namun situasi itu berubah setelah ibunda dari Monica yang tadinya pelayan setia dirumah itu menikah dengan ayah Eric.
Rasa sayang yang sudah Eric tanam sejak kecil berubah menjadi rasa benci.
"Lalu apa salahnya tuan, jika dia memang saudari tiri sekaligus sahabat anda, harusnya anda senang karna anda akan selalu bersama dengan sahabat masa kecil anda." Tutur Aletaa.
Eric terdiam. "Kau tidak akan mengerti situasiku Aletaa, Monica adalah cinta pertamaku, bagaimana mungkin aku bisa rela jika harus bersaudara dan berbagi orang tua dengan cinta pertamaku sendiri." Batin Eric menyahut.
Sebuah situasi yang sangat sulit dirasakan Eric saat ini.
Kunjungan Monica seakan menjadi beban besar bagi hatinya, antara cinta dan benci itu tipis, orang yang dulunya dia cintai kini orang itu yang paling dia benci. Walaupun sekarang hanya tersisa kebencian, tapi rasa sayang antar sahabat masih Eric rasakan.
"Tapi aku masih punya banyak pertanyaan."
"Sudah, biarkan otak kecilmu itu beristirahat, sekarang aku ingin sebuah lagu penghantar tidur." Sahut Eric.
Pria itu menghempaskan tubuhnya keatas ranjang lalu menarik tubuh Aletaa kedalam dekapan-nya.
"Tu tuan, aku tidak bisa bernyanyi jika kau memeluku sekencang ini." Aletaa terbatuk-batuk karna dekapan dari Eric yang sangat kencang melilit leher dan tubuhnya membuatnya sulit untuk bernafas.
__ADS_1
"Iya maaf." Perlahan Eric melepas dekapan-nya pada tubuh gadis kecil itu.
"Aku akan mulai bernyanyi.
Ambilkan bulan bu...
Ambilkan bu..." Sebuah nada sumbang melantun begitu menyesakan telinga. Eric nampak membekam bibir gadis itu agar tak mengeluarkan nyanyian mautanya lagi.
"Ya ampun aku lupa kalau nyanyian-nya itu merusak dunia." Batin Eric.
Aletaa memberontak mencoba melepaskan tangan Eric dari mulutnya. "Tuan kenapa kau melakukan ini, bukankah kau yang minta dinyanyikan lagu penghantar tidur." Perotes Aletaa. Gadis itu terengah-engah karna nafasnya hampir saja habis.
"Emmm tak usah menyanyi, peluk saja aku ya." Sahut Eric sambil tertawa canggung.
Aletaa nampak mengerucutkan bibirnya kesal. "Bilang saja kalau suaraku itu jelek." Deliknya sebal.
Walaupun gadis itu terus menggerutu, tapi dia tetap seorang gadis penurut walaupun banyak nolaknya. Aletaa membenarkan posisinya memeluk tubuh Eric yang dua kali lebih besar dari paga tubuhnya.
"Gadis pintar, aku suka gadis nakal yang penurut."
__ADS_1