Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
tak adil?


__ADS_3

Wanita yang baru bangun dari tidurnya itu terus saja menggerutu. "Brengsek, dasar cowok sialan." maki Monica sesaat setelah dirinya membuka mata dan menyadari kalau Alex tak ada disana.


Nampak kamar itu sudah sepi, tak ada tanda-tanda kehadiran Alex. Pria itu sudah pergi dari sana beberapa jam lalu sebelum Monica membuka matanya.


Monica segera mengenakan kembali pakaian yang sudah berceceran dilantai. Gadis itu melirik keatas ranjang. Mata wanita itu terbelalak saat melihat bercak merah diatas sprai, mungkinkah itu bekas noda darah keperawanan-nya yang tadi malam diambil Alex?.


"Alex sialan, beraninya dia main kotor denganku, awas saja kalau aku bertemu dengan-nya lagi, akan kupastikan hidupnya tak akan lama." gerutu wanita itu sambil menarik sprai putih berlumuran noda darah.


Setelah hampir 35 tahun wanita itu menjaga kesucian-nya dengan sepenuh jiwa dan raga. Namun semuanya telah berakhir hanya karna beberapa botol minuman. keperawanan wanita itu direnggut oleh seorang berondong kemarin yang usianya mungkin baru menginjak 25 tahunan.


Sungguh menyebalkan. Namun apalah daya Monica sekarang, semuanya sudah hilang. Dan sialnya lagi saat semalam mereka melakukan-nya, Monica juga ikut menikmati permainan yang Alex mainkan. Jadi tak ada yang pantas di persalahkan, mereka berdua memang sudah salah sejak awal.


Monica segera menggulung sprai itu lalu memasukan-nya kedalam sebuah kantong kresek dan membuangnya kedalam tong sampah.


"Aku harus segera pulang." gumamnya lalu melangkah pergi dari dalam kamar.



Dirumah besar, nampak Aletaa baru saja turun dari dalam mobil. Eric segera membopong tubuh istrinya untuk masuk kedalam rumah.


Nampak kakek sudah bersiap didepan pintu untuk menyambut kedatangan-nya. "Cepat siapkan segelas air hangat." titah kakek pada seorang pelayan.


Eric dan Aletaa nampak semakin mendekat. "Bagaimana keadaan Aletaa sekarang, apa semuanya baik?." tanya kakek.

__ADS_1


"Iya kek, Aletaa baik-baik saja." sahut Eric.


Merekapun segera masuk kedalam rumah. Eric segera mendudukan gadis itu diatas sofa. Karna keadaan Aletaa yang masih sangat lemas, gadis itu akhirnya merebahkan tubuhnya kesandaran sofa agar merasa sedikit lebih baik.


"Minum air hangat dulu, kau pasti lelah setelah perjalanan ini." tutur kakek sambil mengasongkan segelas air yang baru saja dibawakan oleh pelayan kearah gadis itu.


Aletaa meneguk sedikit air itu. "Kek aku sedikit mengantuk, aku akan pergi ke kamarku." pamit Aletaa. Gadis itu menguatkan dirinya untuk berdiri, dia bukan wanita payah yang harus pasrah dan menyerah hanya karna sebuah rasa sakit.


"Eric, bantu istrimu." titah kakek.


Eric yang sedang mengangkat panggilan telpon segera mendekat kearah Aletaa lalu memegang pinggang gadis itu kuat-kuat. Aletaa juga nampak merangkul pundak Eric.


"Mulai sekarang, kalian pakai kamar utama. Aletaa sekarang sedang hamil, tak baik jika harus naik turun tangga setiap hari. jadi jangan menolaknya ya." tutur kakek.


Tak lama setelah Aletaa dan Eric masuk kedalam kamar, nampak Monica masuk kedalam rumah dengan sedikit terburu-buru. Kakek yang melihatnya datang segera memanggil wanita itu.


"Monica, kemarilah!" titah kakek.


Monica yang merasa terpanggil segera mendekat kearah kakek dengan gelagat bingung. "Ya kek, ada perlu apa?" tanyanya.


"Apa kau sudah tahu keadaan Aletaa sekarang?." tanya kakek.


Monica segera menggeleng cepat. "Tidak kek, aku tidak tahu." sahut wanita itu. Dalam benaknya banyak sekali prasangka dan praduga. Apa sekarang Aletaa lumpuh?, atau mungkin sekarang dia buta?.

__ADS_1


"Memangnya Aletaa kenapa kek?" tanya Monica kemudian.


Kakek nampak menghembuskan nafas berat, membuat suasana menjadi misterius dan horor. "Sekarang, Aletaa sedang hamil dan kau akan segera menjadi bibi!." seru kakek sambil meloncat kepelukan wanita itu.


"Ha hamil kek?." tutur Monica masih tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Iya Mon, Aletaa sekarang sedang hamil." sahut kakek antusias.


"Apa?,Aletaa hamil!." batin Monica kaget.


"Benarkah?, aku senang mendengarnya." sahut Monica sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, sekarang aku akan pergi memberi tahu ayah dan ibumu dulu. Mereka pasti sangat senang mengetahui hal ini." tutur kakek lalu segera pergi dari hadapan Monica.


"Tentu."


Setelah kakek pergi, monica segera berlari kearah papiliun tempatnya tinggal. Sesampainya disana, gadis itu menghempaskan tubuhnya keatas ranjang sambil menangis.


"Tak mungkin, Aletaa tak mungkin hamil. Tuhan pasti sedang ingin bermain-main denganku sebentar." racau gadis itu.


Monica benar-benar tak bisa berpikir jernih sekarang. Mimpi buruk apa yang menimpanya. Haruskah ia kehilangan mahkota berharga hanya untuk merayakan kehamilan musuh terbesarnya?.


Dunia ini sangat tak adil.

__ADS_1


__ADS_2