Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
rasa


__ADS_3

Pekikan, jeritan dan teriakan terdengar dari dalam kamar.


Kakek yang masih menunggu diluar ruangan terus berbolak-balik didepan pintu, menunggu kabar dari Aletaa yang masih dipijat.


"Kek ada apa?," tanya David yang tiba-tiba datang, nampak jelas kekhawatiran diwajah tampan pria itu.


"Tidak ada apa-apa, Aletaa sedang dipijat, lebih baik kita minum teh sambil cari angin segar." Sahut kakek, pria tua itu merangkul pundak David lalu membawanya kearah halaman belakang.


David yang tidak tahu cerita dari awalnya, hanya bisa mengikuti langkah kakek sambil masih mencerna apa yang terjadi saat itu.


Sedangkan Aletaa yang masih dipijit, mengaduh-aduh tak karuan. Eric yang menjadi pegangan Aletaa juga ikut menjerit saat tangan Aletaa mencengkram kuat lengan-nya.


Mbok Iyem kembali menarik urat yang ada dikaki Aletaa, membuat gadis itu memekik yang ke sekian kalinya. "Aduh kakiku keram." Aletaa menggigit kuat lengan Eric yang sedari tadi ia remas.


Sontak pria tampan itu juga ikut memekik. Ingin melepaskan gigitan Aletaa juga tak bisa. Apalah daya Eric sekarang. Pria itu hanya bisa pasrah sambil *******-***** sprai untuk sedikit mengalihkan rasa sakitnya.


"Nah ini baru suami istri, yang satunya sakit, satunya juga harus rasain sakit yang sama." tutur Mbok Iyem sambil tertawa pelan.

__ADS_1


Drama itu masih berlanjut hingga Mbok Iyah menarik jemari Aletaa dan mengakhuri terapi pijatnya.


Eric bernafas lega saat gigi tajam Aletaa perlahan terlepas dari lengan-nya.


Nampak guratan-guratan merah dilengan Eric, bekas gigi-gigi tajam Aletaa.


"Lain kali kalau main jangan berlebihan ya." Pesan Mbok Iyem sebelum meninggalkan kamar.


Akhirnya tubuh kaku Aletaa perlahan bisa digerakan. Aletaa merenggangkan otot-ototnya, terdengar suara-suara saat sendi gadis itu diluruskan. Membuat Aletaa memejamkan matanya merasakan rasa nikmat yang baru pertama kali ia rasakan.


Aletaa hanya mengangguk sambil tertawa. Eric Bergesas pergi dengan sebal. "Sudah dibantu malah dibalas tawa." Decaknya sebal.


Namun sebelum Eric pergi Aletaa meringis merasakan bekas pijitan yang masih terasa sakit. Sontak Eric kembali mendekat kearah Aletaa. Nampak sebuah kekhawatiran diwajah tampan-nya.


"Apa masih ada yang sakit?," Tanya pria itu. Ada sebuah rasa simpati entah benih-benih cinta dihati Eric untuk Aletaa. Namun yang terpenting Eric takut Aletaa merasakan sakit, Eric takut kalau Aletaa pergi dari sisinya.


Entah apa yang Eric rasakan. Rasanya sungguh aneh, Eric sendiri tak tahu apa yang ia rasakan.

__ADS_1


Aletaa tertawa. "Apa kau mengkhawatirkanku?." Tanya gadis itu.


Eric memutar wajahnya, membuat Aketaa kembali tertawa.


"Maafkan aku tuan, aku tidak bermaksud mengejekmu. Tapi bisakah aku meminta sedikit bantuan darimu?." Tanya gadis itu sambil menghentikan tawanya.


Eric yang tadi sebal kembali menatap Aletaa. "Apa?." Tanyanya.


"Kakiku masih pegal, bisakah kau membantuku ke kamar mandi?, tubuhku lengket karna minyak pijit tadi."


Eric tak menjawab, pria itu segera bertindak, membopong tubuh Aletaa dalam sekali angkat lalu membawanya kearah kamar mandi.


Gadis itu mengalungkan tangan-nya dipundak Erik. Bibirnya sedikit melengkung. Ada getaran aneh saat tubuhnya dan Eric berjarak sangat dekat.


Namun Aletaa dan Eric sama-sama tak mempedulikan rasa itu. Mereka hanya suami istri dalam jangka waktu. Saat waktu kontrak mereka habis, mereka akan kembali ke kehidupan-nya masing-masing.


Seakan jadi dua orang yang tak saling mengenal dan tak pernah bertemu sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2