
Sore ini, Aletaa masih tampak sibuk dengan sendok ditangan-nya. Gadis itu nampak sedang menyuapi sang adik yang masih asik bermain dengan mobil-mobilan barunya.
Nampak juga Monica duduk tak jauh dari tempat Aletaa berada, wanita itu tersenyum cerah sambil memperhatikan wajah Dion yang lucu.
Tiba-tiba ponsel Aletaa berderit, gadis itu segera meraih ponsel yang ia simpan diatas meja.
"Hallo?."
"Ayah dan ibu sudah sampai dibandara, kalian ada dimana?." tanya wanita paruh baya dari ujung telpon.
Aletaa mengernyitkan dahinya. "Ini siapa?." tanya gadis itu.
"Ini ayah dan ibu, apa kalian lupa menjemput kami dibandara?." seketika Aletaa tersentak, benarkah ini ayah dan ibunya?. Bukankah 2 jam lalu pesawat yang dinaiki ayah ibunya jatuh kelaut.
Aletaa tak bisa berpikir jernih, pikiran-nya campur aduk antara senang, sedih dan sedikit ragu. Benarkah itu ayah dan ibunya Eric?.
"Dion cepat ini satu suapan lagi, kakak punya pekerjaan penting." ucap Aletaa senang Ayah dan ibunya Eric selamat.
"Pelgi?." tanya bocah tiga tahunan itu.
Aletaa mengangguk. "Iya Dion, kakak harus pergi, Dion tunggu dirumah sama kak Monica ya." ucap Aletaa.
Seketika Dion bangkit kemudian memegang kaki Aletaa kuat-kuat. "Ikut." rengek bocah itu.
__ADS_1
Aletaa tak bisa berbuat apa-apa, pada akhirnya Dion harus ikut dengan-nya pergi ke bandara.
***
Aletaa menghentikan mobilnya tepat didepan caffe yang ada disebrang bandara. Kemudia ia dan Dion keluar dari dalam mobil.
Dion nampak sedang menikmati es krim. Saat sedang diperjalanan menuju bandara, Dion merengek minta dibelikan es krim.
Aletaa beralih pada ponselnya, gadis itu kembali menelpon nompr yang tak ia kenal tadi.
"Aku ada didepan Caffe, mobil warna kuning." ucap Aletaa.
Tak berselang lama, dua orang paruh baya mendekat kearahnya. "Aletaa." seru si wanita sambil memeluk tubuh Aletaa erat.
"Gak kerasa cucu ku sudah tumbuh besar, dan kau juga sekarang sedang hamil?." ucap wanita itu antusias.
Mendengar ucapan wanita itu, dahi Aletaa mengernyit, "Cucu?, bukankah Dion anaknya?." batin Aletaa heran.
Aletaa mendapati banyak keanehan dari dua orang paruh baya yang mengaku sebagai ayah dan ibunya Eric.
Kemudian dengan sengaja gadis itu menyenggol Dion, membuat es krim coklat yang sedang dion pegang jatuh mengenai bajunya.
"Ya ampun Dion, kata mama juga jangan beli es krim yang ditusuk kaya gini, jadinya kan belepotan." ucap Aletaa berpura-pura panik seperti ibu-ibu kebanyakan.
__ADS_1
"Biarlah, namanya juga anak-anak." sela si pria paruh baya.
"Aku harus ke kamar mandi dulu. Dia bisa alergi kalau noda es krim dibajunya gak cepet dibuang." ucap Aletaa.
"Biar ibu temani." ucap wanita paruh baya itu.
"Tak usah, lebih baik kalian tunggu saja dimobil, aku gak akan lama kok." sahut Aletaa.
Gadis itu segera berjalan kearah kamar mandi umum yang berada tak jauh dari tempat terparkirnya mobil. Tak lama setelah itu, suara pintu mobil yang ditutup pun terdengar. Gadis itu menoleh sekilas untuk memastikan apakah dua orang paruh baya itu benar-benar sudah masuk kedalan mobil.
Dengan segera Aletaa mengunci mobil itu lewat remot kontrol jarak jauh yang sedang ia pegang.
Srtelah sampai dikamar mandi, ponsel Aletaa kembali berderit. Gadis itu segera mengangkatnya.
"Hallo Aletaa?, ayah dan ibu sudah mengabariku kalau mereka tak jadi naik pesawat yang jatuh tiga jam lalu. Sekarang mereka masih ada dibandara untuk menunggu keberangkatan selanjutnya." ucap Eric.
"Lalu siapa yang sekarang ada bersamaku?." tanya gadis itu dengan suara sedikit bergetar.
"Apa?, kau sekarang ada dimana?, biar aku dan David bisa segera menjemputmu." sentak Eric kaget.
"Aku ada didepan caffe yang tadi, sedangkan dua orang itu sekarang ada didalam mobil." sahut Aletaa.
"Baiklah, kau sekarang duduk didekat pos keamanan yang ada disekitaran sana. Karna bukan mustahil penipu itu punya rekan lain." ucap Eric kemudian mematikan ponselnya.
__ADS_1
Mengikuti saran dari Eric, Aletaa segera menyebrangi jalan kemudian mendekat kesalah satu pos keamanan yang berada tepat didepan bandara.