
Tak terasa hari sudah semakin gelap, jarum jam didingding sudah menunjukan kearah angka 22.00. Sudah cukup larut namun nmpaknya Aletaa belum bisa memejamkan matanya sama sekali.
Gadis itu gundah, dia sangat penasaran dengan apa yang sedang kakek lakukan sekarang. Aletaa tahu betul kalau kakek sekarang sedang merasakan sakit yang luar biasa dihatinya, lalu sekarang pria tua itu hatus menemani orang yang membuat hatinya sakit. Bagaimana mungkin kakek bisa bertahan, hatinya pasti tersayat-sayat setiap kali melihat wajah Monica.
Eric yang saat itu baru saja masuk kedalam kamar segera mendekat kearah Aletaa yang sedang terduduk diam diatas sebuah sofa panjang ruangan itu. "Jam segini kenapa belum tidur?." tanya Eric kemudian duduk disamping sang istri.
"Aku khawatir pada kakek, kondisinya sekarang belum begitu baik, tapi dia harus tinggal dirumah sakit untuk menemani mbak Monica, aku takut penyakit kakek akan kambuh jika melihat wajah mbak Monica." tutur Aletaa terus terang.
Gadis itu menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami. Eric yang paham akan perasaan Aletaa hanya bisa mengelus lembut pucuk kepala gadis itu. "Tak usah khawatir, disanakan ada David, lagi pula jika penyakit kakek kambuh, banyak dokter yang bisa menanganinya, jadi kau tak usah hawatirkan hal itu." sahut Eric.
Aletaa hanya mengangguk sambil tersenyum.
Cukup lama dalam ruangan hanya ada keheningan. "Apa kau akan bersedia membantuku merawat anak mbak Monica nanti?." tanya Aletaa memuka pembicaraan.
Eric menatap istrinya heran. "Kenapa bertanya seperti itu?." sahut pria itu tak paham dengan pertanyaan sang istri.
"Ya kan kau dengar sendiri apa yang dokter katakan tadi sore, kalau janin mbak Monica bisa diselamatkan, janin itu akan mengalami kecacatan. Aku takut jika mbak Monica tak mau menerima bayinya nanti, jadi jika hal itu terjadi, aku ingin mengangkat anak mbak Monica menjadi anak kita." ucap Aletaa blak-blakan.
Kekhawatiran gadis itu tak cukup hanya pada kakek seorang, Aletaa juga takut jika bayi Monica nanti tak punya pengakuan dari keluarganya sendiri.
Maka dari itu, Aletaa ingin mengadopsi anak Monica kalau-kalau nanti Monica tak senang akan kehadiran anaknya.
Eric menggumam kecil. "Monica tak akan sekejam itu pada anaknya, jadi kau jangan terlalu khawatir dengan keadaan bayinya nanti, sedikit demi sedikit, Monica pasti akan menaruh hati pada bayinya." sahut Eric.
"Seperti kau padaku." lanjut pria itu sambil menggoda sang istri.
__ADS_1
Aletaa yang mendegarnya seketika bersemu, "Apa sih yang kamu bicarakan." sahut gadis itu sambil senyum-senyum tak jelas.
Ini situasi aneh, Aletaa bergegas pergi namun sayang tangan-nya terlebih dahulu digenggam Eric, dalam sekali tarikan, gadis itu jatuh lalu duduk diatas pangkuan sang suami.
"Lepaskan." seru Aletaa sambil mencoba melepaskan diri dari kungkungan sang suami.
"Tak usah malu, akui saja kalau kau mencintaiku, aku sudah tahu segalanya dari pesan singkat yang sering kau kirimkan pada David." sahut Eric sambil tersenyum menyeringai.
Seketika mata Aletaa terbuka. "Jangan bilang kalau kau sering memainkan hp ku saat aku tak ada." seru gadis itu tak terima.
Eric hanya tersenyum angkuh sambil mengangguk cepat. "Kau juga sama saja, aku tahu kalau kau sering memeriksa hp ku. Sebenarnya apa yang kau cari?, apa kau takut aku selingkuh." sahut Eric sambil tertawa jahil.
"Tidak." Elak Aletaa.
Gadis itu memukul-mukul pelan dada bidang sang suami. Jika terus begini, bisa-bisa Eric mengungkap kelakuan-nya yang diam-diam suka memperhatikan pria itu.
"Gak mau." sahut Aletaa sambil kembali memberontak.
"Ini sudah menjadi hukumanmu, kita habiskan malam ini dengan adegan celap celup seperti biasa." ucap Eric sambil tertawa.
"Tidak!."
Perlahan bibir nakal pria itu mengecup lembut leher sang istri, sangat intens sampai Aletaapun terlonjak karna kegelian.
"Lepaskan, itu geli!." seru Aletaa sambil tertawa.
__ADS_1
Tok...tok..tok...
Tiba-tiba sebuah ketukan mendarat dipintu kamar.
"Ada yang datang." tutur Aletaa sambil mendorong dada bidang Eric agar menghentikan permainan-nya.
Namun Eric tak mempedulikan, pria itu masih senang bermanja ria di leher jenjang sang istri.
Ketukan pintu kembali terdengar. Kini terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Aletaa kembali mendorong Eric. "Hentikan, mungkin ada hal penting." tutur Aletaa sambil membekam mulut sang suami agar tak kembali menciuminya.
Eric berdesis dengan kesal. "Ada perlu apa?." Teriak pria itu.
Tak lama terdengar sahutan dari orang yang ada diluar. "Tuan, anda punya tamu sepesial." sahut pelayan yang ada diluar.
Aletaa segera mengarahkan pandangan-nya pada sang suami. "Kau punya pacar?." tanya gadis itu.
Sontak Eric menggeleng. Mana berani ia selingkuh dibelakang Aletaa. Bisa-bisa burungnya tak bisa masuk sangkar lagi.
"Siapa?." Eric kembali berteriak.
"Ini orang sepesial tuan, lebih baik anda cepat-cepat menemuinya." sahut pelayan itu lagi.
Eric berpikir keras. Siapa tamu yang datang malam-malam begini?, tak mungkinkan kalau itu David, kalau David datang dan punya keperluan dengan Eric, pasti David akan menemuinya secara langsung, lagipula David sekarang sedang dirumah sakit, mana mungkin David di izinkan pergi oleh kakek.
__ADS_1
Lalu siapa orang yang sepesial itu?.