
Mentari nampak sudah berada tepat diatas kepala, cuaca hari ini sangat panas, sampai ruangan berac-pun masih terasa pengap dan tandus seperti di gurun sahara.
Namun lain dari orang kebanyakan, Aletaa yang masih tertidur tampak tak terganggu dengan cuaca panas hari itu. Gadis yang sedang bugil itu masih menggulung tubuhnya dibawah selimut tipis.
Tubuhnya terasa sangat nyaman apalagi ac menyala tepat diatas kepalanya. Membuat gadis itu semakin sulit untul bangun dari mimpinya.0
Aletaa yang memang sudah sulit bangun semenjak kecil tak bisa keluar dari mimpinya yang terlalu indah kalau tidak dibangunkan. Biasanya ada beberapa pelayan yang membangunkan-nya saat pagi menjelang.
Namun hari ini nampak berbeda. Dari pagi suasana rumah itu sepi. Tak ada satupun yang berani membangunkan Aletaa, sesuai arahan yang diberikan Eric. Termasuk kakeknya sekalipun.
Jadi biarlah gadis kebo itu bangun sendiri untuk sekali ini saja, walaupun mungkin matanya akan benar-benar terbuka saat hari sudah mulai gelap.
Diluar ruangan, nampak dua orang pelayan berbisik-bisik. apakah mereka harus masuk kedalam kamar?. Hari sudah siang, namun nona nya belum juga keluar untuk sarapan. Tentu para pelayan dirumah itu yang sudah terlanjur sayang pada Aletaa merasa khawatir. Takut nona nya sakit karna telat makan.
Kedua pelayan itu masih bernegosiasi. Kalau mereka masuk, ancaman dari Eric membuat nyali mereka citu. Tapi kalau tidak masuk, bagaimana dengan nasib Aletaa.
"Ketuk saja pintunya." Putus seorang pelayan. Teman-nya mengangguk lalu mulai mengetuk pintu kamar itu beberapa kali.
"Nona, anda belum sarapan, apa kami harus membawakan-nya atau anda yang akan turun untuk mengambilnya sendiri?," Seorang pelayan bersuara dari luar kamar. Tak mendengar jawaban dari Aletaa, pelayan itu kembali mengetuk pintu.
Tak mendapatkan balasan lagi, keduanya pasrah dan menyerah.
Merekapun cepat berlalu dari depan pintu kamar Aletaa, mereka tahu betul kalau tuan-nya menyimpan cctv didepan pintu kamar itu untuk memantau pergerakan Aletaa dan siapapun yang ada didekatnya.
__ADS_1
Kalau Eric sampai mengetahui ada orang yang berani melanggar perintahnya, pasti ia akan murka besar, bukan hanya pada orang itu, tapi juga pada yang lain-nya.
Maka dari itu siapapun tak ada yang berani pada Eric. Hanya orang yang bernyali tinggi yang bisa sedikit melanggarnya, itupun sembunyi-sembunyi karna mereka terlalu takut pada ancaman yang Eric berikan.
Seketika lorong itu kembali sepi dan sunyi. Aletaa yang tadi sempat mendengar suara ketukan mengerjapkan matanya.
Aletaa terduduk sambil merenggangkan otot-ototnya. Gadis itu terkaget saat ia mendapati tubuhnya tak terbalut apapun.
Gadis itu beranjak dari ranjang empuknya, bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama gadis itu keluar dengan memakai jubah mandi dan handuk kecil yang dililitkan dikepala. "Punggungku terasa patah." Keluhnya sambil memijat-mijat pundaknya yang kaku.
Gadis itu duduk didepan meja rias, matanya berkeliling menyusuri setiap lekukan diwajah cantiknya. Nampak bulatan hitam dikedua kelopak matanya.
Aletaa mencoba menutupinya dengan krim wajah warna senada dengan kulitnya. Namun nampaknya bekas itu tak tertutupi dengan merata, masih ada beberapa bercak yang tampak terlihat jelas.
Akhirnya muncul sebuah ide dibenak Aletaa. Gadis itu mulai mencari pakaian-nya.
Setelah cukup lama bergelut dengan pakaian dan pakaian. Akhirnya terciptalah styl berpakaian ala eoni-eoni Korea. Aletaa memakai dres sepaha warna kelabu. Pinggangnya ia ikat dengan ikat pinggang yang cukup besar.
Gadis itu juga memakai syal dan mantel warna senada dengan dresnya. Hari yang panas tak menyurutkan niat hati Aletaa untuk memakai pakaian khas musim dingin itu. Daripada merasa malu bila ada yang melihat ****** dilehernya, lebih baik gadis itu berkorban sedikit untuk menutupinya. Walaupun caranya terbilang cukup ekstrim.
Biasanya orang kebanyakan memilih memakai baju tipis saat cuaca panas. Tapi berbeda dengan Aletaa, dia lebih memilih menutup tubuhnya seperti orang yang akan pergi ke kutub utara.
__ADS_1
"Kalau beginikan aman, Aletaa kau benar-benar pintar." Gadis itu berdrcak sambil memuji dirinya sendiri.
Sebelum keluar kamar, Aletaa mendekat kearah ranjang, rasanya tadi malam ia menggulung sprai penuh darah dan menyimpan-nya di sisi ranjang.
Namun setelah lama mencari, sprai yang menjadi saksi bisu kejadian semalam hilang tampa jejak. Aletaa sambai menunduk-nunduk mencarinya dibawah ranjang. Barang kali sprai itu jatuh lalu masuk kedalam kolong-kolong.
Namun pencarian-nya nihil tak membuahkan hasil.
Gadis ituvpanik sepanik-paniknya
"Bagaimana kalau sprai itu diambil pelayan dan dipajang didingding?, mau ditaro dimana mukaku yang cantik ini?." Gadis itu mendumel sambil memukul-mukul dahinya.
Percuma saja kalau cupangnya tertutupi, tapi sprainya dibuka-buka. Aletaa tetap akan merasa malu, bahkan lebih dari malu.
Dimanakah sprai itu herada?
Ada yang tau dimana spainya?
Kasih tahulah, Aletaa mau adain sayembara katanya.
Tapi cuman katanya๐๐๐. Jangan tagih ke authornya, soalnya author lagi kere kaya kera.?
Siapa yang bisa menjawab kemana sprai itu berada, akan author tulis namanya di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Pokonya kalian akan jadi pahlawan untuk Aletaa๐๐๐.