Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
hemmm Aletaa


__ADS_3

Tak percaya, bagaimana mungkin Monica bisa hamil?. Aletaa menatap bola mata Eric lekat, mencari celah kebohongan dari pria itu. Bagaimana mungkin Monica yang belum punya pasangan bisa hamil?.


Eric memalingkan pandangan-nya kearah lain. Tatapan Aletaa yang bercampur rasa cemburu membuat Eric sangat takut. "Apa lihat-lihat?, kau curiga pada suami mu sendiri?." tutur Eric sambil menutup wajah Aletaa dengan telapak tangan-nya.


Seketika Aletaa menghempas tangan itu. Bibirnya mengerucut tak suka. " Jangan-jangan mbak Monica hamil sama kamu?." seru Aletaa sambil mengangkat telunjuknya kedepan wajah Eric.


Eric hanya tersenyum, membuat Aletaa semakin marah.


Gadis itu ngambek, lalu segera pergi tanpa arah dan tujuan. Hingga tanpa sengaja Aletaa sampai dihalaman belakang fila.


Aletaa nampak duduk ditepi kolam dengan kesal. Pikiran buruk mulai menghantuinya. Bagaimana jika itu benar?, bagaimana jika Monica benar mengandung anak Eric?.


Tak lama Eric datang lalu duduk disamping Aletaa. "ngambek nih?." gurau pria itu. Aletaa tak menggubris, gadis itu masih terlihat sangat kesal.


"Apa kamu lupa kalau aku gak bisa pegang wanita lain?." tutur pria itu terdengar begitu lembut. Eric meremang, andai penyakit aneh ini tak ada ditubuhnya, ingin sekali Eric menjadi buaya darat yang punya banyak wanita. Hanya saja nasibnya begitu buruk, harus tetap setia pada satu wanita seumur hidupnya.

__ADS_1


Mendengar penuturan Eric, Aletaa tersadar, Eric akan tetap jadi miliknya walaupun hati pria itu milik orang lain. Gadis itu kembali tersenyum. " Aku senang karna bisa menjadi hal tersepesial untukmu." ucap gadis itu.


Rasa kesal yang tadi sempat ada dalam hatinya kini berubah menjadi kebahagiasn yang tiada tara.


Eric melirik kearah istrinya. Tersenyum manis pada gadis itu. Tangan-nya mulai merangkul pundak Aletaa, membawanya agar menyandar pada pundak kekarnya.


"Aku juga senang karna kau yang diciptakan tuhan untuk menjadi wanita terspesial yang ada dalam hidupku."


Langit menjadi saksi, tanah menjadi bukti. Dua hati sudah mengakui rasa, namun belum juga berani mengatakan cinta.


***


Tak terasa hari mulai gelap, Eric dan Aletaa memutuskan untuk menginap. Sayang jika mereka tak bisa menikmati indahnya fila itu lebih lama lagi.


"Aku akan coba temui mbak Monica besok pagi saja." tutur Aletaa saat dia dan suaminya sedang ada didalam kamar.

__ADS_1


Aletaa tak berani jika harus menemui Monica sekarang, dia perlu waktu untuk menguatkan diri dan berani melihat wanita yang hampir mencelakainya dulu.


Eric hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


Cukup lama didalam kamar hanya ada keheningan, Eric masih sibuk dengan ponselnya, sedangkan Aletaa sibuk dengan beberapa ritual perawatan kulit sebelum tidur.


Biasanya Aletaa tak melakukan perawatan semacam itu saat mau tidur, kalau sudah cuci tangan dan cuci kaki, gadis itu biasanya langsung tidur tanpa memikirkan penampilan-nya. Tapi malam ini entah mengapa auranya berbeda.


Gadis itu ingin terlihat cantik didepan suaminya.


Setelah selesai dengan per-kriman, Aletaa mengoleskan gincu merah merona dibibir seksinya.


Gadis itu melirik kearah Eric sekilas, suaminya masih sibuk dengan ponsel ditangan-nya. Aletaa kembali melihat penampilan-nya didepan cermin.


Bulu mata lentik, pipi yang merah merona, bibirnya juga tak kalah indah.

__ADS_1


"Kau terlihat sangat cantik Aletaa." puji gadis itu dalam hati.


__ADS_2