
Eric yang mendengar gedoran pintu dari arah kamar mandi segera mendekat kearahnya. "Wanita itu mau apa lagi?," umpatnya kesal.
Didalam kamar mandi yang terkunci, gadis itu masih terus mengedornya, sesekli Aletaa berteriak meminta pertolongan siapapun yang mungkin saja melintas didepan kamarnya.
Gadis itu benar-benar tidak tahu siapa yang mengunci pintunya, seingatnya dia tadi tidak menguncinya bahkan hampir membuatnya terbuka.
"Ya ampun, bagaimana jika tidak ada yang membukanya, apa aku akan tidur disini?" Gumam gadis itu, matanya melirik sekeliling. Kamar mandi yang basah dan dingin, apa ia sanggup tidur disana?. Apalagi tidak ada kasur, bantal dan selimut empuknya didalam sana. Aletaa brigidik membayangkan kalau ia harus tidur disana malam ini.
Gadis itu kembali menggedor pintu. "Tolong siapapun buka pintunya!." Tenggorokan-nya terasa sangat kering karna terlalu lama berteriak-teriak. Tapi dia tak akan berhenti, sebelum pintu kamar mandinya dibuka, Aletaa akan terus berusaha daripada ia harus tidur didalam kamar mandi.
"Hey nona ratu, buka saja pintunya, jangan mencari-cari alasan untuk diperhatikan olehku. Aku tau kau pasti ingin mengandung anaku, tapi tak perlu melakukan hal seperti. Suatu hari nanti, kalau aku siap, aku akan memberikan-nya padamu." Eric berdecak sebal. Matanya melihat sekeliling, penerangan redup dengan hamparan bunga-bunga diatas kasur dan lantai. Lalu beberapa lilin aroma yang menambah nuansa romantis dikamar itu. Bisa disimpulkan kalau Aletaa ingin menghabiskan malam ini bersamanya.
Aletaa yang bisa mendengar ucapan Eric, mencernanya dengan akal sehat. "Kenapa Eric berkata seperti itu, memangnya apa yang aku lakukan?, rasanya aku tak melakukan apa-apa." Gumam Aletaa meminta jawaban.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya tidak ingin diperhatikan oleh anda, dan saya juga tidak meminta anda untuk membuat saya hamil secepat ini. Saya terkunci dikamar mandi, tolong bantu buka pintunya tuan." Aletaa berucap dengan nada lemas. Apa yang pria itu pikirkan tentangnya?.
Eric yang mendengarnya segera membuka pintu itu. Dari dalam kamar mandi nampak Aletaa tercengang dengan apa yang ia lihat. "A apa ini tuan?." Ujarnya dengan terbata-bata.
"Kenapa bertanya padaku?, bukankah ini ulahmu?." Sahut Eric dengan kesal.
Aletaa mengernyitkan dahinya. "Dari tadi aku terkunci dikamar mandi, mana bisa aku melakukan semua ini." Aletaa membela diri. Memang begitu kenyataan-nya, dia tak tahu menahu dengan apa yang terjadi pada kamarnya.
"Pasti ini perbuatan anda kan?, anda ingin mencuri star didepan saya. Anda pasti membiarkan saya terkunci didalam kamar mandi lalu anda mengubah penampilan kamar saya menjadi begini kan?." Lanjutnya melayangkan tuduhan pada Eric yang juga tidak tahu sama sekali dengan apa yang menimpa mereka saat ini.
Lama keduanya saling diam. Banyak sekali kecurigaan diantara mereka. Batin keduanya saling menuduh satu sama lain. Padahal mereka berdua tak salah dalam hal ini. Tapi kakek yang salah.
Tampa berkata, Eric berjalan kearah pintu keluar. Pria itu berusaha membukanya tapi pintu tetap tak bisa dibuka. "Apa pintunya terkunci?." Aletaa yang melihat Eric berusaha kuat membukanya segera mendekat lalu membantu pria itu.
__ADS_1
Namun sekuat apapun mereka berusaha, pintu tetap tak bisa dibuka.
"Huh ini percuma." Aletaa menyerah, dengan nafas tersengal-sengal gadis itu berjalan kearah ranjang lalu merentangkan tubuhnya karna lelah.
Eric juga nampak mengikutinya. Pria itu nampak berpikir keras. "Bisa dipastikan kalau kakek yang melakukan hal ini." Pria itu menerka-nerka.
"Tidak mungkin." Aletaa mengelak.
"Apanya yang tidak mungkin?, kakek itu mantan play boy sejati. Mudah untuknya membuat dekorasi honeymoon seperti ini. Dan satu lagi, tadi kakek datang padaku dengan gelagat aneh." Ujar Eric.
Aletaa hanya memikirkan-nya sejenak lalu berjalan kearah lemari. Matanya terbelalak saat tak menemukan satupun pakaian miliknya.
"Kemana semua pakaianku?," gadis itu terus mencari disetiap sudut lemari.
__ADS_1
Kali ini dia juga yakin kalau kakek yang melakukan-nya.