Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
bertemu sang idola


__ADS_3

Setelah cukup lama, Eric dan Aletaa akhirnya keluar dari pancuran. "Ternyata jadul itu sulit." keluh Eric, sudah lututnya pegal karna terlalu lama jongkok, celananya juga ikut basah karna ceboknya susah.


Aletaa hanya bisa menahan tertawanya. Beginilah kalau sultan masuk kampung. Mereka berdua terus berjalan kearah Dila, nampak bumil itu sedang meneduh dibawah pohon pisang tak jauh dari pancuran.


"Pak Eric kok celananya basah?." tutur Dila saat menyadari celana Eric basah diberapa bagian-nya.


"Kalian terbiasa pakai jam*an kaya gini?." Eric balik bertanya, begitu hebat orang-orang di kampung. Sultan aja keder pakai jam*an mereka. Tapi kok aneh, pas orang kampung datang ke kota, mereka gak terlalu susah ikutin cara hidup orang kota, contohnya Aletaa.


"Namanya juga orang kampung pak, kami lebih cenderung mengikuti tradisi turun temurun dari nenek moyang kami, pancuran ini cuman satu dari banyaknya kearipan lokal dikampung." jelas Dila.


Eric hanya mengangguk.


"Oh iya, bu Aletaa maafkan ucapan nenek saya tadi ya, dia cuman bercanda bu, justru dia mendoakan agar bayi ibu sehat sampai waktu lahiran nanti." sambung Dila.


Aletaa mengangguk. "Tak apa, saya lega mendengar itu." sahut Aletaa. Gadis itu akhirnya bisa bernafas lega, kekhawatiran-nya tanpa alasan.

__ADS_1


"Tapi kenapa dia bisa tahu nama kakek saya?, padahal sudah hampir 10 tahun kakek tak pernah lagi muncul ke media." tukas Eric bingung.


"Sayapun kurang paham, tapi kata nenek saya, beliau dan pak Willy berteman dekat sewaktu jaman sekolah dulu." sahut Dila.


Eric berpikir sejenak, pria itu tahu betul siapa-siapa teman kakeknya waktu kecil, dari mulai yang propesinya petani sampai pejabat, Eric kenal semuanya. Tapi kenapa nenek ini mengatakan dia juga teman kakek, kalau iya, pasti Eric sudah tahu dari awal.


Saat masih dalam mode berpikir, tiba-tiba perut Eric kembali mulas. "Kita kembali ke kelinik saja, aku ingin diperiksa pak mantri, sepertinya ini diare." tutur Eric sambil tangan-nya meraih lengan Aletaa agar lekas pergi dari tempat itu.


Aletaa hanya bisa mengikuti langkah suaminya, Dila juga nampak mengikuti pasangan itu dari belakang.


Pantas jika sultan mencret.


Setelah sampai didekat warung milik ayah Dila, Eric kembali berlari mendekat kearah wc umum yang berada tepat disamping klinik.


Dila dan Aletaa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil sesekali tertawa bersama. Keduanyapun singgah didepan warung ayah Dila dan duduk dikursi kayu yang ada disana.

__ADS_1


"Pak makasih udah anterin pak Eric ke rumah." seru Dila pada ayahnya.


Pemilik warung yang nampak sedang merapikan beberapa kardus seketika terdiam. Rasanya dari tadi ia tak melihat ataupun mengantarkan orang bernama Eric kerumah putrinya.


"Siapa Eric?." sahut bapak pemilik warung.


"Ih bapaknih, ituloh pak Eric pengusaha sukses yang suka masuk TV, ini istrinya." tutur Dila sambil menunjuk Aletaa yang sedang duduk disampingnya.


Bapak itu nampak mengedarkan pandangan-nya kearah Aletaa. "Ini mbak yang pagi tadi kan?. Kalau ini istri pak Eric berarti," pria itu kehilangan kata-kata karna terlalu bahagia. Seorang sultan jajan diwarung reodnya?. Bahkan istrinya makan nasi masakan bapak itu. Mimpi Apa ini?.


Bapak pemilik warung segera mendekat kearah Aletaa. "Saya penggemar berat suami anda, mohon maaf karna tak mengenal kalian dari awal. Sekarang dimana pak Eric?." seru Bapak itu.


"Suami saya sedang berada dikamar mandi." sahut Aletaa.


Wajah pria tua itu nampak berseri-seri, tak disangka dia bisa bertemu sang idola. Walaupun penglihatan bapak itu sudah mulai kabur, tapi pendengaran-nya mengingat dengan jelas suara Eric.

__ADS_1


Tapi ada yang sedikit mengganjal dipikiran-nya. Suara Eric terdengar berbeda dari biasanya, Suara Eric yang biasanya terdengar lantang dan sedikit berat, pagi ini suaranya terdengar serak seperti suara anak ayam.


__ADS_2