Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
warung


__ADS_3

Eric nampak memesan secangkir kopi diwarung itu, sedangkan Aletaa hanya duduk menemani suaminya.


"Tenang saja, dia tak akan apa-apa, lagi pula obat tidurnya dosis rendah. Jadi jangan terlalu khawatir." tutur Eric mencoba menenangkan.


Namun tetap saja, Aletaa sangat khawatir pada kondisi bayinya Monica, apalagi keadaan Monica sekarang sedang tak begitu baik, bagaimana jika Monica keguguran dan kehilangan bayinya?.


Karna terlalu khawatir, tanpa sadar tangan gadis itu mengambil satu buah gorengan hangat yang baru disajikan penjual. Kekhawatiran ini membuatnya lapar.


Eric yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil menahan tawa, istrinya dari dulu tak pernah berubah. Saat sedang cemas akan suatu masalah, Aletaa akan melampiaskan kecemasan-nya itu pada makanan.


Dalam waktu yang singkat, tiga buah bakwan dan satu pisang goreng ludes dilahap bumil kelaparan.


"Lagi?." tanya Eric kembali menawari satu pisang goreng yang ada ditangan-nya.

__ADS_1


Aletaa hanya mengangguk sambil mengambil pisang dari tangan Eric, mata gadis itu tak pernah lepas dari kelinik yang ada disebrangnya.Terus memantau bagaimana pekerjaan pak mantri yang sedang menangani Monica.


"Istrinya sedang hamil ya mas?." tanya bapak pemilik warung.


Eric mengangguk "Iya pak, memangnya kenapa?." sahut pria itu.


"Tidak apa-apa kok mas, cuman istrinya sama persis kaya anak saya yang lagi hamil juga, kalau ditawarin makan suka bilang gak mau, tapi kalau makanan-nya udah didepan mata, pasti gak bisa nolak." cerita pria tua itu.


Aletaa malu sendiri karna mendengar penuturan bapak itu. "Mungkin itu sifat alami ibu hamil pak." sahut Eric ramah.


"Oh iya pak, ngidam istrinya lancar kan?." tanya pria separuh baya itu lagi.


Eric menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lancar kok pak, istri saya ngidamnya gak bandel-bandel." sahut Eric, padahal hal yang sebenarnya ngidam Aletaa itu sulit diprediksi.

__ADS_1


Mungkin karna ngidamnya bayi sultan, Aletaa mintanya yang aneh-aneh, misalnya mobil sport keluaran terbaru. Aletaa merengak minta dibelikan mobil baru, sampai guling-guling dilantai, saat sudah dibelikan, Aletaa mendadak tak suka pada mobil yang ia pilih, pada akhirnya mobil itu hanya jadi koleksi. Untung saja Eric kaya, jadi ngidam aneh Aletaa bukan masalah gede buat dia.


"Baik banget ya istrinya, beda sama anak saya, ngidamnya itu nyusahin, katanya pengen rujakan bareng sama pak Eric pengusaha itu tuh yang sering masuk TV, suaminya aja sampe pusing, mana mau pak Eric datang kerumah gubuk saya buat nemenin bumil rujakan." Cerita pria tua itu lagi. Apa pak tua bangka tak mengenali wajah tanpan Eric yang mungkin pamiliar karna sering keluar masuk TV?.


Eric hanya bisa tertawa canggung, Eric berpikir mungkin dia kurang berbaur dengan masyarakat sampai dikira gak mau dateng kerumah gubuk. Padahal kalau diundang secara baik-baik pasti sesibuk apapun Eric akan tetap nyempetin. Apalagi ini ngidaman ibu hamil. Bapak pemilik warung pasti puaing banget, antara nurutin-nya susah nolaknya juga gak bisa.


Karna menurut orang zaman dulu, ngidamnya ibu hamil kalau gak diturutin bisa bikin bayinya ileran.


Aletaa segera mendekatkan bibirnya ke telinga Eric. " Kasian, turutin aja ya, anggap aja ini permintaan dari anak kamu." bisik gadis itu, sesama wanita hamil, Aletaa paham ngidamnya anak pemilik warung. Kalau gak diturutin itu rasanya kesel banget.


"Tapikan kamu belum makan, pagi-pagi kaya gini pingin rujakan. Nanti siangan aja ya kita kesini lagi." sahut Eric sambil berbisik.


Aletaa mengerucutkan bibirnya. "Pokoknya pengen sekarang, aku juga lagi pengen banget makan rujak."

__ADS_1


Pada Akhirnya Eric dihadapkan dalam pilihan yang besar, lalu jalan mana yang harus ia pilih sekarang?. Antara memenuhi permintaan ibu hamil atau mementingkan egonya sendiri.


__ADS_2