
Aletaa segera masuk ke kamar mandi. Gadis itu mencari wastapel paling ujung agar tak mengganggu pengunjung lain yang juga sedang menggunakan kamar mandi itu.
Aletaa mulai memuntahkan isi perutnya. Para wanita yang ada di sana berhamburan keluar saat mendengar suara muntah Aletaa yang terdengar sangat memilukan.
Sedetik kemudian Eric masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan jeritan-jeritan wanita yang masih berada disana. Mata pria itu menyisir seisi kamar mandi. Ditemukan-nya Aletaa masih menunduk lemas didepan wastapel.
"Apa kau baik-baik saja?." tanya Eric.
"Iya aku baik." sahut gadis itu. Aletaa meraih selembar tisu untuk mengelap wajahnya.
"Aku ingin pulang." rengek gadis itu.
Eric hanya mengangguk pelan, acara sudah hampir berakhir, jadi pulang sekarangpun tak masalah. Pria itu segera membopong tubuh lelah Aletaa keluar dari dalam gedung itu. "Pak kita pulang sekarang ya." tutur Eric pada supir yang sedang menunggunya diparkiran.
__ADS_1
Singkat cerita, mobil yang membawa Aletaa dan Eric mulai melaju kearah jalan pulang. Aletaa nampak menyender sambil memejamkan matanya dipundak kekar Eric.
Terdengar helaan-helaan nafas berat dari arah gadis itu. Eric yang mendengar itu segera mengusap dahi Aletaa, dahinya terasa sangat panas. Pria itu beralih memegang telapak tangan Aletaa, terasa banyak ruam disana.
"Pak kita pergi ke rumah sakit dulu." titah pria itu pada sang supir. Eric menjadi sangat khawatir dengan keadaan Aletaa saat ini, apalagi gadis itu sempat mengeluh sebelumnya. Bagaimana jika sakit Aletaa ini serius?.
Tak butuh waktu lama, mobil itu sampai didepan pintu IGD rumah sakit. Eric segera membawa Aletaa keluar dari dalam mobil lalu segera membawa gadis itu kedalam ruangan.
Beruntung hari ini rumah sakit sepi sehingga Aletaa langsung ditangani oleh para dokter yang ada disana.
"Racun?" gumam Eric kaget. Pria itu berpikir sejenak, kenapa bisa ada racun?, bukan-nya tadi mereka makan menu yang sama?, namun kenapa hanya Aletaa yang keracunan?.
"Sebelum dibawa kesini, apa istri bapak mengeluhkan sesuatu?" tanya dokter itu.
__ADS_1
"Dia tidak mengeluhkan apa-apa, hanya saja tadi Aletaa sempat muntah-muntah." sahut Eric.
Dokter itu mengangguk-angguk paham. "Begini pak, sepertinya istri bapak memakan makanan yang mengandung racun. Dari analisa saya, racun ini cukup berbahaya karna jika terlalu lama ada dalam tubuh bisa merusak organ-organ pital bahkan mengakibatkan kematian. Namun sepertinya bapak harus lebih banyak-banyak bersyukur, karna saat makanan mengandung racun itu dicerna, hormon kehamilan istri bapak mendadak naik dan membuatnya mual-mual dibarengi muntah sehingga racun yang ada didalam tubuhnya bisa keluar dengan sendirinya." jelas dokter itu.
"Tunggu, hamil dok?." tanya Eric bingung.
"Iya pak, apa bapak belum tahu istri bapak sekarang sedang hamil?."
Eric hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu masih sangat kaget dan shock mendengar masalah racun, ditambah masalah hamil ini membuatnya benar-benar bingung, bagaimana pria itu bisa berpikir dengan benar setelah semua kejutan itu?.
"Saya hamil dok?." tanya Aletaa dengan suara parau. Gadis itu mengelus perutnya senang sambil melukis sebuah senyuman diwajah cantik yang terlihat pucat itu.
"Iya bu, untuk lebih jelasnya bisa langsung kebagian dokter kandungan ya bu." tutur dokter itu.
__ADS_1
"Kalau begitu saya akan resepkan atibiotik untuk memastikan kalau racun-nya sudah benar-benar hilang. Permisi bu, pak." pamit dokter itu.
Entah sedih karna keracunan atau haru bahagia karna sedang mengandung, Aletaa nampak menitikan air matanya. Sebuah kejutan berharga setelah insiden yang hampir merenggut nyawa.