
Sungguh pilu, kebenaran ini benar-benar menyayat hati Aletaa. Sosok wanita yang tak ia sangka akan menjadi dalang dari semua kejadian yang terus menerus menghantuinya, sosok yang sudah ia anggap layaknya seperti kakak perempuan-nya sendiri itu, kenapa wanita itu mendustai kepercayaan Aletaa?.
Aletaa nampak merenung, rasa yang terus berkecambuk dalam hatinya masihlah terasa sangat nyata. Eric yang juga ada disana hanya bisa terdiam tanpa berani mendekat kearah gadis itu. Eric tahu betul apa yang kini Aletaa rasakan. Mungkin hal yang sangat salah memberi tahu Aletaa tentang hal ini. Namun apalah daya Eric, istrinya itu juga perlu tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Untuk saat ini, biarlah Aletaa beristirahat sejenak. Biarlah gadis itu membekaskan kesedihan-nya agar hal itu tak terus berlarut-larut.
Kini Eric tengah menyelesaikan beberapa tugas kantor yang sudah sangat menumpuk. Kebetulan dikamar itu ada sebuah meja kecil yang bisa ia pakai sebagai meja kerja semantara selagi menemani Aletaa.
Sesekali mata pria itu curi pandang kearah istrinya yang sedang berbaring diatas ranjang. Menanti-nanti kapan mata gadis itu terpejam.
Menit-menit berganti, setelah menyelesaikan berkas terakhirnya, Eric kembali melirik kearah Aletaa. Mata gadis itu masih terbuka lebar, seperti tak menandakan dia akan tidur secepatnya.
Eric akhirnya turun tangan. Dengan cepat pria itu mematikan sakelar lampu, menyisakan cahaya kecil yang berasal dari lampu tidur yang berada diatas nakas.
__ADS_1
Pria itu segera berbaring disamping istrinya, perlahan tangan Eric memutar tubuh Aletaa agar menghadap kearahnya. Membuat gadis itu tidur diatas dada bidang miliknya.
"Ini sudah malam, lebih baik kita segera tidur. Bayinya juga pasti sudah sangat lelah. Bukankah tadi siang kau pernah bilang kalau dosis tidur ibu hamil lebih banyak. Jadi ayo sekarang kita tidur." Bujuk Eric, tangan kiri pria itu memeluk tubuh Aletaa cukup erat, sedangkan tangan kanan-nya yang Aletaa pakai sebagai bantalan kepala mengusap lembut rambut gadis itu.
Aletaa menggeleng pelan. "Aku belum mengantuk." sahutnya.
Eric tersenyum tipis, pria itu segera menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Eric menariknya sampai selimut itu menutupi separuh dari tubuh mereka.
"Tuan apa aku boleh bertanya?." tanya Aletaa.
Eric hanya menggumam kecil sebagai sahutan.
"Apa kita perlu memberi tahu kakek soal ini?." tanya gadis itu lagi.
__ADS_1
"Dalam waktu dekat ini lebih baik kakek tidak tahu, kau ingat beberapa hari yang lalu kakek sempat drop. Aku takut kalau kakek tahu soal hal ini, sakitnya akan kambuh lagi bahkan semakin parah." jelas Eric
Aletaa mengangguk paham, "Lalu apa yang akan anda lakukan pada mbak Monica?. Bukan-nya dia sudah kembali ke luar negri?." tanya gadis itu lagi.
Eric hanya tersenyum. "Jangan terus menerus memikirkan Monica, biar aku yang tangani semuanya. Jadi jangan terlalu khawatir, nanti bayinya juga bisa ikut khawatir." tutur Eric.
Aletaa akhirnya bisa tersenyum kembali. Sesulit apapun hidupnya saat ini. Tapi hanya dengan hadirnya Eric disisinya, gadis itu sudah sangat bersyukur.
Pria yang awalnya ia kenal sebagai pria dingin dan cuek sekarang menjelma menjadi malaikat pelindung untuk Aletaa.
Perlahan gadis itu mulai merasakan rasanya sayang. Merasakan rasa mencintai walaupun belun tau bagaimana rasanya dicintai.
Aletaa mulai memejamkan matanya. Ada bersama Eric membuatnya merasakan bagaimana arti sesungguhnya dari sebuah cinta. Namun apa ini benar cinta?.
__ADS_1