Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
pengirim misterius2


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Barang yang sama selalu saja ditemukan didekat brankar rumah sakit Monica. Satu tangkai bunga dan parsel berisi buah-buahan yang tak diketahui dari siapa benda itu berasal.


David dan Eric yang sudah menyelidikinya sampai ketar ketir tak tahu siapa pengirim misterius itu. Dalam rekaman CCTV pun tak didapatkan bukti apapun.


Hanya ada rekaman kosong kurang lebih tiga menit, setelah itu keadaan kembari normal. Dan setiap kali rekaman CCTV itu kosong, setelahnya selalu ditemukan benda yang serupa.


Namun waktunya hanya sekitar tiga menitan saat kamera CCTV menjadi gelap, sedangkan jarak dari ruang pemantau ke kamar Monica itu bisa memakan waktu sampai lima menit.


Sehingga sampai sekarang pengirim rahasia itu tak pernah diketemukan. Sepertinya orang itu sudah mengetahui keberadaan CCTV di dingding ruangan.


Aletaa dan yang lain-nya menduga kalau pengirim rahasia itu adalah orang yang sama yang juga meniduri Monica sampai Monica hamil. Tapi siapa?.


Malam ini David dan Eric berniat untuk kembali memantau keadaan Monica. Kali ini rencana dibuat matang dan penuh dengan perhitungan.


"Apa kau yakin aku tak perlu ikut pergi?." tanya Aletaa yang tak mau ditinggalkan sang suami.


"Tidak boleh, itu cukup beresiko, bagaimana jika pengirim rahasia itu mencelakai salah satu dari kita?, aku tak ingin itu terjadi, jadi akan lebih baik jika kau dirumah saja." sahut Eric.

__ADS_1


Aletaa mengangguk pelan, yang dikatakan suaminya memang benar. Gadis itu terlalu gegabah bahkan bisa saja menggagalkan rencana Eric dan David.


Aletaa paham dia memang hanya sebatas wanita tak berguna. Gadis bodoh yang mudah tertipu dan ditipu.


Eric kemudian tersenyum lalu mengecup dahi sang istri. "Jaga junior dengan baik selagi aku pergi, ingat jangan pernah melakukan hal-hal yang berat." tutur Eric pada istrinya.


Aletaa kembali mengangguk.


Eric nampak menghembuskan nafas berat, rasanya sangat sulit meninggalkan istri manjanya itu. "Aku ingin tidur sebentar." ucap Eric sambil mendorong istrinya untuk tidur diatas ranjang.


Aletaa terkesiap. "Jangan lakukan itu, apa kau lupa disini ada CCTV?." ucapnya dengan ekspresi takut.


Aletaa menunjuk kearah sofa yang berada tak jauh dari ranjang. Nampak Dion sedang memperhatikan kakak dan kakak iparnya dengan seksama.


Bocah tiga tahun yang tak banyak bicara itu hanya diam, tak bergerak sama sekali layaknya patung.


Erik menepuk dahinya, "Aku lupa kalau bocah itu ada disini." ucap pria itu sambil tertawa kikuk kemudian mengangkat istrinya agar kembali duduk.


"Dion kesini sayang." ajak Aletaa pada adik iparnya.

__ADS_1


Dion yang merasa terpanggil segera mendekat kearah Aletaa kemudian naik keatas pangkuan gadis itu.


"Dion jaga kak Aletaa ya, ingat jangan buat dia kerepotan." ucap Eric pada adiknya.


Dion hanya mengangguk tanda paham.


"Aku pergi dulu ya, David sudah menunggu." pamit pria itu pada istrinya.


"Iya hati-hati dan cepat kabari aku kalau pelakunya sudah tertangkap."


Eric hanya mengangguk kemudian mengecup dahi Aletaa, mengelus perut buncitnya lembut.


Pria itu beralih pada sang adik. "Kakak pergi dulu, ingat jangan bandel." ucapknya kemudian mengecup lembut pipi gemuk bocah itu.


"Iya." sahut Dion singkat. Bocah polos yang menggemaskan. Tak heran jika Eric dan Aletaa sudah menganggapnta selayaknya anak sendiri.


***


Mampir yuk ke novel baru author, judulnya pewris nomor satu.

__ADS_1


__ADS_2