
Hari sudah semakin larut, Eric dan David yang tengah berjagapun mulai merasa jenuh dan bosan.
"Mana dia?, kenapa belum muncul juga?, kalau tahu begini lebih baik aku pulang dan menemani istriku." ucap Eric kesal, sudah hampir 3 jam mereka memantau CCTV, namun tak ada juga tanda-tanda kalau si pengirim misterius itu akan datang malam ini.
"Aku tak tahu, mungkin pengirim rahasia itu tahu soal rencana kita." sahut David yang juga sama-sama merasa bosan.
Tak lama kamera CCTV berubah gelap dan tak lagi menampilkan keadaan ruangan Monica seperti sebelumnya. "Dia datang." ucap David pada kakaknya.
Eric terkesiap lalu segera menghubungi para penjaga yang kini sedang mengawasi ruangan Monica dari tempat yang tak terlalu jauh. "Dia datang!." seru Eric dalam panggilan telpon-nya.
Eric dan David segera keluar dari ruang pengawasan, kedua pria itu bergegas mendekat kearah kamar rawat yang kini ditempati Monica.
Sesampainya disana, nampak kerumunan para penjaga. "Apa dia tertangkap?." tanya Eric.
Pria itu segera masuk kedalam kerumunan. Ditengah-tengah kerumunan itu nampak seseorang berjubah hitam dengan topeng lengkap dengan penutup kepala.
"Tuan untuk berjaga-jaga biar kami saja yang membukanya." cegah salah seorang penjaga menghentikan tangan Eric yang terulur untuk membuka topeng pelaku itu.
Eric mundur beberapa langkah kemudian membiarkan seorang penjaganya untuk membuka topeng orang yang selama ini menjadi misteri.
__ADS_1
Saat topeng itu dibuka, nampak seorang pria yang tak lagi asing dimata Eric dan David.
"Tuan Alexander?." ucap keduanya bebarengan.
Eric tak mampu berkata apa-apa lagi, sebenarnya apa yang Alex lakukan selama ini?. Mengirimi hadiah untuk orang yang jelas-jelas sekarang sedang koma. Apa maksudnya?.
Davidpun berpikir hal yang sama seperti apa yang dipikirkan kakaknya, apa motif Alex melakukan semua ini?.
***
Keesokan paginya, Eric dan David masuk beriringan kedalam rumah besar, nampak dari kejauhan Aletaa sedang sibuk menyuapi Dion sedangkan kakek nampak duduk sambil membaca koran paginya.
Aletaa yang baru menyadari suaminya datang seketika terkesiap. "Bagaimana tadi malam?." tanya gadis itu pada sang suami.
Eric nampak diam tak berucap apa-apa, pria itu hanya menekan bibirnya dalam, mencoba menyembunyikan sebuah kebahagiaan yang begitu jelas di sudut bibirnya.
"Jangan ajukan pertanyaan semacam itu pada kak Eric, dia sedang sangat bahagia jadi jangan tanya dia tentang kejadian semalam." ucap David menyela.
Aletaa mengerutkan keningnya heran. "Bahagia kenapa?, apa kakakmu bertemu wanita cantik saat dirumah sakit semalam?." sahut gadis itu.
__ADS_1
"Saat kau tahu apa yang membuatku bahagia, kau juga pasti akan sangat senang." ucap Eric pada sang istri.
Aletaa semakin dibuat bingung, begitupun kakek yang sedari tadi memperhatikan perbincangan cucu-cucunya.
"Memangnya ada apa?." kakek ikut bergabung, pria tua itu nampak mendekat kearah sofa ruang tengah tempat dimana cucu-cucunya sedang berbincang.
"Tidak ada apa-apa kek." sahut David.
"Apa kakakmu siuman?" tanya kakek lagi.
David namak berpikir sebentar, "Lebih dari itu." sahut David.
"Bayinya sehat?." kakek kembali bertanya.
"Bayinya baik-baik saja." sahut David lagi
Kakek semakin dibuat penasaran dengan apa yang disembunyikan kedua cucunya. "Lalu apa yang membuat kalian begitu senang?." tanya kakek yang ke berapa kalinya.
Dari saat kedua pria itu datang, tingkah mereka nampak berbeda, apa sebenarnya yang merasuki kedua pria itu.
__ADS_1