Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
waktu terus berjalan


__ADS_3

Pagi itu suasana rumah besar nampak ricuh, para pelayan sedang bersiap untuk menyambut kedatangan Aletaa.


Ya, gadis itu semalaman harus tinggal dirumah sakit untuk memulihkan kondisinya yang sempat memburuk. Apalagi setelah di USG, Aletaa benar-benar sedang mengandung, usia kandungan-nya kini sudah masuk minggu ke 5, jadi dokter menyarankan agar Aletaa dirawat intensip untuk mengetahui keadaan-nya benar-benar setabil.


Nampak sebuah senyuman diwajah semua orang, mereka sangat bahagia mendengar kabar bahwa menantu keluarga itu tengah mengandung sang calon pewaris. Apalagi kakek, pria tua itu adalah orang yang paling antusias menyambut kedatangan Aletaa. Harapan mempunyai seorang buyut kini akan ia dapatkan dari cucuk kandungnya.


Kakek sekarang tengah mendekor kamar utama yang ada dilantai bawah. Bukan-nya punya bayi itu harus punya ruangan yang luas?. Kamar itu dulunya milik ayah Eric dan mendiang ibunya. Tapi karna ayah Eric telah menikah lagi dan memulai hidup barunya diluar negri, kamar itu akhirnya terbengkalai dan tak pernah ditempati bertahun-tahun lamanya.


"Pastikan semuanya bersih sampai tak ada debu sedikitpun." tutur kakek.


Tadinya kakek ingin mengganti ranjang dan lemari dengan yang baru, namun karna waktunya sangat mepet, akhirnya ranjang lama yang telah bertahun-tahun tertutup kain putih menjadi pilihan terakhirnya.


Para pelayan nampak sangat sibuk diruangan itu, walaupun kamarnya rutin dibersihkan. Tapi yang namanya kamar kosong pasti terasa sangat dingin dan berdebu.

__ADS_1


"Aku ingin lemari itu dipindah ke pojok, agar cahaya matahari bisa masuk semua kedalam kamar."


Kakek masih terus memberikan beberapa intruksi, memindahkan barang yang ada didekat jendela kepojok ruangan, hingga jendela itu nampak sangat polos karna tak ada ornamen sedikitpun.


"Kek, apa ini tak berlebihan?, kita sudah mengeluarkan barang-barang yang dirasa tidak perlu, hingga ruangan ini nampak sangat sepi dan polos." tutur seorang pelayan.


Kakek nampak berpikir sejenak sambil menatap sekeliling yang memang terlihat sangat kosong. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita membeli bebera perlengkapan untuk bayi, seperti box atau mungkin lemari." tutur kakek meminta saran.


"Iya, kau benar juga. Kalau begitu kita simpan kursi pijat dan meja kecil didekat jendela. Lalu rak buku kecil disebelahnya. Bagaimana?." usul kakek.


Mantan arsitek sekaligus direktur perusahaan itu sangat piawai dalam mengatur ruangan. Keahlian-nya memang patut diacungi dua jempol.


"Ide bagus kek, kami akan segera mengerjakan-nya." sahut para pelayan.

__ADS_1


Kakek menghembuskan nafas berat saat melihat ruangan yang telah ia sesuaikan dengan karakter seorang bumil. Dalam sepinya, pria tua itu meremang, mengingat beberapa potongan memori dimasa lalunya. Rindu rasanya mendengar jerit tangis seorang bayi dirumah itu. Seingatnya terakhir kali kakek mendengar suara tangisan bayi sudah sekitar 22 tahun yang lalu, saat dimana ibunda Eric membawa si kecil David ketengah-tengah keluarga mereka.


Kakek berkaca-kaca mengingat masa-masa indah itu, dimana Eric remaja sering sekali berebut mainan dan bertengkar dengan David yang saat itu baru berusia 3 tahun.


Tak jarang David menangis karna kenakalan kakaknya. Tak jarang pula Eric dimarahi oleh ibunya karna selalu menjahili David yang rewel dan suka menangis karna hal sepele. Dan orang yang selalu Eric jadikan pelarian hanyalah kakek. Remaja itu tak sungkan untuk mengangis dipangkuan kakeknya.


Namun seiring berjalan-nya waktu, kini Eric dan david sama-sama sudah dewasa. Bahkan Eric sekarang sudah menjadi calon ayah untuk anak yang tengah dikandung Aletaa.


Kakek mengusap setetes air mata yang ada dipelupuk matanya. Bukan waktunya mengingat masalalu. Momen di detik ini adalah momen indah yang akan menorehkan sejarah untuk masa depan.


"Kek, tuan Eric dan nona Aletaa sudah kembali!." seru seorang pelayan membawa bruta. Nafasnya terengah-engah karna terlalu bersemangat.


"Benarkah?." kakek segera keluar dari dalam kamar untuk menyambut kedatangan cucuk-cucuk kesayangan-nya.

__ADS_1


__ADS_2