
Setelah melewati beberapa tahapan ritual membersihkan diri, kini Aletaa nampak sudah cantik dengan mengenakan piama tidur warna merah marun miliknya.
Nampak juga Eric menunduk diujung ruang kerjanya, terlihat juga David tengah berdiri tak jauh dari kakaknya itu.
Ruangan kerja disulap menjadi tempat eksekusi. Suasana terasa angker saat bola mata Aletaa melirik kedua pria yang ada didepan-nya dengan tatapan nanar dan berapi-api.
"Sekarang coba jelaskan apa kasus yang kalian berdua maksud tadi." tutur gadis itu. Aletaa nampak terus saja mundar mandir didepan Eric dan David, diwajahnya banyak sekali pertanyaan yang bagaikan sebuah misteri.
Eric menelan ludahnya kasar, lalu menghembuskan nafas berat sebelum menjawab ucapan Aletaa. " Aku tak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu, hanya saja ini demi kebaikanmu juga." tutur Eric menghelas.
"Lalu hal apa yang begitu penting sampai aku tak boleh tahu tentang hal itu tuan?." tanya gadis itu lagi. Kini suasana yang tadi sempat sangat canggung perlahan mulai mencair.
Eric nampak menatap wajah David lekat. Matanya seperti meminta pendapat dari pria itu. David hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kasar. Ia tak mau ikut campur dalam urusan ini.
__ADS_1
"Orang yang meracuni makananmu hari itu, orang itu adalah Monica." ucap Eric sambil menghela nafas berat.
Aletaa nampak tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "Maksudmu apa tuan?." tanya gadis itu tak mengerti. "Maksudmu kak Monica dalang dari semua itu?." tanya Aletaa lagi.
Eric menganggukan kepalanya pelan. "Ya kau benar." sahut Eric.
Aletaa terduduk diatas lantai karna masih tak percaya dengan masalah yang menimpanya sekarang. Wanita yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri ternyata punya sisi kelam dalam dirinya.
Cukup lama gadis itu terpaku karna tak percaya, tiba-tiba, Aletaa meringis kecil sambil memegangi perutnya.
Aletaa hanya menggelengkan kepalanya pelan. Air mata gadis itu mengalir begitu deras. Rasa yang aneh terasa mencambuk dan mencubit-cubit batin-nya begitu kencang.
Gadis itu meremang, masalah racun yang hampir merenggut nyawanya itu tak terlalu ia pikirkan. Hanya saja, mengapa harus Monica dalang dari semua itu?.
__ADS_1
Kenapa harus orang terdekat dari keluarganya yang harus tega ingin menghabisi nyawanya?. Kenapa tak orang lain saja?. Mungkin kalau itu orang lain, hati Aletaa tak akan sesakit ini. Tapi sudahlah, niat jahat seseorang tak bisa mengenal situasi dan kondisi, tak bisa mengenali kawan ataupun lawan, keluarga ataupun kerabat, kalau memang punya niat jahat, ya sudahlah.
Eric segera membopong tubuh istrinya. "Panggil dokter Hadi segera." titah pria itu sebelum meninggalkan ruangan.
Mendengar itu David segera menghubungi Dokter Hadi, dokter keluarga yang sudah bekerja disana hampir 30 tahun lamanya.
***
Kini Aletaa nampak sudah terbaring diatas ranjang. Seorang dokter paruh baya juga nampak tengah memeriksa keadaan Aletaa.
"Sepertina nona terlalu setres." tuturnya saat memastikan apa yang membuat tubuh Aletaa melemas.
"Lalu bagaimana cara mengatasinya?." tanya Eric penasaran.
__ADS_1
"Setiap masalah pasti punya penyelesaian-nya nona, stres bisa disebabkan karna terlalu khawatir dan banyak pikiran, kalau nona memang punya masalah, jangan terlalu dipikirkan, itu bisa menjadi beban untuk nona. Apalagi sekarang nona Aletaa sedang hamil, hormonal dan insting ibu hamil cenderung lebih posesif. Jadi perlu dijaga baik-baik." tutur dokter Hadi kemudian.
Eric hanya mengangguk paham. Pria itu paham apa yang Aletaa rasakan saat ini, sakit hati itu pasti.