
Petang ini, semua anggota keluarga sedang berada di rumah sakit, mereka nampak tengah menunggu hasil pemeriksaan didepan ruangan IGD rumah sakit itu.
Ya, tadi Monica sempat kejang-kejang lalu pingsan, makanya mereka ada dirumah sakit untuk memeriksa keadaan Monica.
Aletaa terus saja mondar-mandir didepan pintu ruangan, air matanya tak henti berjatuhan. Tak becus, Aletaa merasa kalau dialah orang yang menjadi pemicu Monica pingsan.
Sedangkan Eric hanya bisa diam sambil memandangi istrinya, tak jauh dari mereka nampak kakek yang tengah duduk termenung disebuah kursi yang ada disana.
Pria tua itu nampak sangat cemas dan gelisah, walaupun Monica telah membuat hatinya hancur, tapi Monica tetap cucunya. Apa tega seorang kakek pada cucunya sendiri.
Aletaa yang melihat itu segera mendekat kearah kakeknya. "Jangan bersedih kek, mbak Monica pasti baik-baik saja." tutur Aletaa menguatkan kakeknya.
"Untuk apa aku bersedih, dia bukan cucuku lagi." sahut kakek.
Aletaa hanya tersenyum, kakeknya berkata bohong. Buktinya saat Monica pingsan tadi, justru kakek yang paling panik saat melihat Monica tak sadarkan diri, sampai sekarangpun masih nampak kekhawaturan diwajah pria itu.
"Bagaimana keadaan kak Monica!?." tanya David yang baru saja datang, pria tampan dengan piama tidurnya datang tiba-tiba, sampai-sampai Eric yang masih melamun terkaget-kaget mendengar teriakan sang adik yang cukup memekakan telinga.
"Dasar anak nakal, beraninya kau mengagetkan kakakmu." tutur Eric sambil memukul kepala David cukup kencang.
Setelah mendapatkan pukulan maut dari sang kakak, David hanya bisa mengaduh sambil mengelus kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. "Aku khawatir kak, apa salahnya?." tukas pria itu sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Eric yang geram melihat tingkah sang adik segera membekam mulut yang tengah manyun itu. "Kau ini, benar-benar tak tahu malu!, ke tempat umum pakai piama, apa kau berniat menghancurkan image kakakmu di mata masyarakat?." tutur Eric, Eric yang sudah terlanjur kesal pada sang adik terus saja mengomeli David tanpa alasan yang jelas.
Bumil yang melihat tingkah menyebalkan adik dan kakak itu merasakan tangan-nya sudah mulai gatal, ingin sekali menjambak dua pria yang sedang beradu argumen didepan matanya itu. Namun Aletaa tahan-tahan sambil mengelus dada.
David yang tak terima diperlakukan begitu oleh kakaknya segera memberontak ingin membalas perlakuan Eric padanya. "Kau juga sama, ke rumah sakit pakai kolor rombeng seperti itu, kau dan aku tak jauh beda kak malahan aku lebih baik darimu." tutur David saat mulutnya sudah terlepas dari genggaman Eric.
__ADS_1
Eric yang tak terima dilawan, seketika membuka kedua matanya lebar-lebar, begitupun David, kakak beradik itu saling mempelototi satu sama lain. Bersiap untuk baku hantam didepan banyak orang.
Aletaa yang sudah tak tahan melihat kelakuan dua pria itu segera mendekat kearah Eric dan David. Dalam sekali sabetan, dua telinga berhasil didapatkan.
"Aduh sakit." ringis Eric saat merasakan telinganya dicapit jemari Aletaa.
Begitupun David, pria itu sampai tak bisa berkata-kata karna merasakan sakit yang amat luar diasa ditelinganya. Hanya air mata yang bisa menjadi bukti penindasan Aletaa.
"Kalian ini gak di rumah, gak di tempat umum, selalu saja begini, apa gak bosen kena jewer kaya gini?." oceh Aletaa yang sudah gereget sejak David datang.
"Sayang, aku tak bersalah, David duluan yang memancingku, salahkan saja bocah itu." tutur Eric meminta pengampunan.
"Kenapa harus aku?, dia duluan yang mengejek penampilanku, aku gak salah kan kak kalau membela diri?." timpal David yang tak terima disalahkan.
Dua pria itu saling menyalahkan satu sama lain. Adik kakak yang kompak, sudah kakaknya egois, adiknya juga gak mau kalah.
"Kalian berdua ini sama-sama salah. Kalian sudah sama-sama dewasa, sebentar lagi kau akan punya anak, apa kau tak malu pada anakmu sendiri?." tutur Aletaa pada suaminya.
"Terima kasih kak, kau memang malaikat tak bersayap yang sudah membela adikmu yang malang ini." tutur David yang baper karna terlalu senang saat Aletaa hanya mengomeli kakaknya.
"Disini aku tak memihak satu pun dari kalian, David kau juga sama, bukankah kau ini sekarang sudah dewasa?, ingat kau sudah punya pacar." tukas Aletaa.
Eric yang mendengar itu segera membuka kedua bola matanya lebar. "Bocah tengil ini punuya pacar?, hahaha, cuman wanita bodoh yang mau sama anak model David."
David yang tak terima kembali membalas kakaknya. "Berarti kak Aletaa juga bodoh, kenapa juga dia cinta sama drakula jadi-jadian kaya kamu." sahut David.
Aletaa yang mendengar David segera menatap tajam kearah pria itu. "Ini kan rahasia kita berdua, kau sudah janji tak akan memberi tahu siapaun." tutur Aletaa sambil berbisik.
__ADS_1
"Kenapa juga kau mengatakan pada kak Eric kalau aku sudah punya pacar?, artinya kita impas kan." sahut David.
Eric yang diam-diam mendengarkan pembicaraan itu seketika tersenyum, "Sayang, kau mencintaiku kan?, ayolah lepaskan ini, aku merasa tersakiti sayang." sela Eric.
Aletaa yang mendengarnya segera menatap tajam kearah sang suami. "Jangan mimpi!" tutur wanita itu sambil menambahkan volume kekuatan menjewernya.
"Kalian bertiga sama saja, ini tempat umum bukan ring tinju , apa kalian tak malu berprilaku seperti anak kecil disini!." seru kakek yang juga tak tahan dengan kelakuan cucu-cucunya.
Seketika Aletaa melepaskan jeweran-nya pada dua pria itu.
"Maafkan kami kek." tutur Aletaa sambil mendekat lalu duduk disamping kakeknya.
Kemarahan kakek terus berlanjut. "Kalian berdiri disana sambil menjewer telinga satu sama lain, lalu pikirkan apa kesalahan kalian." ucap kakek sambil menunjuk dingding yang ada didepan-nya.
"Kami bukan anak kecil kek." ucap Eric tak terima.
"Jangan membantah, kau juga Aletaa, ikut mereka lalu pikirkan apa kesalahanmu." sahut kakek.
"Apa?, kek aku ini sedang hamil, jangan biarkan cicitmu ini tersiksa kek." ucap Aletaa meminta pengampunan.
"Cepat!." tegas kakek.
Pada ahkirnya mereka bertiga berdiri didingding seperti cicak. Aletaa berdiri ditengah dengan tangan-nya menjewer telinga Eric dan David. Begitupun dengan dua pria itu. Sebelah tangan-nya menjewer telinga Aletaa dan sebelahnya menjewer telinga sendiri.
"Kek ketiaku terasa kering kalau terus begini." tutur Aletaa yang kedua tanagan-nya menggantung ditelinga dua pria yang tebih tinggi darinya.
Dihadapan kakek semuanya diperlakukan sama. Bahkan Aletaa yang sedang hamilpun tak luput dari hukuman yang sama seperti yang lainya.
__ADS_1
Bukan karna kejam, tapi kakek ingin mendidik ketiga cucunya itu agar bisa bersikap dewasa dan menangani segala masalah dengan akal yang dingin bukan dengan beradu argumen dan membuat orang lain disekitarnya terganggu.