
Setelah lama berpikir, Eric dan Aletaa memutuskan untuk pergi melihat siapa yang datang.
Sesampainya mereka diruang tengah, hanya nampak seorang bocah lelaki duduk menyender diatas sofa. Eric dan Aletaa seketika berkerut kening. Siapa anak itu.
Aletaa beralih menatap suaminya. "Apa kau punya anak dari wanita lain?." tanya gadis itu.
Eric menggeleng, "Mungkin itu anakmu yang kau tinggalkan dengan mantan pacarmu." sahut Eric.
Pikiran keduanya menjadi liar, apa mungkin anak itu adalah tuyul pesugihan Eric?, karna tak mungkinkan hanya dari penjualan lingri sexy Eric bisa sekaya sekarang.
Aletaa masih terus berpikir, spekulasi aneh perlahan bermunculan didalam otak kecil Aletaa.
"Anak siapa itu?, dan mana tamu sepesial yang tadi kau katakan?." tanya Eric pada seorang pelayan yang ada disana.
Pelayan tadi hanya menggeleng. "Kami tidak tahu tuan, kami hanya membaca sebuah kertas yang anak itu berikan." sahut Sang pelayan.
Perlahan Eric mendekat kearah bocah itu, bocah kecil yang usianya mungkin belum genap 3 tahunan itu hanya tersenyum. "Siapa kau?." tanya Eric saat dirinya berada tak jauh dari si bocah.
__ADS_1
"Oh iya tuan, tadi orang yang mengantarkan-nya kemari memberikan surat ini untuk anda." tutur seorang pelayan sambil mengasongkan secarik kertas pada Eric.
Dengan gelagat bingung Eric menerimanya. Aletaa yang juga penasaran segera mendekat kearah Eric, Perlahan Eric mulai membuka lembaran kecil itu.
Jantung keduanya berdegup tak karuan, hal konyol apa yang akan terjadi selanjutnya?.
Setelah membuka surat itu, Eric segera membaca isi suratnya. Dahi kedua orang itu berkerut. "Lelucon apa ini?!." seru Eric sambil membuang kertas itu kelantai.
Dengan wajah yang sangat kesal, Eric mendekat kearah telpon rumah yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang. Pria itu mulai menekan beberapa angka untuk menghubungi si orang yang sudah mengirimkan bocah itu kerumahnya.
Aletaa segera memungut kertas yang tadi dibuang Eric sambil tertawa. Pelayan yang ada disana juga ikut penasaran dengan isi surat yang membuat Eric begitu marah.
Aletaa yang masih tak bisa menahan tawanya segera memberikan kertas itu pada pelayan.
Dengan seksama pelayan itu mulai membaca isi surat lalu tertawa kencang sama halnya seperti Aletaa.
"Pantas saja tuan sangat marah, ternyata ini adiknya toh." tutur pelayan itu sambil tertawa. Mendengar ucapan pelayan-nya, Eric semakin marah.
__ADS_1
Apalagi panggilan telpon-nya tak juga diangkat oleh orang tuanya, membuat Eric semakin jengkel dan sebal.
"Sudah kalian diam saja." ucap Eric sebal.
Kedua orang yang masih tertawa itupun akhirnya menghentikan tawanya. Aletaa dan pelayan menekan bibirnya dalam, mencegah agar suara tawa mereka tak kembali terdengar.
Isi surat itu cukup menggelitik, sampai Aletaa pun tak bisa berhenti tertawa dan membaca isi surat itu.
"Untuk putra kami tersayang, Eric.... Kemarin pesawat pribadi kami sudah mendarat dengan selamat, maaf jika tak memberutahumu sebelumnya. Namun kami ingin berlibur ke pantai, itung-itung bulan madu. Dikarnakan kami sudah terlalu tua dan tak cukup kuat untuk mengurusi adikmu, makan-nya kami mengirimkan Dion padamu untuk kau rawat selagi kami disini. Salam sayang papa dan mama😘". Aletaa membacanya dengan suara lantang, membuat Eric semakin malu dan marah.
"Kalau memang tak bisa mengurus anak, kenapa musti buat anak?, ujung-ujungnya aku yang repot." omel Eric.
Sudah beberapa tahun ini Eric tak lagi berkontekan dengan orang tuanya, sampai-sampai dia tak tahu kalau masih punya adik kecil selain David dan Monica.
"Sabar, lagi pula dia terlihat seperti anak pintar, pasti tak akan begitu sulit untuk mengurusinya." ucap Aletaa menenangkan sang suami.
Memang mengurusinya tak akan terlalu sulit, namun Eric merasa sangat malu. Sekarang saja usianya sudah masuk 30 tahun, tak lazimkan kalau dia masih punya adik usia 3 tahun.
__ADS_1
Mau ditaruh dimana muka Eric nanti?.