Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
konyol


__ADS_3

Langit nampak sudah berwarna jingga, tuhan menciptakan senja dengan begitu banyak keindahan, nampak sorot mentari sebagian masih menyinari bumi, lalu dengan perlahan menyusut dan hanya menyisakan gelapnya malam yang sunyi.


David pulang ke apartemen dengan lengkungan dikedua sudut bibirnya, pria tampan itu nampak sangat senang setelah menghabiskan hari ini dengan sang kekasih.


Awalnya David memang merasa tak nyaman karna harus membatalkan kencan pertamanya, tapi ternyata mengurus Monica tak terlalu sulit.


Setelah Monica siuman dan dinyatakan baik-baik saja, David mengantarnya kembali ke fila. Setelah mengantar Monica, David membawa Kikan jalan-jalan dikebun teh yang tak jauh dari fila.


Masih terbayang senyuman cantik diwajah mempesona Kikan, Gadis polos dengan berjuta pesona yang mampu membuat David terpikat dan terpana.


Meninggalkan David yang sedang berbunga-bunga, hal yang sebaliknya kini sedang menimpa Eric dirumah besar.


Kakek yang beberapa hari lalu dikabarkan sakit kini sudah dinyatakan pulih dan sudah mulai aktif seperti biasa, Pengikut aliran sesat Aletaa kembali membuat ulah sampai raja pun hanya bisa geleng-geleng kepala.


Malam ini kakek punya pikiran gila di otaknya, pria itu merengek ingin tidur bersama dikamar Aletaa. Entah apa motif dari pria tua itu. Eric tak paham dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pusing.

__ADS_1


Baru saja Eric sembuh dari diare yang membuatnya selalu ingin buang air besar, kini nampaknya pria itu dihadapkan dengan sakit yang lebih sulit, Eric kini harus dihadapkan dengan tingkah kakek yang bisa membuatnya muntah-muntah darah.


"Ayolah, kakek bersedia tidur dilantai, malam ini kakek ingin sekali tidur bersama kalian." pinta pria tua itu keberapa kalinya.


Eric nampak berpikir panjang, malam ini pria itu ingin sekali menghabiskan waktunya hanya berdua dengan sang istri saja. Kalau ada kakek dikamarnya, bagaimana ending cerita ini nanti?.


"Gini ya kek, kamar kakek itu luas, kasurnya juga besar dan empuk, jadi mendingan kakek tidur dikamar kakek saja dari pada tidur dilantai kamarku," Eric belum menyerah untuk terus membujuk kakeknya yang keras kepala. Sebenarnya malam ini pria itu ada janji konsultasi dengan istrinya, janji mengulangi apa yang dilakukan-nya dan Aletaa kemarin malam sewaktu masih di fila.


Kakek nampak mengerucutkan bibirnya kesal. "Pokoknya kakek tidur di kamar kamu titik." sahut kakek.


Pria itu membuat kode dengan jemarinya, menyuruh beberapa pelayan pria membawakan beberapa bantal, guling dan selimut. Tak lupa kasur lantai yang akan dipergunakan untuk alas tidurnya nanti.


Eric yang melihat itu membolakan kedua matanya , "Kek bukankah hanya kakek saja yang akan menginap?, tapi kenapa barangnya harus sebanyak ini?." keluh pria itu saat melihat kamarnya penuh dengan barang bawaan kakek.


Aletaa yang tengah duduk ditepi ranjang hanya bisa menahan tawa sambil menonton perdebatan cucuk dan kakeknya itu.

__ADS_1


Setelah sakit beberapa hari, kakek nampaknya sangat rindu membuat rusuh dirumah, dan kembali membuat tensi darah Eric naik derastis lagi.


"Siapa bilang kakek nginep cuman sendiri?, kita semua bakalan tidur di kamar kamu Ric." tutur kakek menunjuk beberapa pelayan pria dan wanita yang ada disana.


Eric memgacak rambutnya kasar, kalau begini terus, acara servic keris sakti bisa-bisa gagal total.


"Pokoknya kita semua tidur disini, Aletaa aja gak ngelarang, kok kamu sewot banget sih Ric." tutur kakek lagi. Manik mata kakek tertuju pada Aletaa, menatapnya lekat seakan sedang mengisaratkan suatu hal pada ibu sekte, berharap agar Aletaa mengiakana permintaan-nya.


Aletaa malah menatap Eric, meminta pendapat dari pria itu. Eric terus saja menggelengkan kepalanya, pria itu menolak dengan keras permintaan konyol kakek.


"Lebih baik kakek tidur di kamar kakek saja." tutur Aletaa.


Eric akhirnya bisa bernafas lega mendengar ucapan bijak istrinya.


Melihat Eric lega nampaknya tak membuat Aletaa bahagia, gadis itu tersenyum menyeringai. "Tapi kalau kakek memaksa, untuk malam ini saja kakek dan yang lain-nya boleh menginap disini. Lagi pula kamarnya luas jadi pasti cukup untuk semuanya." tutur Aletaa kemudian.

__ADS_1


Kakek dan yang lain-nya ber-hore senang, berbeda dengan Eric yang nampak jadi murung setelah mendengar ucapan istrinya.


Aletaa hanya bisa tertawa saat melihat kekecewaan diwajah suaminya, kalau Eric tak cemberut, tak ada yang bisa membuatnya bahagia.


__ADS_2