Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
si kecil semakin aktif


__ADS_3

Baru sampai dihalamam, Aletaa menghentikan langkahnya, gadis itu berjongkok sambil membenarkan tali sepatu hils yang ia kenakan.


Monica yang melihat hal itu segera mempercepat langkahnya. Ini kesempatan yang sangat langka. "Ric aku duduk didepanya, seperti biasa." tuturnya pada Eric yang nampak sedang membuka pesan diponselnya.


Eric hanya mengangguk pelan, setelah mengirim balasan pesan, Eric berbalik menatap Aletaa yang masih berjongkok membenarkan tali sepatunya.


"Kenapa?." tanya pria itu.


Aletaa sedikit mendongakan kepalanya menatap Eric. " Tali sepatuku tak bisa dipasang." adu gadis itu.


Eric nampak berdesis, disituasi seperti ini, selalu ada saja hambatan-nya. Pria itu akhirnya berjongkok tepat didepan Aletaa. Matanya melihat keadaan kaki mulus putih bersih itu. "Ya ampun, kakimu bengkak!." seru pria itu saat melihat kaki Aletaa nampak sedikit menggembung.


"Apa itu sakit?." tanya Eric khawatir. Pria itu beralih memegangi tubuh Aletaa sambil membawanya kesebuah kursi taman yang tak jauh dari tempat mereka berada.


Eric berjongkok dibawah Aletaa sambil melepas sepatu yang nampak kekecilan karna kaki yang membengkak itu. " Ini tidak sakit, memang sudah beberapa hari ini, kakiku sering bengkak kalau berjalan terlalu lama. Dan mungkin sekarang kakinya bengkak lagi karna hils yang ku pakai ketinggian." tutur Aletaa menganggap enteng pada apa yang terjadi kepadanya sekarang.


"Lalu kenapa kau tidak memberi tahuku sejak dulu, ini terlihat sangat serius." nampak sebuah ke khawatiran terlukis jelas diwajah pria itu.


Eric memijat-mijat pelan kaki Aletaa yang bengkak. Pria itu nampak sangat peduli pada wanita yang kini telah menjadi istri sirihnya itu.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sekarang juga punya banyak keluhan. Selain kaki yang sering bengkak, akhir-akhir ini aku juga sulit tidur, kalau sarapan pagi selalu tak berselera, rasanya mual. Tapi kalau sudah siang sampai malam, ***** makanku meningkat, itu sebabnya sekarang aku merasa jadi gemuk." Aletaa membicarakan keluhan yang belum satu minggu ini ia rasakan.


"Ini serius, kau harus segera konsultasi pada dokter, mana kali ada kelainan dihormonmu."


"Mungkin begitu, soalnya aku sering sembelit dan haidku juga tidak lancar. Pasti ada sedikit masalah dihormonku, tapi menuritku ini hal biasa, soalnya aku tak sampai sakit parah jadi jangan terlalu khawatir padaku tuan." sahut Aletaa.


"Terserah kau saja, kau memang nakal dan sulit diberi tahu. Hanya bisa membantah dan menyahut saat orang sedang mengkhawatirkanmu, sekali saja dengarkan aku." tutur Eric, pria itu bangkit lalu kembali berjalan masuk kedalam rumah.


"Tuan kau mau kemana?."


Erik tak menjawab, nampaknya pria itu sangat kesal. Aletaa hanya tertawa melihat perbedaan dari suaminya itu, Eric yang biasanya bersifat acuh tak acuh pada Aletaa kini punya rasa khawatir yang tinggi pada gadis itu.


Pernah sekali Aletaa berpikir, mungkin saja akan tumbuh sebuah benih cinta dihati keduanya. Tapi saat Aletaa tersadar, impian itu rasanya hanya seperti angan-angan yang sulit untuk dicapai saja. Tak akan mungkin terjadi dan tak pernah akan terjadi.


Tak lama Eric kembali sambil membawa sepasang sandal bulu yang biasa Aletaa kenakan dirumah. "Tuan untuk apa kau membawa itu?." tanya gadis itu tak mengerti.


"Pakai saja ini, kakimu bengkak jadi lebih baik kau pakai sandal yang ringgan agar tak terlalu membebani kakinya."


Aletaa terbelalak. "Apa kau demam tuan?, kita akan pergi keacara penting. Tak lazim jika orang bawaan tuan Eric yang kaya raya dan uangnya tak akan habis sampai tujuh turunan memakai sandal jepit murahan. Lebih baik aku pakai hils ku yang satu lagi, mungkin saja yang itu muat dari pada harus pakai barang murah seperti itu. Aku juga ingin terlihat modis dan aku baik padamu karna ingin menjaga image seorang Eric." sahut Aletaa. Tanpa lelah, mulutnya itu tak berhenti nyerocos seperti kereta api yang sulit direm mendadak.

__ADS_1


Eric menggelengkan kepalanya jengah. Gadis nakalnya seamakin aktif saja. Apalagi mulutnya, sekarang Aletaa sering memerintah dan berceramah pada siapapun yang ia temui dirumah.


"Kesehatan lebih penting, lagi pula modis dan gaya itu urusan belakangan. Sekarang pikirkan saja jika kakimu itu terus bengkak dan tak bisa berjalan. Dokter pasti akan memintamu untuk mengamputasi kakinya. Kau mau jadi buntung?." sahut Eric tak kalah nyeroscosnya.


Aletaa nampak mencerna apa yang Eric bicarakan. Ucapan pria itu memang tak ada salahnya. Tapi gengsi Aletaa tinggi, kalau ia menuruti perintah Eric memakai sandal jepit itu, apa kata dunia nanti. Tapi jika dipikir-pikir, kalau ucapan Eric benar terjadi, Aletaa tak mau jadi buntung.


"Baiklah aku akan memakainya, tapi janji kau harus pastikan kalau tak ada yang akan menertawakanku atau mengolok-oloku kalau pakai sandal jepit seperti ini." Ancam gadis itu.


Eric hanya mengangguk sebagai jawaban.


Keduanyapun berjalan beriringan menuju mobil sambil tangan Eric memegang sebelah tangan Aletaa.


Hal itu tak lepas dari pandangan Monica yang sedari tadi menonton keduanya dari dalam mobil. Monica mengepalkan sebelah tangan-nya kesal. Hal sepele seperti berpegangan tangan saja sudah membuat Monica setuju, apalagi hal manis yang Eric lakukan pada Aletaa tadi, membuatnya semakin benci pada Aletaa.


Eric membuka pintu belakan mobil, membiarkan Aletaa masuk lebih dahulu setelah itu dirinya.


"Ric, bukankah kau yang akan menyetir?." tanya Monica yang sudah duduk dijok depan dekat jok pengemudi.


"Hari ini aku ngantuk, jadi aku takut tak konsen menyetir." sahut Eric, selain karna pria itu memang lelah, Eric juga merasa tak sudi jika harus terus dekat dengan Monica. Apalagi alasan Monica kembali ke negara itu hanya untuk melihat perkembangan perusahaan Eric yang semakin maju dari pada perusahaan yang ia bina diluar negri. Tak ada sedikitpun niat hati Monica untuk memperbaiki persahabatan yang telah hancur karna hubungan persaudaraan tiri.

__ADS_1


"Tentu saja kau pasti lelah, setelah semalaman membadu cinta dengan istrimu itu mana mungkin kau tak lelah. Padahal aku duduk didepan ini untuk berada lebih dekat denganmu Eric, tapi karna Aletaa, semuanya tak bisa terwujud. Ini semua salah Aletaa." Monica membatin dengan kesal.


__ADS_2