
Aletaa perlahan masuk kedalam kamar itu, netranya menyisir sekeliling kamar dengan tatapan terpesona dan tak percaya, sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan untuknya. Sebuah kejutan sederhana namun berharga yang akan Aletaa ingat sampai akhir usianya.
"Apa masksud dari semua ini tuan?." tanya gadis itu.
Eric segera menutup pintu kamar, "ini bukan apa-apa, hanya sebuah kejutan kecil untuk ibu dari anakku." sahut Eric.
Aletaa masih berkeliling didalam kamar, semerbak wangi bunga mawar mengisi seluruh ruangan. Setiap sudutnya dipenuhi taburan kelopak bunga yang indah, serta beberapa lilin tersusun rapih dibeberapa sudutnya, menambah keindahan ruangan itu.
"Aletaa..." panggil Eric sedikit canggung, semua ini tak ia rencanakan dari awal, ada rasa gugup bercampur takut dalam hati pria itu.
"Ya tuan?." sahut Aletaa sambil membalikan badan-nya menghadap sang suami, gadis itu perlahan mendekat kearah Eric yang tengah berdiri disisi ranjang. Aletaa segera duduk diatas ranjang, tepat didepan suaminya. Mata gadis itu terangkat menatap lekat wajah tampan yang tertunduk didepan-nya.
"Ada apa tuan?." tanya gadis itu lagi.
__ADS_1
Dengan memberanikan dirinya, Eric segera menekuk lututnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah cantik Aletaa. Eric menarik nafas panjang-panjang lalu menghembuskan-nya pelan. "Aku tahu kita dipersatukan karna sebuah kontrak, namun aku ingin serius menjalani pernikahan ini denganmu." tutur pria itu.
Aletaa terkesiap tak paham mendengar ucapan Eric, dahinya berkerut mencari jawaban dari ucapan pria itu. "Maksudnya?." tanya gadis itu kesekian kalinya.
"Aku sadar, kita ini sudah sama-sama dewasa. Dulu yang aku pikirkan hanyalah memiliki seorang anak untuk menjadi pewaris keluargaku. Tapi sekarang rasanya berbeda, setelah aku tahu kalau kau sedang mengandung anakku, rasa di dalam hatiku kian berubah, aku bukan hanya ingin memiliki anakku, tapi juga dirimu sebagai ibunya."
Aletaa tak menjawab, "Apa maksud tuan Eric itu menikah?." batin gadis itu bertanya-tanya.
Tak mendapatkan jawaban, pria itu segera bangkit dari posisi jongkoknya lalu berpaling dari gadis yang ada didepan-nya, namun tangan Aletaa terlebih dahulu menggenggam lengan pria itu, membuat Eric tertahan tak mampu melarikan diri.
Eric tertegun lalu tersenyum, gadis kecilnya juga punya rasa yang sama sepertinya, walaupun itu bukan rasa cinta, tapi Eric cukup puas dan bahagia.
"Kalau begitu mari buat perjanjian baru, akankah cinta tumbuh diantara kita sebelum anak itu lahir?, kalau memang setelah anak kita lahir kau tak juga mencintaiku ataupun sebaliknya, kau boleh meninggalkanku untuk mencari cintamu, begitupun aku. Dan untuk anak kita mari besarkan dia bersama-sama." tutur Eric.
__ADS_1
Sesuatu yang mengganjal dalam hatinya setelah sekian lama kini bisa hilang karna sebuah kejujuran. Eric akhirnya bisa bernafas lega saat mengetahui gadisnya itu juga merasakan hal yang sama sepertinya.
"Baiklah, tapi apa perjanjian kemarin akan dibatalkan?." tanya gadis itu.
"Tentu, kita sekarang sudah punya perjanjian baru, kenapa juga harus mengingat yang sudah berlalu."
"Lalu apa uang yang kau janjikan akan tetap dibayar?, aku takut kalau aku tak bisa mencintaimu. Nanti bagaimana jika aku sudah jadi janda dan tak punya uang?." Hal yang selalu Aletaa hawatirkan hanyalah uang. Namun pemikiran gadis itu tak ada salahnya juga, kalau ia terlepas dari Eric, dan Eric mencabut seluruh tanggung jawab atas ayahnya, bagaimana dengan ayahnya yang sakit-sakitan nanti?, Aletaa perlu banyak sekali uang untuk merawat ayahnya itu.
"Tenang saja, masalah uang akan tetap sama. Namun menurutku lebih baik kalau kau benar-benar menjadi milikku untuk selamanya, mungkin kau akan mendapatkan aset yang lebih banyak dari pada sebelimnya." tutur Eric memberi saran.
"Benarkah?." Mata gadis itu berbinar-binar, dia bisa jadi jutawan kalau mendapatkan uang berlimpah dari Eric.
Baiklah kalau begitu, aku pasti dengan mudah akan mencintaimu, dan aku juga akan membuatmu mencintaiku. Itu pasti.
__ADS_1
Tekad Aletaa begitu kuat dan gigih.