
Pria itu nampak menghembuskan nafas pasrah. "Pak ada nasi gak ya?, istri saya gak bisa kalau gak sarapan pakai nasi" tutur Eric.
Seketika wajah Aletaa berseri saat mendengarkan penuturan suaminya. Aletaa tertawa puas, Eric kalah telak jika harus dihadapkan dengan bumil yang susah diatur sepertinya.
Sekali merengek minta rujak, suaminya segera bertindak.
"Kalau dirumah saya ada pak, cuman lauknya paling telur sama ikan asin saja, maklumlah, saya ini orang gak punya, hasil warung aja kadang gak cukup buat beli beras." sahut pria itu.
Eric mengangguk-angguk paham. "Yasudah pak, ikan asin dan telur saja sudah cukup, soalnya istri saya ini termasuk ibu hamil rakus pemakan segala jadi gak usah khawatir sama lauknya." tutur Eric kemudian.
Pria paruh baya itu bergegas keluar dari dalam warungnya, "Kalau begitu tunggu sebentar ya pak, saya ambilkan dulu nasinya." ucapnya sambil terus berjalan kearah sebuah rumah yang tak jauh dari sana.
Tak butuh waktu lama, pak tua pemilik warung sudah kembali sambil membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk telur mata sapi yang ditata ditengah-tengah piring.
Pria itu segera menghidangkan-nya tepat didepan Aletaa. Mata Aletaa berseri saat melihat betapa indahnya kuning telur yang berada tepat dipuncak nasi, ini adalah kenikmatan terhaqiqi untuknya.
Aletaa makan dengan lahapnya, walaupun hanya dengan sebiji telur, gadis itu nampak menikmati setiap suapan. Menurutnya menikmati hidup bukan dengan bergelimangan harta dan memakan makanan mewah. Hidup yang sesungguhnya adalah menikmati semua prosedur yang sudah ditetapkan takdir.
__ADS_1
Pagi ini Eric hanya makan roti dan beberapa gorengan untuk mengganjal perut laparnya. Dari dulu Eric memang tak terbiasa dengan nasi.
"Tuan, Monica sudah melewati masa keritisnya." tutur pelayan yang sedari tadi menemani Monica saat diperiksa oleh pak mantri.
Eric mengangguk paham. "Yasudah, jaga dia sampai siuman. Dan kalau kau lapar, ambil apapun yang kau mau." sahut Eric.
"Baik tuan." tutur pelayan itu sambil melangkah pergi dari sana.
Setelah pelayan itu pergi, nampaknya nasi dipiring Aletaa juga ikut lenyap. "Aku sudah kenyang." tutur gadis itu sambil menyandarkan punggungnya kesandaran bangku kayu yang ia dan Eric duduki.
Aletaa mengangguk cepat.
Eric kemudian menghembuskan nafas berat. "Pak bisa panggilkan anak bapak yang tadi bapak ceritakan?." tanya Eric pada pemilik warung itu.
"Memangnya ada perlu apa bapak sama anak saya?."
Aletaa nampak menggumam kecil. "Begini pak, sayakan sedang hamil anak pertama kami, jadi saya pengen denger pengalaman anak bapak waktu dia hamil juga." sahut Aletaa.
__ADS_1
Pria tua itu menganggu-anggukan kepala saat mendengar penuturan Aletaa. "Lebih baik jika ngobrolnya dirumah saya saja, biar lebih nyaman gitu." tuturnya menawari Aletaa untuk mampir.
Tak perlu banyak berpikir, Aletaa dan Eric segera setuju untuk datang ke rumah si pemilik warung.
***
Ketiganya berjalam beriringan melewati jalan setapak. "Pak ini kita mau kemana?, bukan-nya rumah bapak yang didekat warung tadi?." tanya Aletaa.
"Kita kerumah anak saya, soalnya tadi pagi anak saya sudah pulang ke rumahnya." sahut bapak itu.
Jaraknya tak terlalu jauh dari warung, hanya saja jalan-nya berbelit-belit karna berada tepat ditengah-tengah pemukiman warga yang kumuh.
"Rumah anak saya yang cet biru pak, maaf saya tak bisa menemani sampai sana, takut ada pembeli diwarung." tutur pria itu.
Eric mengangguk, "Trima kasih pak sudah repot-repot mengantar, kalau begitu ini saya bayar makanan yang tadi, kalau memang masih kurang, nanti bilang sama saya." tutur Eric sambil mengulurkan uang pecahan seratus ribu.
Pemilik warung hanya mengangguk lalu segera pwrgi dari sana.
__ADS_1