Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
tak berdaya


__ADS_3

Hari sudah semakin siang, setelah puas bercengkrama dengan keluarga, Aletaa kini tengah berada di dalam kamarnya untuk mengganti kain kasa yang membalut luka bekas jahitan dipahanya.


Nampak juga Eric sedang berjongkok didepan Aletaa, sambil sebelah tangan-nya mengoleskan sedikit salep ke sekitaran luka itu.


"Apa masih sakit?." tanya pria Eric khawatir, melihat kurang lebih 15 jahitan dipaha mulus Aletaa membuat Eric merinding. Rasanya ngilu saat mengoleskan sedikit salep kesekitaran luka itu.


Tak bisa dibayangkan betapa sakitnya luka itu untuk Aletaa, hanya sekedar melihatnya saja Eric sudah tak mampu, apalagi kalau dia yang dulu terkena tembakan itu, mungkin Eric akan cacat untuk sementara waktu.


"Ya, sedikit." sahut Aletaa singkat.


Gadis itu kembali meremang, betapa sempurnanya Eric, punya keluarga yang lengkap dan sangat sayang padanya, ditambah harta yang berlimpah membuat Eric tak pernah merasa kekurangan.

__ADS_1


Aletaa sedikit iri dengan hal itu, gadis itu mengandai dalam lamunan-nya, andai ibunya dulu tak pergi begitu cepat, mungkin hidup Aletaa kecil akan sedikit berwarna walaupun hanya mendapatkan setitik cinta.


"Oh iya, aku melupakan satu hal. Kemana kak Monica?, dari tadi aku disini, tak sekalipun aku melihat batang hidungnya." tanya Aletaa penasaran.


Eric menarik nafas panjang setelah memakaikan kasa baru pada luka Aletaa, pria itu kemudian bangkit lalu duduk tepat disamping sang istri.


Helaan nafas panjang kembali terdengar, "Monica sudah bahagia." ucap pria itu.


Eric kembali menghela nafas panjang. "Kau tahu?, selama dua hari kau ada dirumah sakit, Monica diam-diam telah menemukan kebahagiaan-nya. Sekarang dia sudah menjadi seorang istri." sahut Eric lagi.


"Tunggu, maksudmu, mbak Monika menikah?, jangan bercanda deh." ucap Aletaa masih tak percaya dengan apa yang baru saja suaminya katakan.

__ADS_1


Monica menikah namun Aletaa tak tahu apa-apa, ini sebuah lelucon, lelucon yang gila.


"Kau ingat malam setelah kau ditembak?, semalaman kau pingsan tak juga siuman. Malam itu juga ayah dan ibu pulang. Dan sesaat setelah ayah dan ibu datang, Alex memintaku untuk menemaninya melamar Monica saat itu juga. dan setelah lamaran itu berakhir, drama pun terjadi, ayah dan ibu marah besar setelah mengetahui kalau Monica hamil, saat itu juga kakek sempat kena serangan jantung karna tak menyangka kalau Alex yang melakukan hal keji itu pada Monica."


Aletaa nampak menghayati setiap ucapan yang dilontarkan suaminya. "Lalu kenapa kau tak memberi tahuku dari awal." ucap Aletaa sedikit merengek, kalau saja Eric memberi tahunya sejak awal, mungkin hal mendadak seperti ini tak akan pernah terjadi.


"Saat itu semuanya terjadi begitu tiba-tiba, Alex habis babak belur karna dipukuli ayah semalaman. Lalu esok paginya Alex dan Monica dinikahkan dan dikirim pergi ke luar kota. Aku tak bisa melakukan apa-apa, memberi tahumu juga sia-sia saja, ayah bertidak dengan ego dan nafsunya, puluhan kali aku memberikan jalan tengah untuk permasalahan itu, namun ayah tak mau mendengarkanku sekalipun." Jelas Eric sejelas-jelasnya.


Mendengar penuturan suaminya, Aletaa segera mengangguk paham kemudian membawa kepala Eric ke pundaknya. Apa yang Eric alami begitu berat. "Kalau kau memberi tahuku sejak awal, setidaknya aku bisa sedikit mengurangi bebanmu." ucap Aletaa sambil mengelus kepala suaminya.


Hidup memang penuh dengan kejutan. Ada kalanya niat baik seseorang untuk berubah berakhir dengan tragis.

__ADS_1


Semuanya tak berdaya jika dihadapkan dengan lingkaran takdir, mungkin inilah takdir hidup Monica dan Alex, Melangkah dijalanan berlubang yang membuatnya terluka begitu parah.


__ADS_2