
Riuh, suasana siang dirumah itu sangat ramai. Para pelayan berhamburan dan berdesakan melihat keadaan Aletaa.
Ya, gadis itu encok parah, sampai tak bisa bangun sama sekali. Nampak Aletaa masih tidur terlentang diatas ranjang, dua orang pelayan disampingnya nampak sedang memijat-mijat kaki dan tangan gadis itu untuk membuat tubuh Aletaa sedikit rileks.
"Aduh leherku kayanya patah." Gadis itu terus saja mengeluh.
Dari ia bangun, tubuhnya sudah sangat kaku seperti mayat hidup. Tak mampu berdiri ataupun duduk, pergi ke kamar mandi juga harus di bopong oleh dua orang pelayan.
"Kau ini kenapa?." Tanya kakek, pria tua itu nampak sedang berdiri disisi ranjang memperhatikan Aletaa yang sedang dirawat oleh para pelayan.
Aletaa tertegun mendapatkan pertanyaan seperti itu, mau menjawab apa?, kalau ia menjawab semalah habis ada perang besar, bagaimana reaksi kakek dan yang lain-nya nanti?, Aletaa pasti akan sangat dipermalukan.
Bukan rasa iba yang akan ia dapat, tapi ejekan dan ia akan jadi bahan tertawaan.
Sungguh sial nasip yang menimpa Aletaa, sudah masalah sprai belum selesai, sekarang masalah encok juga. Aletaa benar-benar pusing saat ini. Mau menjawab apa?.
Kakek dan para pelayan nampak menanti-nanti jawaban dari Aletaa, membuat gadis itu semakin gemetar dan takut.
"I itu, tadi pagi aku terjatuh dikamar mandi." Aletaa membuat alasan, gadis itu sedikit tertawa tak jelas untuk memecah suasana canggung di dalam kamar.
"Lalu kenapa Eric memberi tahu kami kalau kau jatuh dari atas ranjang?." Kaken nampaknya menaruh curiga pada Aletaa, apalagi saat jawaban Aletaa dan Eric jauh berbeda.
Gadis itu tertegun. "Dasar pria kurang ajar, harusnya kau itu diam agar masalahnya selesai, sudah salah tak tahu malu juga. Lalu sekarang aku harus jawab apa?" Batin Aletaa merutuk. Apakah ia harus berkata jujur kalau tadi malam Eric dan dia habis mencangkul tanah untuk menanam benih?. Ditambah tadi pagi Eric menyiram benih yang tadi malam ia tanam agar cepat tumbuh. Apakah Aletaa harus berkata jujur kalau cocok tanam yang membuatnya encok sekarang?.
__ADS_1
"Emm...." Aletaa menggumam sambil berpikir.
"Mbok Iyem sudah ada disini." Tutur salah seorang pelayan yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.
Perhatian kakek teralihkan. "Owh, syukurlah..." Pria tua itu melangkah keluar kamar untuk menemui teman lamanya.
Aletaa bernafas lega, akhirnya ia terlepas dari pertanyaan kakek yang membelitnya.
Tak lama Mbok Iyem dan kakek masuk kedalam kamar, di ikuti Eric yang berada tepat dibelakang.
Para pelayan yang menemani Aletaa segera keluar dari kamar. "Cantik sekali, ini cucuk menantumu?." Tanya Mbok Iyem, wanita tua itu duduk disisi Aletaa, mengelus rambut gadis itu lembut.
"Iya, namanya Aletaa, Aletaa perkenalkan ini Mbok Iyem, temen kakek di sma dulu." Kenal kakek.
"Mana yang sakit nak?." Tanyanya pada Aletaa
"Dari pundak ke punggung itu sakit, tangan sama kaki juga pegel. Apalagi dari pinggang ke paha, rasanya kaku gak bisa digerakin." Jelas Aletaa sejelas-jelasnya.
Mbok Iyem nampak mengangguk-angguk paham. "Harus servis semuanya kalau gini." Tuturnya.
Wanita itu mengeluarkan minyak urut dari dalam tasnya. "Cuman suminya yang boleh ada disini." Titahnya kemudian. Tak banyak protes, kakekpun pergi dari kamar itu, menyisakan Eric yang masih berdiri disisi ruangan.
"Mbok saya harus ke kantor." Tutur Eric setelah kakek pergi.
__ADS_1
Mbok Iyem meredarkan pandangan ganas kehadapan Eric, membuat pria itu takut dan menunduk lemas. "Kamu harusnya tanggung jawab, nak Aletaa kaya gini juga karna kamu terlalu kasar pas main buka-bukaan." Tuturnya pada Eric dengan sorot mata yang tajam dan menusuk.
Membuat pria itu hanya bisa mengangguk pasrah. "Bagaimana Mbok Iyem bisa tahu?." Batin-nya.
"Sekarang bantu istrimu pakai kain sarung ini." Titah wanita tua itu pada Eric. Eric hanya bisa pasrah lalu mengambil kain sarung dari tangan Mbok Iyem.
Aletaa yang memperhatikan gelagat Erik sedari tadi hanya bisa menekan bibirnya dalam, menahan tawa yang ingin segera keluar. Ini kali pertamanya melihat Eric patuh kepada orang selain pada kakeknya.
Eric berjalan kesisi ranjang sebelah lain, lalu mulai membantu Aletaa melepas jubah mandi yang menutupi tubuhnya.
"Daleman-nya sekalian dibuka." Titah Mbok Iyem lagi.
Eric tertegun, lalu terdiam sejenak. "Kenapa?, malu?, bukan-nya kamu udah sering ya buka yang beginian." Mbok Iyem kembali bersuaraasaat tak melihat pergerakan sedikitpun dari Eric.
"Kalau main buka-bukaan-nya gak ada mbok, Eric gak akan malu. Malahan abis main buka-bukaan, Eric mau lanjut celap-celup." Sahut pria itu.
Aletaa sontak tertawa. Suami dingin-nya punya sisi jahil.
***
Maaf kemarin author gak up, soalnya kepala author pusing karna mabuk perjalanan.
Sesuai janji author up dua bab, sekarang author up satu bab dulu, nanti sore atau mungkin malem author up satu bab lagi ya.
__ADS_1