
Mentari pagi tak kunjung menyapa, cuaca dipuncak hari ini sangat dingin, hanya terlihat kabut tebal disetiap penjurunya.
Kini Aletaa dan Eric tengah menggulung tubuh mereka dibawah balutan selimut, usai mandi tadi, tubuh keduanya menggigil karna merasakan dingin-nya cuaca pagi ini.
Dalam keheningan pagi itu, tiba-tiba suara ricuh terdengar dari luar kamar. "Suara apa itu?." tanya Aletaa.
Eric mengerutkan keningnya, "Entah, kita cek saja." sahut Eric juga tak tahu. Keduanyapun bergegas keluar kamar, mencari asal dari suara ricuh yang terus terdengar.
Ternyata keributan itu datang dari dalam kamar Monica, "Ada apa ini?." Eric menanyai beberapa pelayan yang ada disana.
"Itu tuan, anu, Monica pingsan." sahut seorang pelayan yang ada disana, mendengar itu Eric dan Aletaa segera masuk kedalam kamar. Monica nampak sudah dibaringkan ditengah-tengah ranjang.
Aletaa naik keatas ranjang, duduk tepat disamping wanita itu. "Berikan aku minyak angin." pinta gadis itu pada seorang pelayan.
__ADS_1
Eric juga nampak duduk diatas ranjang, duduk tepat dibelakang Aletaa, pria itu terus saja memperhatikan gadis yang tengah mengoleskan minyak angin disekitaran hidung Monica. Betapa baiknya hati gadis itu, padahal jika dipikir-pikir, Monica telah begitu jahat kepadanya. Namun kenapa Aletaa masih tetap baik pada wanita jahat itu.
Eric kembali mengedarkan pandangan-nya kesekeliling kamar, pria itu melirik bungkusan vitamin yang ada diatas nakas. Eric berinisiatif membuka bungkusan itu, mata pria itu seketika membola.
Semua obat-obatan yang ada didalam sana sudah habis tak bersisa, pria itu juga mengingat sesuatu, bukan hanya vitamin yang ada disana, tapi juga beberapa pil obat tidur untuk membantu Monica tidur.
"Monica tak pingsan seperti biasa, dia operdosis." seru Eric.
Mendengar penuturan Eric, semua orang yang ada disana kembali panik, "Cepat bawa Monica kedalam mobilku, kita harus segera mencari kelinik terdekat." beberapa intruksi mulai diberikan Eric, panik tak akan menyelesaikan masalah.
"Tuan, ada kelinik di dekat pemukiman warga, kurang lebih jaraknya 3 kilo meter jaraknya dari sini." tutur pelayan itu.
Eric hanya mengangguk lalu segera melajukan mobilnya, tepat dibelakang fila, ada sebuah jalan setapak yang langsung menuju kearah pemukiman warga, Eric melalui jalan itu agar jaraknya jauh lebih dekat dan tidak memakan terlalu banyak waktu.
__ADS_1
Kurang dari 20 menit, akhirnya mobil itu sampai didepan kelinik, Monica segera dibawa masuk kedalam ruangan lalu mulai diperiksa pak mantri yang bertugas.
Eric dan Aletaa menunggunya didepan klinik, gadis itu terus saja mengelus perutnya sambil terus mengatur nafas untuk menenangkan diri. Aletaa sampai tak bisa berkata-kata, setelah berita kehamilan Monica yang terus saja mengiang ditelinganya, hal itu sudah sangat membuat Aletaa cemas, ditambah tragedi operdosis hari ini, Aletaa takut sesuatu yang buruk akan menimpa Monica dan juga bayinya.
"Tenang saja, tak akan terjadi apa-apa pada Monica." tutur Eric mencoba menenagkan.
"Tapi aku sangat takut." sahut gadis itu.
"Kita sarapan dulu saja ya di warung sebelah sana, kau pasti sudah sangat lapar." tutur Eric sambil menunjuk sebuah warung kecil yang ada disebrang jalan.
Aletaa menggeleng pelan, dalam situasi seperti ini, ***** makan-nya seketika hilang
"Ayolah, kalau kau tidak mau, temani aku saja ya." ucap Eric lagi.
__ADS_1
Akhirnya Aletaa setuju lalu segera mengikuti semua yang dipinta Eric.