
Pagi itu suasana rumah terasa panas padahal diluar sedang turun hujan. David yang tak tahu menahu dengan apa yang terjadi dirumah itu sebelumnya hanya terdiam sambil menonton perdebatan antara kakek dan pelayan-nya.
"Kalian ini kerjanya gimana sih?, di kasih tugas sesimpel itu juga gak bisa di lakuin dengan benar." Kakek nampak memarahi tiga orang pelayan yang tadi malam membantunya menjalankan misi.
Tadi malam, tiga pelayan itu ditugaskan untuk memastikan apakah Eric dan Aletaa benar-benar bercocok tanam. Namun saat ketiganya sedang menuguping, nampaknya Eric yang peka terhadap situasi apapun mengetahui kalau tiga orang itu sedang memata-matainya.
Otomatis Eric yang tidak suka di mata-matai menggebrak pintu sambil memarahi mereka. Beruntung pintu itu terkunci, kalau tidak, mungkin pagi ini mereka sudah menjadi mayat karna diterkam Eric yang ganas.
"Kek, tugas darimu itu tidak mudah, kami tadi malam hampir saja menjadi korban amukan Tuan Eric." Seorang pelayan akhirnya buka suara.
Kaket tak mendengarkan, pria tua yang egois tak pernah mengakui kalau dirinya salah. Kakek akan selalu benar dan yang berurusan dengan-nya salah.
"Aku tidak paham dengan apa yang kalian bicarakan, aku kesini untuk bertemu dengan kak Eric, sekarang dimana dia?," David menyela, maksud kedatangan-nya kerumah itu untuk mencari data perusahaan bulan ini dari kakaknya, agar skripsinya bisa cepat selesai dan pria itu bisa tidur dengan nyenyak lagi.
Hujan badai ia lalui untuk sampai kerumah itu. Tapi saat sampai, pria itu malah diacuhkan dan harus menonton acara debat antara kakek dan pelayan-nya yang tidak selesai-selesai dari hujan deras, lalu cerah sampai hujan turun lagi.
Kakek yang mendengar penuturan David terkesiap, ia benar-benar lupa kalau Aletaa dan Eric masih terkunci dikamar.
"Oh iya aku lupa, cepat buka pintu kamarnya!." Titah pria tua itu.
Seorang pelayan mengasongkan telapak tangan-nya. "Hanya buka pintu saja harus pakai ongkos?, astaga, art zaman sekarang gak gerak kalau belum dipanasin pakai uang" Pria tua itu mengomel sambil memberikan uang pecahan seratus ribu yang ia ambil dari sakunya.
"Bukan uang kek, tapi kunci kek kunci, kuncinya mana?." Sahut pelayan itu.
__ADS_1
"Bukankah kalian yang membawa kuncinya?." Tanya kakek.
Ketiga pelayan itu menggeleng, mereka tidak sama sekali memegang kuncinya, melihatnya saja tidak pernah.
"Bukan-nya kakek yang kemarin malam membawanya?."
Kakek nampak berpikir keras, pria tua itu sudah mulai pikun dan lupa-lupa. Juga sudah mulai lemot dan loding karna koneksinya sudah ketinggalan zaman.
"Aku benar-benar lupa, cepat cari kalau tidak Eric dan Aletaa tak bisa keluar." Dengan panik kakek memerintahkan tiga pelayan itu untuk mencarinya.
Mengingat semua kunci di rumah itu adalah kunci dimpel yang dibuat khusus dan tidak ada duplikatnya, jadi hanya ada satu kunci untuk setiap ruangan. Jadi jika satu kunci hilang, otomatis ruangan itu tak bisa dibuka karna tidak ada duplikatnya.
Kakek panik, tiga pelayan itu berusaha mencarinya ditempat-tempat yang mungkin saja terselip dan tersembunyi. Karna tidak mungkin jatuh ditempat biasa. Rumah itu dibersihkan setiap pagi, jadi barang kecil seperti kunci sekalipun pasti akan ditemukan.
…
Perlahan mata pria tampan itu terbuka, maniknya menatap sekeliling. Ruangan nampak sepi.
Mata pria itu berhenti dikepala gadis yang menindih dadanya. Rambutnya tercium sangat harum. Saat tidur Aletaa punya kebiasaan buruk. Tangan-nya memeluk erat tubuh Erik dengan kepala yang dibiarkan menindih dada untuk dijadikan bantal.
Pria itu tersenyum lalu mengusap kepala Aletaa lembut, perlahan tangan-nya melepaskan tangan Aletaa yang membelit tubuh. Lalu Eric juga memindahkan kepala Aletaa keatas ranjang.
Pria itu bangkit dari posisi tidurnya. Merenggangkan otot-otot yang terasa kaku terutama lehernya yang terasa patah karna tidur tampa menggunakan bantal.
__ADS_1
Eric bangkit dari atas ranjang lalu kembali menyelimuti tubuh polos Aletaa. Nampak banyak bercak darah di sprai putih itu. Bukti dan saksi malam panas yang pernah terjadi.
Saksi bisu bersatunya dua insan karna dorongan syahwat dan *****.
Eric berjalan tampa busana kearah kamar mandi. Senyuman dibibirnya tak pudar-pudar dari semenjak ia membuka mata. Entah mengapa hatinya merasa sangat bahagia.
Tak lama pria itu kembali dengan pakaian lengkap menutupi tubuh. Nampak Aletaa masih tertidur diatas ranjang. Wajahnya pucat dan terlihat sangat letih.
penyatuan semalam membuat gadis itu tak berdaya hingga belum bangun juga walau hari sudah mendekati siang.
Eric menarik sprai penuh darah yang sudah acak-acakan tak lagi menutupi bagian kasur. Bukti itu harus ia hilangkan atau sembunyikan sebelum ada yang melihatnya.
Tak lama suara kunci diputar terdengar dari luar kamar. Eric segera mendekat kearah pintu. Nampak dua orang pelayan membuka pintu dan membawa satu koper berisi pakaian Aletaa.
"Tuan, pakaian Nona." Pelayan itu menyodorkan kopernya pada Eric.
Eric menerimanya lalu memasukan-nya kedalam kamar. "Jangan ada yang masuk atau menganggu Aletaa!!." titah pria itu.
Para pelayan hanya mengangguk sambil menahan senyum.
Mereka segera berlalu dari hadapan Eric. Berita yang menggembirakan. Mereka harus cepat-cepat memberi tahu kakek tentang hal itu. Tuan-nya membawa sprai penuh darah, hasil apa lagi kalau bukan hasil peperangan.
Kakek pasti akan sangat bahagia saat mendengar berita itu.
__ADS_1