Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
revisi kontrak


__ADS_3

Ke esokan harinya David kembali ke rumah sakit untuk menemui Aletaa dan menagih janjinya kemarin. Namun kini ia tak datang sendiri, namun Eric dan seorang kuasa humumnya juga ikut menemani.


"Dia ada di ruangan yang ujung k" Ujar David memberi tahu kakaknya tentang keberadaan Aletaa saat ini.


Ketiganyapun segera masuk ke ruangan yang tadi ditunjuk David. Aletaa yang tengah makan didalam ruangan terperanjat karna orang-orang itu tiba-tiba masuk ke kamar rawat ayahnya.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Aletaa pada Eric yang berdiri paling depan.


"David, ada apa dengan semua ini?" Lanjut Aletaa menanyai orang yang telah ia anggap sebagai malaikat penolongnya.


Dengan gerakan jari, Eric memerintahkan dua orang yang bersamanya untuk membawa Aletaa pergi dengan-nya.


Gadis itu terus memberontak saat kedua tangan-nya diseret mengikuti Eric. "Ini penculikan lepaskan, tolong... tolong... aku diculik" Ujar Aletaa sambil masih terus memberontak. Gadis itu terus menggoyang-goyangkan tubuhnya agar bisa lepas.


Namun semua yang ia lakukan selalu nihil tak membuahkan hasil. Sekuat apapun seorang wanita, pastilah ada satu tiktik saat dimana dia lemah tak berdaya. Sering kali pria menyepelekan kekuatan seorang wanita. Namun wanita lemah bukan karna kalah saing dari pria. tapi mereka tau batasan.


Mereka membawa gadis itu kedalam mobil, Aletaa dipaksa masuk kedalam. Nampak Eric yang dingin sudah menanti kedatangan-nya disana. "Tidak mau... tidak...". Gadis itu masih memberontak, semobil dengan Eric?, no... itu seperti membunuh diri sendiri.


Lama Aletaa satu mobil dengan Eric, gadis itu masih terus memberontak, berusaha memanggil orang-orang yang ada diluar. "Diamlah, mobil ini dilengkapi pitur kedap suara, jadi sekuat apapun kau berusaha, itu tak ada gunanya" Tutur Eric.

__ADS_1


"Kalau begitu lepaskan aku, keluarkan aku dari sini"


"Aku tidak memegang kuncinya, dua orang itu yang telah menguncimu disini" Sahut Eric.


Lama keadaan henig, Aletaa hanya cemberut sambil menyandarkan wajahnya ke kaca mobil. membuat hidung dan bibir yang menyatu nampak samgat menggelikan bila dilihat.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Akhirnya Aletaa mau bersuara. Dia sudah lelah menjadi sandraan dalam mobil yang tak punya makanan.


Eric tak menjawab, pria itu hanya mengasongkan sebuah map yang kemarin ditanda tangani oleh Aletaa. "Apa ini?" Tanya gadis itu tak mengerti.


"Kontrak kau dan David kemarin, aku kesini karna itu. kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan?" Tutur Eric dengan dingin-nya, Pria tiu tak sekalipun melirik kearah Aletaa, matanya fokus kearah depan. jemarinya bertaut dan diletakan diatas paha, serta kakinya menyilang. Posisi itu tak pernah berubah. Eric sudah seperti manekin yang sering ada di toko-toko pakaian.


Karna penasaran Aletaa segera membacanya dengan keras. "Surat kontrak pernikahan" Tuturnya saat membaca judul dari kontrak perjanjian yang telah ia tanda tangani kemarin.


Aletaa terus membacanya dengan berbisik, hingga sampailah ia pada poin-poin permainan itu. Aletaa kembali membacanya dengan keras. "1. Kontrak ini akan berakhir setelah pihak 2(Aletaa) melahirkan putra/putri dari pihak 1(Eric)." Aletaa kembali membelalakan matanya. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah, "Bagaimana mungkin aku harus melahirkan anak pria batu ini?, kalau benar begitu, artinya keperawananku akan hilang" Batin-nya mencerna poin kontrak itu.


"Bagaimana mungkin aku harus sampai mengandung anakmu, bukan-nya disini jelas tertulis kalau aku hanya akan menjadi istri pura-puramu demi kesembuhan kakekmu?"


"Lanjutkan..." Suruh Eric datar. Telinganya seakan tak mendengar penolakan dari Aletaa.

__ADS_1


"2. Jika pihak 2(Aletaa) berhasil memberikan anak untuk pihak 1(Em oric), pihak 2(Aletaa) mempunyai hak atas 1/4 dari harta pihak 1(Eric)."


Aletaa kembali membatin. "Benar kata David kemarin, aku akan jadi miliader dadakan".


"3. Pihak 2(Aletaa), tidak boleh menentang perintah dari pihak 1(Eric)" Aletaa membaca poin terakhirnya.


"Apa semuanya sudah jelas?" Tanya Eric memastikan.


Gadis itu hanya mengangguk.


"Ta... tapi bagaimana dengan ayahku?" Tanya Aletaa lagi. Poin surat kontrak itu tak terlalu memberatkan-nya, setelah ia berhasil melahirkan anak Eric, gadis itu akan jadi janda kaya. Tapi Aletaa masih punya tanggungan. jika ia harus pergi, bagaimana nanti dengan ayahnya?.


"Kenapa kau memilihku, carilah orang yang tidak mempunyai tanggungan dan bisa mencintaimu dengan tulus tuan?" Tanya Aletaa lagi, kini meadaan membiru. Ada sebuah perasaan sedih dihati Aletaa.


"Kenapa aku memilihmu?, aku ini pria penyakitan, tubuhku tak bisa bersentuhan dengan wanita. Dan hanya kau yang bisa membantuku saat ini" Sahut Eric. Ini pertma kalinya pria itu mengungkapkan jati dirinya.


Pria itu rapuh, butuh sebuah penopang.


"Kalau masalah ayahmu, tengang saja, dia akan aman. Aku sudah mengirimkan seorang perawat dan asisten pribadi. Ayahmu juga sudah tahu kalau kau akan menikah denganku dan dia merestuinya" Sahut Eric.

__ADS_1


Kini perasaan Aletaa lega, "Baiklah aku menyetujui kontrak ini" Tuturnya.


Melihat keadaan Eric saat ini, Aletaa merasa iba. Pria itu dipenuhi banyak masalah. Dari luar pria itu nampak kuat, tapi didalam hati kecilnya, dia rapuh tak berdaya.


__ADS_2