
Saat suasana genting tiba-tiba nada dering telpon terdengar dari atas nakas. Eric berdecak sebal, dengan terpaksa ia menurunkan tubuh Aletaa yang tadi sudah ada di dalam pangkuan-nya.
Merasa dapat pertolongan, Aletaa perlahan menjauh dari pria yang sedang serius mengangkat telpon dari seseorang. Melihat Eric sedang serius, Aletaa berlari pergi kearah pintu keluar.
Aletaa menghembuskan nafas lega saat sudah berada diluar kamar "Akhirnya aku lepas juga." Gadis itu menggumam lalu masuk kedalam kamarnya.
***
Waktu makan siang pun tiba, hari ini cuaca mendung dengan rintikan gerimis kecil terus turun. Suhu udara dingin membeku, tak ada yang berani keluar rumah takut terserang demam.
Nampak Aletaa sedang membantu para pelayan membereskan meja makan. Menata piring, sendok dan garpuh adalah keahlian-nya. Gadis itu tahu betul etika dan dimana harus meletakan alat makan-nya.
Gadis yang pintar, namun sayang, otaknya tak terlalu ia pelihara. Semenjak penghianatan yang Alex berikan, Aletaa seratus delapan puluh derajat berubah, gadis yang biasanya cool, rapih dan bersih, kini menjelma jadi sosok gadis yang bisa dibilang bodo amat. Dari luar gadis itu memang seperti anak kecil, sikapnya yang polos dan tak mempedulikan penampilan.
Namun hatinya memikul banyak beban, rasa sakit hati dan penghianatan yang ia rasakan terus mengiang-ngiang dan membuatnya hampir tak semangat untuk hidup.
Tapi setelah bertemu kakek dan Eric, Aletaa menyadari, didunia ini tak hanya ada Alex saja, Aletaa tak harus berlarut dalam sebuah rasa sakit yang terlanjur mengiris hatinya. Masih banyak orang yang menyayanginya sama seperti orang tua menyayangi putrinya sendiri, seperti seorang kakak menyayangi adiknya, seperti seorang kekasih mencintai kekasihnya.
Dunia ini luas, kebahagiaan bisa didapatkan dari mana saja. Orang yang setiap hari ada dalam doamu, bukan berarti orang itu yang akan menjadi imamu. Orang yang setiap hari ada disisimu, bukan berarti orang itu yang akan selalu ada untukmu.
__ADS_1
Percayalah, semua orang punya kebahagiaan.
Seperti Aletaa saat ini, pil pahit telah ia telan setiap hari, dan kini waktunya Aletaa untuk merasakan yang namanya bahagia. Bahagia hidup bersama keluarga baru, walaupun mungkin kebahagiaan itu hanya bertahan satu atau dua tahun. Tapi Aletaa bersyukur dan bahagia.
"Tolong panggil yang lain-nya, makan siang sudah siap." Titah Aletaa pada salah seorang pelayan yang tadi membantunya menghidangkan makanan.
Pelayan itu mengangguk lalu pergi dari hadapan Aletaa.
Tak lama kakek dan Eric datang, kakek segera duduk ditempatnya, tepat ditengah-tengah meja panjang itu. Sedangkan Eric dan Aletaa duduk bersebrangan dipisahkan meja dan deretan makanan diatasnya.
"Sebelum mulai makan, kakek ingin bertanya sesuatu." Kakek membuka pembicaraan. Sejenak mata Aletaa dan Eric saling menatap, lalu beralih memperhatikan kakek yang belum menyelesaikan ucapan-nya.
"Kakek dengar, kalian hanya menikah sirih?."
"Apa kau memberitahu kakek?" Tanya Eric pada Aletaa dalam hati.
"Tidak, sumpah aku tidak bicara apa-apa." Seakan punya kekuatan telepati yang bisa membaca pikiran orang lain, Aletaa menjawab dengan suara hatinya.
Merasa diacuhkan, kakek berdehem meminta perhatian dua orang itu.
__ADS_1
"Kami masih menundanya kek, sekarangkan diperusahaan sedang ada skandal, jadi jika kami menikah dan mendaftar ke negara, otomatis publik akan tahu dan semakin mempersulit kita." Eric memberi alasan.
"I iya." Aletaa mempertegas sambil tersenyum canggung.
Sebuah alasan yang kurang masuk diakal, "Hmmm terserah kalian saja, asalkan itu baik kakek akan selalu mendukung, tapi jangan sampai kalian tak men-sah-kan pernikahan kalian dimata negara. Biar publik tahu kalo Eric pria normal biasa dan bisa punya istri." Sahut kakek.
"Kapan kalian berencana meresmikan hubungan kalian secara negara?." Kakek lanjut bertanya.
"Secepatnya." Spontan Aletaa menjawab seadanya.
Eric membelalakan mata, mereka tak akan mungkin meresmikan hubungan-nya, ini hanyalah sebuah pernikahan kontrak, setelah kontrak ini selesai, mereka akan menjadi dua orang yang tak saling kenal seperti sebelumnya. Dan Eric tak ingin membebani Aletaa dengan status janda yang akan ditulis oleh negara setelah mereka berpisah nanti jika sekarang mereka meresmikan-nya di hadapan negara.
Pernikahan ini cukup antara mereka dan tuhan.
"Setelah skandal ini selesai." Eric menyela.
Banyak sekali rumor miring yang menyebutkan kalo Eric bukan pria normal, mungkin karna alergi anehnya.
Itu cukup membuat kakek khawatir, bagaimana kalau nanti cucuknya tak akan pernah menikah dan punya keturunan?. Tapi dengan kehadiran Aletaa, kakek cukup tenang.
__ADS_1
***
Maaf nih part ini kurang nyambung, authornya juga pusing soalnya author mau ganti beberapa skenario biar happy ending.