
Hari nampak mulai gelap, seharian ini Aletaa dan Ruws hanya diam dirumah. Malas, faktor utama yang bisa membuat siapapun tak mampu beranjak dari tempat tidurnya.
Rumah masih sepi, tak ada sepotongpun pelayan terlihat. Entah piknik macam apa yang kakek adakan sampai hampir larut seperti ini.
Aletaa hanya diam di dalam kamar, dari tadi siang ia tak ingin membuat kegiatan. Entah mengapa rasa sakit diselangkangan-nya baru terasa sore imi, padahal tadi siang, semuanya normal, Aletaa tak merasakan apapun pada tubuhnya.
Gadis itu merebahkan tubuhnya diatas sofa, matanya fokus tertuju pada layar televisi yang sedang memutar acara sinetron pemersatu emak-emak.
Gadis itu dari dulu memang sudah suka sinetron, menurutnya sinetron itu adalah tempat pelampiasan emosi, karna didalam setiap ceritanya selalu banyak konflik dan intrik yang menguras emosinya dan selalu berhasil membuat Aletaa gereget sendiri.
Meninggalkan Aletaa yang sedang malas-malasan.
Disisi lain Eric masih sibuk dengan rapatnya, juru bicara masih menjelaskan jalur dan rancangan proyek yang akan mereka kerjakan beberapa minggu lagi. Disaat mata para pegawai melihat presentasi itu, Eric malah melamun kosong, pria itu benar-benar tidak bisa fokus sekalipun rapat ini terbilang sangat penting.
Dalam benaknya hanya ada Aletaa dan senyuman indahnya.
"Pak, bagaimana menurut anda?." Tanya seorang pegawai, Eric tak menjawab, pria itu masih betah berada dalam lamunan-nya. "Pak, bagaimana menurut anda?." Pegawai itu kembali kembali bertanya, kali ini ia sambil mendaratkan sebuah guncangan kecil pada tubuh bosnya.
Eric akhirnya tersadar, "Ada apa?," sontak pria itu bertanya. David yang duduk disudut ruangan menepuk dahinya. "Kak, tadi mereka bertanya bagaimana kesimpulan rapat ini." David menyela.
__ADS_1
Pria muda yang hanya sebatas asisten Eric itu selalu ikut dalam setiap rapat, David yang melihat perbedaan dari kakaknya merasakan ada sesuatu yang aneh. Biasanya sang kakak tak pernah memalingkan perhatian-nya kalau sedang rapat, apalagi sampai melamun.
Namun kali ini nampak berbeda, tidak biasanya Eric seperti itu.
Eric yang benar-benar sudah tidak bisa konsen segera bangkit dari kursi kebesaran-nya. "Kau tau apa tugasmu." Tuturnya sambil menatap tajam sang adik.
Eric berlalu dari ruangan itu, pria itu melangkah kearah pintu keluar. "Jam sembilan bapak punya rapat penting dengan klien kita yang dari Amerika." Seorang sekertaris wanita bersuara, mengingatkan bosnya kalau ada rapat penting sebentar lagi.
"Batalkan semua rapat hari ini, aku ingin pulamg." Pria itu menyahut dengan nada dingin.
"Tapi pak, klien ini sangat penting, kita bisa kehilangan ratusan juta kalau kontrak kita dan perusahaan itu tidak berjalan lancar." Sekertaris itu kembali mengingatkan.
Biarlah ratusan juta lenyap dari pada pria itu tak bisa konsentrasi.
***
Mobil hitam itu masuk kedalam halaman. Eric segera masuk kedalam rumah, dia benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Aletaa.
Gadis itu seakan jadi madu yang membuatnya candu, gadis manis itu berhasil membuat Eric selalu ingin menyicipinya.
__ADS_1
Pria itu tak mempedulikan keadaan rumah yang sepi sedikitpun, Eric sangat bersemangat hari ini.
Erik yang biasanya akan langsung masuk kedalam ruang kerja sepulang dari kantor, kali ini memutar langkahnya menuju kamar Aletaa.
Pria itu membuka pintu perlahan lalu masuk kedalam kamar. Nampak Aletaa tertidur lelap diatas sofa dengan televisi yang masih menyala.
Eric sedikit melengkungkan bibirnya membuat sebuah senyuman yang nampak mengerikan. Tampa ada keraguan sedikitpun, pria itu mendekat kearah Aletaa lalu membopongnya sampai keatas ranjang.
Eric mulai menjalankan aksinya, tangan pria itu mulai berjelajah disetiap lekuk tubuh indah Aletaa.
Aletaa yang tidurnya sedikit terganggu menggeliat, matanya perlahan terbuka. Gadis itu kaget saat pria yang semalam merenggut mahkotanya kini sedang menjamah kembali tubuhnya.
"Tuan apa yang kau lakukan?." Tanya Aletaa sambil mendorong sedikit tubuh pria yang hampir menindih tubuhnya.
"Tenang saja, kali ini tidak akan lama." Eric sedikit menyahut lalu kembali menjalankan aksinya.
Aletaa yang masih linglung karna baru bangun tidur hanya bisa menerima dengan pasrah perlakuan yang suaminya berikan.
Biarlah. Semakin cepat mereka punya anak, semakin cepat pula kontrak pernikahan yang menjerat keduanya akan segera berakhir.
__ADS_1