
Keesokan harinya, seperti pagi biasa, pagi ini kegiatan Aletaa diawali dengan mengurusi perlengkapan sang suami.
Dari mulai kemeja, jas, sepatu dan tas sudah gadis itu siapkan diatas kasur.
Ya walaupun di dalam surat kontraknya tak dicantumkan kewajiban Aletaa sebagai seorang istri harus dijalankan, tapi gadis itu cukup tahu diri tantang tugasnya, Walaupun pernikahan yang ia dan Eric jalani hanyalah pernikahan berlandaskan hitam diatas putih, namun tetap saja, Aletaa adalah istri sah Eric, sudah seharusnya gadis itu melakukan semua kewajiban-nya sebagai seorang istri.
Setelah semuanya beres, Aletaa beralih pada sang suami yang nampak masih tertidur pulas diatas lantai beralaskan karpet. Gadis itu menepuk pelan lengan suaminya, mencoba membangunkan Eric yang masih tertidur pulas.
"Bangun, ini sudah siang, kau bisa terlambat kalau terus begini." tutur Aletaa sambil tangan-nya masih terus mengguncang tubuh pria itu.
Tak lama, Eric mulai menggeliat, mata pria itu perlahan terbuka dan tatapan-nya langsung tertuju pada paras cantik sang istri.
"Ayo cepat bangun." tutur Aletaa, gadis itu perlahan bangkit dari posisi sebelumnya, namun terlambat, tangan Eric sudah terlebih dahulu memegang tangan Aletaa, menariknya lembut sampai Aletaa jatuh tepat kedalam pelukan hangat pria itu.
"Beri aku ciuman selamat pagi." tutur Eric dengan suara khas bangun tidurnya. Aletaa menatap lekat wajah tampan Eric, ada yang salah dengan suaminya, kenapa Eric jadi semanis ini?, apa itu karna semalam Eric tidur dengan kakek?.
"Hentikan candaanmu dan cepat lepaskan aku." sahut Aletaa sambil tertawa kecil, gadis itu tak sedikitpun menghiraukan ucapan Eric tadi, Aletaa belum bisa percaya kalau pria yang ada didepan-nya benar adalah suaminya.
__ADS_1
"Aku tak bercanda, cepat lakukan dan jangan coba-coba untuk membantah ucapanku." tegas pria itu.
Aletaa berpikir sejenak, apa Eric baik-baik saja?. Perlahan bibir gadis itu mengecup sekilas pipi Eric.
"Sudah." tutur Aletaa sambil kembali menjauhkan wajahnya dari wajah tampan sang suami.
"Dari mulai hari ini, kau harus memanggilku dengan sebutan sayang." ucap Eric lagi.
Mata Aletaa seketika terbelalak, kenapa harus begitu?. Kenapa hal ini sangat mendadak?. "Maksudmu?." tanya Aletaa pura-pura tak paham.
"Ingat, saat kontrak kita masih berjalan, peraturan yang ku buat adalah perintah penting yang harus kau tepati dan tunaikan." tutur Eric lagi.
Pada akhirnya Aletaa hanya bisa pasrah. "Baiklah." sahut gadis itu.
…
Saat ini nampak semua orang sudah berkumpul diatas meja makan. Seperti biasa kakek duduk diujung meja panjang itu.
__ADS_1
Sedangkan Aletaa dan Eric duduk bersebrangan.
"Sayang, hari ini kamu mau sarapan pakai apa?." tanya Aletaa, sambil menyodori dua menu sarapan pagi ini.
Antara nasi goreng dan roti panggang buatan gadis itu, mana yang akan Eric pilih?.
"Apa saja." sahut Eric, pria itu masih sibuk dengan koran yang ada ditangan-nya.
Kakek yang sedari tadi memperhatikan pasangan itu hanya bisa tersenyum. "Bagus Eric, kau sudah mengikuti saran dari ku." batin kakek ber-hore saat mendengar Aletaa memanggil Eric dengan sebutan sayang.
Bukankah langkah pertama memperbaiki hubungan adalah dengan memperbaiki panggilan?.
Mungkin saja setelah Aletaa dan Eric sama-sama memanggil sayang satu sama lain, rasa sayang yang sesungguhnya akan hadir seiring berjalan-nya waktu.
***
Hallo semua, maaf author baru up, tadi siang author ada kesibukan lain, jadi gak sempet tulis naskah, maaf ya semuanya.
__ADS_1