Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
mules


__ADS_3

Sepanjang jalan kembali ke kelinik, Aletaa tak hentinya menitikan air mata, entah mengapa tapi hatinya terasa disayat-saya saat mengingat sebuah perkataan menakutkan dari nenek itu.


Sebuah kalimat yang membuat nya merasa takut, dan mengapa rasa sakit itu terus saja kalut dan semakin berlarut?.


"Ya ampun Aletaa, bukan-nya kau dengar apa yang tadi cucuknya katakan, neneknya sudah pikun dan suka berbicara sesuatu yang tidak ada maknanya, jadi tak usah pikirkan ucapan-nya tadi." tutur Eric, entah kali keberapanya pria itu menenangkan sang istri, namun tetap saja Aletaa tak mau berhenti membuang-buang air matanya yang berharga.


Eric kembali diam, langkah pria itu tiba-tiba terhenti saat merasakan mulas yang luar biasa diperutnya. "Le... ta." panggil Eric dengan suara bergetar.


Aletaa yang mendengar itu segera membalikan badan-nya menghadap sang suami. "Kenapa?." tanya gadis itu masih dengan isakan tangis yang tadi.


Eric memegang perutnya kencang. "Mules." tutur pria itu dengan suara parau, wajahnya pucat pasi, urat-urat ditangan-nya menonjol karna tak kuat menahan gejolak mulas yang begitu dahsyat.


Dengan panik gadis itu memegang tubuh sang suami, matanya menyisir sekeliling mencoba mencari kamar mandi umum yang ada disekitaran tempat itu.


Namun nihil, ditempat itu tak ada kamar mandi umum ataupun rumah-rumah penduduk.

__ADS_1


"Kenapa?." tiba-tiba suara itu datang dari arah belakang mereka, Aletaa melirik ke arah suara, nampak Dila berjalan pelan kearahnya.


"Loh pak Eric kenapa?." tanya Dila lagi. Mata wanita itu memperhatikan Eric dengan seksama.


"Katanya mules." sahut Aletaa.


Seketika Dila juga ikut panik. "Tempat ini jauh dari wc umum, jauh juga dari pemukiman warga, kalau begitu bagaimana jika kembali kerumahku saja." tutur Dila memberi saran. Rumahnya memang jauh jika ditempuh melewati jalan biasa, tapi ada jalan pintas agar bisa cepat sampai ke rumahnya.


"Bagaimana?." tanya Aletaa pada suaminya.


Eric menggeleng, mulesnya sudah tak tertahankan. Bergerak sedikit saja bisa-bisa terjadi longsoran dahsyat. "Rumah Dila terlalu jauh." sahut pria itu dengan suara mengerang, mencoba menahan mulasnya yang semakin parah.


"Kalau begitu jalan beberapa meter kedepan masih bisa?." tanya Dila.


Eric mengangguk lalu mengikuti langkah Dila. Dengan susah payah pria mencapai tempat yang dituju, bertumpu pada tubuh Aletaa, Eric akhirnya bisa sampai ketepi kolam ikan dengan selamat.

__ADS_1


"Disana saja." tutur Dila sambil menunjuk sebuah pancuran. Beralaskan beberapa batang bambu dan dingdingnya terbuat dari anyaman bambu. Pancuran itu berada tepat diatas kolam ikan.


"Memangnya boleh?." tanya Eric dengan suara gemetaran.


"Boleh pak Eric, itu memang tempatnya." sahut Dila.


Karna tak bisa menahan lagi, Eric akhirnya memasuki kamar mandi jadul itu. Membawa setra Aletaa untuk ikut masuk dan menemaninya.


"Setelah ini bagaimana?." tanya Eric lagi saat sudah ada didalam pancuran.


Aletaa mengerucutkan bibirnya kesal, kenapa ia harus ikut masuk kedalam kamar mandi?. Ini cuman buang air besar. Lagi pula Eric sudah besar dan bisa cebok sendiri.


"Tinggal jongkok dilubang itu saja apa susahnya?." sahut Aletaa ketus, tangan-nya menunjuk sebuah lubang yang biasa dipakai sebagai jalan pembuangan sebelum akhirnya kotoran nyemplung kedalam kolam.


"Aku akan tunggu diluar." tutur Aletaa kemudian.

__ADS_1


Namun nampaknya Eric manja dan tak mau ditinggalkan sendirian, pria itu nampak mengenggam erat tangan Aletaa tak mau membiarkan-nya pergi begitu saja.


Pada akhirnya, Aletaa hanya bisa pasrah, gadis itu hanya bisa diam sambil menutup lubang hidungnya rapat-rapat.


__ADS_2