
Sudah hampir 2 jam mereka menunggu didalam caffe itu, sampai-sampai Aletaa mulai merasa bosan dan mengantuk. Kenapa ayah dan ibunya belum juga sampai?. Apalagi ponsel mereka tak bisa dihubungi, membuat Eric sedikit cemas.
"Kapan mereka datang?, dari tadi aku memperhatikan pintu keluar bandara namun tak juga melihat ayah dan ibu keluar dari sana." ucap Aletaa membuka pembicaraan.
"Entah, kabar terakhir yang mereka berikan sudah hampir 3 jam lalu, rasanya mustahil jika mereka masih dalam pesawat. Kita cari tahu saja, dan menanyakan-nya pada petugas bandara secara langsung." sahut Eric.
Eric segera mendekat kearah kasir, kemudian membayar makanan yang tadi sudah ia santap bersama Aletaa.
Setelah membayar, pasangan itu segera keluar lalu berjalan kearah bandara yang ada berada tepat disebrangnya.
Saat berada didepan pintu masuk bandara, terdengar pembicaraan orang-orang yang ada disana. "Kasihan ya, ku dengar banyak mayat yang tubuhnya sudah tidak sempurna." ucap salah satu orang.
"Mungkin mayatnya habis dimakan ikan." sahut yang lain.
Eric dan Aletaa mengerutkan keningnya. Ada kabar menggemparkan apa?. Tanpa berpikir panjang, mereka segera masuk kedalam bandara.
Ya orang-orang didalam juga membicarakan mayat dan laut.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Eric berdering. Pria itu segera mengangkat panggilan telpon dari adiknya David. "Halo, ada apa?." tanya pria itu sedikit sinis.
"Kak, pesawat yang dinaiki ayah dan ibu mengalami kecelakaan dan jatuh ke laut." ucap David.
Eric terhentak, "Lalu sekarang kau ada dimana?." tanya Eric lagi.
"Aku sekarang ada dipelabuhan yang jaraknya tak jauh dari tempat jatuhnya pesawat. Disini sudah ada beberapa mayat yang belum terkonfirmasi identitasnya dan juga ada beberapa korban yang selamat. Ku harap ayah dan ibu juga bisa selamat." jelas David.
"Apa kakek sudah tahu?." tanya Eric lagi.
"Yasudah kalau begitu, aku akan segera menyusulmu kesana." ucap Eric sambil mematikan panggilan telpon itu.
Eric segera menarik tangan Aletaa lalu membawanya keluar dari bandara. "Kau mau pergi?." tanya Aletaa saat mereka sudah berada didalam mobil.
"Ya, aku harus pergi untuk memeriksanya." sahut Eric.
"Aku ingin ikut." ucap Aletaa lagi.
__ADS_1
Eric segera menatap wajah Aletaa lekat, kemudian memegang bahu Aletaa lembut. "Tak boleh, kau harus memikirkan keadaan bayi kita. Bukankah dokter pernah bilang kalau kau tak boleh kecapekan?. Jadi sekarang akan lebih baik jika kau dirumah saja menemani Dion dan kakek." sahut Eric.
Aletaa kemudian menganggukan kepalanya paham. "Baiklah, tapi ingat untuk selalu mengabariku." ucap gadis itu.
Eric mengangguk kemudia mengecup dahi Aletaa singkat. "Tentu, aku pasti akan selalu mengabarimu." sahut pria itu.
Mobil hitam itu melesat dengan kecepatan sedang diatas jalanan aspal. Mengarah kearah rumah besar.
Sesampainya didepan rumah besar, Aletaa segera keluar dari dalam mobil, dan mobil Eric kembali melaju untuk pergi ke pelabuhan yang sudah diberi tahukan David.
Perlahan gadis itu berjalan masuk kedalam halaman. Nampak kakek dan yang lainya sudah menunggu didepan pintu.
"Mana ayah dan ibumu?." tanya kakek saat Aletaa sudah ada didepan-nya.
Aletaa berpikir sejenak, Eric bilang jangan memberi tahu kakek apapun. "Ayah dan ibu mengundur keberangkatan-nya." sahut Aletaa beralasan.
Dia bohong lagi, sudah teralu banyak kebohongan.
__ADS_1