
Jam-jam berlalu begitu saja, Eric nampak masih setia menunggu Aletaa didepan ruang oprasi.
Nampak guratan kekecewaaan di wajah tampan pria itu, harusnya yang menjadi sasaran para penipu itu dirinya, semua ini tak ada sangkut pautnya dengan Aletaa.
Mengingat dari hasil penyelidikan polisi tadi sore, dua orang paruh baya yang tadi mencelakai Aletaa adalah saingan bisnisnya Eric. Jadi seharusnya ia yang sekarang ada dalam posisi Aletaa, Aletaa tak pantas merasakan semua rasa sakitnya.
Tak berapa lama, lampu ruang oprasi berubah hijau, menandakan oprasi kecil di paha Aletaa sudah selesai dilakukan.
Eric segera bangun dari posisi duduknya, menunggu Aletaa dikeluarkan dari dalam ruangan.
Beberapa menit kemudian, gadis yang masih tertidur diatas brankar itu dikeluarkan dari ruangan oprasi, terus dibawa untuk dipindahkan ke ruang rawat biasa.
Dari awal pemeriksaan, Eric tak pernah melepaskan perhatian-nya dari sang istri, gadis kecil yang tak pantas menanggung rasa sakit yang harusnya menimpa dirinya.
"Tunggu beberapa jam lagi ya pak, kami tadi sempat menyuntikan obat tidur dosis rendah untuk membantu bu Aletaa beristirahat, jadi tak usah terlalu khawatir kalau bu Aletaa tak juga siuman." ucap seorang preawat sebelum keluar dari ruangan.
Eric mengangguk paham, apa yang dialami Aletaa hari ini begitu berat, jadi biarkan Aletaa beristirahat sejenak.
__ADS_1
***
Beberapa hari kemudian.
Tak terasa 2 hari sudah Aletaa menjadi pasien di rumah sakit, kini keadaan gadis itu sudah mulai membaik, hanya saja Aletaa sering kali meringis kesakitan saat mencoba menggerakan sebelah kakinya.
Sengaja Eric membuat Aletaa dirawat beberapa hari dirumah sakit, pria itu begitu khawatir saat melihat jahitan bekas oprasi sedikit terbuka, jadi Eric memutuskan untuk merawat Aletaa dirumah sakit sampai lukanya mengering.
"Aku inging segera sampai dirumah, rasanya kangen gak lihat Dion beberapa hari." ucap Aletaa.
Eric yang masih sibuk memasukan barang-barang Aletaa kedalam tas hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya. Walaupun sedang dalam keadaan kurang baik, yang dipikirkan gadis itu selalu saja kakek dan juga Dion, tak pernah sekalipun Aletaa memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
Beberapa pelayan Eric suruh untuk memasukan barang yang sudah dikemas kedalam mobil. Sedangkan pelayan lain-nya ia suruh untuk mendampingi Aletaa sampai didalam mobil.
Penjagaan dilakukan dengan sangat ketat, Eric tak mau jika istrinya terluka lagi.
Kurang dari 30 menit, mobil yang membawa Eric dan Aletaa akhirnya sampai didepan rumah besar.
__ADS_1
Para pelayan berhamburan keluar dari dalam rumah untuk menyambut kedatangan sang majikan yang beberapa hari ini dirawat dirumah sakit.
Tangis haru pecah saat Aletaa memeluk satu-persatu pelayan yang sudah ia anggap selayaknya keluarga sendiri.
Namun langkah Aletaa terhenti saat ia berada tepat didepan pintu, dua orang yang begitu asing baginya berdiri tepat disana.
Dahi gadis itu berkerut, "Bukankah mereka?." gumam gadis itu saat mengingat-ingat dua orang asing yang rasanya pernah ia lihat.
"Mereka ayah dan ibu." bisik Eric yang berada tepat dibelakang Aletaa.
Tangis haru tak kuasa lagi dibendung, begitu saja tumpah membasahi pipi Aletaa yang nampak kemerahan. Ayah dan ibu perlahan mendekat kemudian memeluk tubuh Aletaa.
"Inikah Aletaa yang sering kau bicarakan Ric?." tanya ibunya Eric sambil mengelus punggung menantunya lembut.
Eric mengangguk.
"Dia jauh lebih cantik dari yang sering kita lihat di foto." timpal ayahnya Eric sambil ikut mengelus pucuk kepala menantunya.
__ADS_1
Ayah dan ibu Eric tahu betul pengorbanan apa yang selama ini sudah Aletaa berikan pada putranya, menikahi Eric tak semudah yang dipikirkan.
Ayah dan ibu Eric sangat bangga, apalagi saat mengingat keadaan Eric yang alergi pada sentuhan seorang wanita.