Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
jodoh?


__ADS_3

Cukup lama mereka menunggu disana, Aletaa masih senang memilah dan memilih menu yang tersedia.


Sedangkan Eric hanya diam sambil kedua bola matanya mengamati sekeliling. Pria itu tak hentinya bergidik saat melihat keadaan disekitarnya, masa ia sultan makan disini?.


Tiba-tiba terdengar klakson dari arah jalanan, nampak mobil pribadi David menunggu di tepi jalan. Akhirnya Eric bisa bernafas lega. "David sudah datang." tutur Eric sambil menarik tangan istrinya.


Aletaa yang tertarik terus saja memberontak, "Lepaskan, aku ingin makan!." seru gadis itu sambil terus memberontak.


"Kita makan itu di rumah ya, orang rumah pasti bisa bikin yang lebih enak dari pada itu." bujuk Eric sambil tangan-nya masih menarik Aletaa.


Seketika Aletaa menangis kencang, dia ingin makan bakso di tempat itu, tapi mengapa ini harus terjadi?, rasanya tuhan itu tak adil.


Dengan susah payah Aletaa memberontak, tapi sayang tenaganya tak cukup banyak, pergerakan-nya juga harus benar-benar ia jaga, mengingat sultan kecil kini ada dalam rahimnya.


Pada akhirnya Aletaa kalah, gadis itu didorong masuk kedalam mobil, setelah masuk pintu segera di kunci agar Aletaa tak bisa melarikan diri.


"Kau jahat, jahat!." gadis itu terus saja berteriak sambil menangis sekencang mungkin, tangan-nya tak henti memukul-mukul dada bidang Eric.


Sedangkan Eric hanya bisa pasrah, mau bagaimana lagi, dia benar-benar tak mau makan di tempat seperti itu. Cuman menuruti keinginan Aletaa pun dia tak bisa, Eric takut terjadi sesuatu pada bayinya. Jadi biarkan dia terus disiksa dan dihujani banyak pukulan istri nakalnya.


"Dengarkan aku, tempat itu tak higienis. Kita cari tempat lain saja ya, tempat yang indah dan terjamin kebersihan-nya." tutur Eric menenangkan. Pria itu segera memeluk Aletaa lalu membawanya kedalam pelukan hangat pria itu.

__ADS_1


Sekali lagi Aletaa memberontak, "Kurang higienis bagaimana?, jelas-jelas tempat itu bersih." sahut Aletaa, gadis itu tak terima kemauan-nya dibantah.


"Pak jalan saja." tutur Eric pada supirnya, daripada dia diam disana, malah menambah kesedihan Aletaa yang tak di izinkan makan ditempat itu. Lebih baik mereka segera pergi.


Semoga saja, Aletaa bisa melupakan-nya.


Baru jalan beberapa meter, Aletaa segera berteriak."Jangan jalan!." seru Aletaa menghentikan sang supir. Seketika sang supir mengerem mobilnya.


"Kenapa berhenti pak, jalan!." titah Eric lagi, sang supir hanya mengangguk sambil bersiap untuk melajukan kembali kendaraan-nya.


"Jangan!." seru Aletaa, gadis itu mencoba membuka kunci pintu, namun sayang, Aletaa tak tahu letak kunci pintu disebelah mana.


Saat Aletaa lengah, Eric segera menarik tubuh istrinya, memeluknya agar tak bisa berbuat apa-apa. "Jalan!." tutur pria itu.


Beberapa saat kemudian, tak ada lagi tangis Aletaa, keadaan dalam mobil menjadi hening. Aletaa nampak tertidur pulas diatas pangkuan Eric, air mata tadi telah membuat Aletaa tak berdaya "Menurutmu apa aku melakukan hal yang benar tadi?." tanya Etic meminta pendapat pada supirnya. Eric merasa kalau tadi perlakuan-nya pada Aletaa terlalu keras.


"Menurut saya, anda sudah benar tuan, itu semua anda lakukan bemi keselamatan nyonya. Hanya saja saya merasa anda kurang benar dalam menangani mood nyonya yang sering berubah-ubah." sahut sang supir.


"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?." tanya Eric lagi.


"Menurut saya, anda bisa membawa nyonya jalan-jalan, mungkin nyonya jenuh karna selalu berdiam diri di dalam rumah. Mengingat dulunya nyonya adalah seorang pramugari, jadi dia pasti sangat rindu dengan masa lalu nya itu." supir kembali memberi pendapat.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa tahu Aletaa dulunya pramugari?." tanya Eric.


"Keseharian nyonya Aletaa pasti selalu ditemani oleh kami para pelayan-nya, nyonya sering banyak bercerita tentang masa lalunya pada kami." sahut sang supir.


Eric melongo, bagaimana mungkin orang yang hanya sebatas pelayan bisa tahu masa lalu nyonya mereka, namun kenapa Eric baru tahu beberapa hari yang lalu. Apa yang salah dengan Eric.


Lama pria itu terdiam, matanya terus saja menatap wajah cantik sang istri. "Maafkan aku sayang, setelah ini aku akan berusaha lebih baik lagi." tutur Eric, pria itu segera menjatuhkan sebuah kecupan di dahi sang istri.


Supir yang ada di depan hanya bisa menekan bibirnya dalam-dalam, ini kali pertamanya melihat keromantisan majikan-nya.


Terdengar helaan nafas berat Eric. "Apa kau sanggup punya istri seperti ini?." tanya Eric pada supirnya.


"Sepertinya saya tak sanggup tuan, hanya anda yang mampu menghadapi nyonya." sahut sang supir sambil sedikit tertawa.


Mengingat tingkah dan prilaku Aletaa selalu ada diluar dugaan, moodnya yang suka berubah-ubah setipa saat, siapa yang bisa tahan?.


Hanya Eric yang bisa menerima hal itu, mereka benar-benar diciptakan untuk saling melengkapi. Aletaa ada untuk menjadi penawar bagi Eric, begitupun sebaliknya, Eric ada untuk melengkapi hidup Aletaa.


Apa ini benar yang dinamakan jodoh?.


***

__ADS_1


Maaf semuanya author baru up, kemarin itu adalah hari-H pelaksanaan semua rangkaian acara. Jadi author kemarin bener-bener sibuk.


__ADS_2